Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2018

Pesan di Kotak Draft

Posted by nofi.hidayanti at April 13, 2018 0 comments
Ada banyak pesan yang akhirnya tidak pernah terkirim ke pemiliknya. Tak cukup banyak keberanianku yang tersisa. Maka kubiarkan habis pada saru pesan yang ada. Satu pesan itu, kira-kira seperti ini bunyinya:
Pada suatu senja, ingin kuajak kamu duduk di suatu taman. Hanya duduk. Benar-benar cukup dengan duduk. Diam. Mendengarmu bernafas. Melihatmu terpejam. Lalu ketika akhirnya kamu bangun, aku akan bacakan satu puisi.
"Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu menelponku manja, bilang cinta, ingin cepat berjumpa. Lalu merajuk bila aku tinggal di balik gagang telepon. Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu mengirim pesan mesra, sekedar bertanya kopi apa yang aku suka, atau bagaimana kabar hari Selasa. Juga menjadi yang pertama dan terakhir memelukku dari jauh dengan satu kata.  Menjadi yang paling suka cerita dari siapa yang kamu temui di kereta, hingga makan siangmu yang banyak nasinya. Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu dengan bahagia menggenggam kedua tanganku ketika kita berjalan di pinggir ibukota. Benar-benar berhenti berbagi tawa dengan wanita, dan memutuskan tertawa gila hanya berdua. Menjadi yang paling hangat hanya untuk satu wanita saja. Tentu saja. Tentu saja menantikan semuanya."
Aku kembali diam sejenak. Kulihat wajah senjanya dalam-dalam. Menunggu jawabannya. Dia hanya tersenyum. Kubayar lagi dengan sebuah kecupan manis di pipi kanannya, sambil berbisik.
"Tentu saja. Diantara semuanya, tetap kamu yang paling kunantikan. Cukup dengan kamu. Tak mengapa tak ada telepon suka cita. Tak mengapa tak ada pesan mesra. Tak mengapa ada wanita yang membuatmu juga ceria. Tentu saja. Kamu paling yang kunantikan."
Setelah membaca satu pesan di draft itu, aku benar-benar tersenyum gila.  Kuputuskan mengirimnya. Lalu membuang nomor ponselku. Setidaknya kini, pesan itu telah diterima oleh pemiliknya.

Jumat, 23 September 2016

Lensa Kotak (Konsep)

Posted by nofi.hidayanti at September 23, 2016 0 comments
Lensa Kontak

Apakah kenyamanan perlu dilihat? Tak bisakah kita merasakannya dengan hati saja; jangan biarkan ada tatapan tajam di antara kita. Jangan pernah biarkan. Cukupkan saja dengan hati. Jangan biarkan matamu yang berbicara.

Saya hampir meloncat ketika alarm mengelus telingaku kasar. Kapan ia akan berhenti melakukan hal itu? Saya muak mendengarnya celoteh tentang sudah jam berapa ini, sampai kapan saya akan bermimpi dan menelenjangi guling kumel di kasur ini? Dan saya sumpel mulutnya lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Cermin besar yang kokoh di tembok itu seakan meledek si mata sayu. Ia berkata lantang, pria kaya mana yang mau menatap mata sayu seperti itu? Lalu mata itu membalas, "kau tunggu saja, cermin sejelek dirimu akan kuganti dengan cermin bertatahkan emas hasil jerih payah malam ini". Saya biarkan air dingin itu membasahi seluruh wajah, lalu berlanjut hingga seluruh tubuh. Tak bisa saya buang waktu lebih banyak. Itu adalah sisa-sisa harta yang saya miliki. Semenit kemudian saya bergegas berpakaian. Duduk, menyapa kotak makeup besar berwarna merah maroon itu. Saya siapkan sepasang lensa kontak berwarna cokelat tua itu. Yang semakin cokelat di tengahnya. Yang semakin tua dipinggirnya. Yang semakin perih, perih, dan perih ketika saya gunakan. Oh Tuhan, tak bisakah kau berikan saja saya mata normal? Muak aku dengan sepasang alat penyiksa ini. Atau... Oh Tuhan, tak bisakah kau berikan saja saya segepok uang? Biar saya suntik kedua mata minus ini. Saya mencoba menahan nafas dalam hingga hilang semua pedih itu. Lalu bergegas pergi.
Malam ini, saya harus tahan nafas lebih dalam. Asap rokok juga dinginnya hembusan pendingin ruangan, secara bersamaan telah menjadi racun bagi kedua mata saya. Seperti tak ada gunanya lagi sepasang kontak lensa ini. Tak ada yang bisa saya lihat. Tak ada yang bisa saya saksikan. Hanya asap yang semakin membuat ruangan itu sesak. Ah, benar-benar tak ada gunanya lagi sepasang kontak lensa ini.

Rabu, 07 September 2016

Jatuh Sejatuh Jatuhnya

Posted by nofi.hidayanti at September 07, 2016 0 comments
Kita semua pernah dibuat jatuh karena cinta, mencinta, dan dicinta oleh seseorang yang tak pernah diduga. Rasanya bagai jutaan doa dijawab Tuhan dalam satu kata. Cinta. Kita semua pernah dibuat jatuh sejatuhnya dan rela semakin jauh jatuh karenanya. Hingga tak lagi kau lihat luka. Bagimu hanya ada dia. Kita semua pernah dibuat lepas tertawa dan tersenyum bahagia, tak memandang lagi derita. Bagimu benar-benar hanya ada dia.
Jatuh karena cintanya, adalah jatuh sejatuhnya yang tak melukaiku. Karena tak lagi kutemukan dimana kesedihan di musim lalu. Karena tak ingin lagi kubuka kisah yang telah melaluiku. Jatuh karena mencintainya, adalah jatuh sejatuhnya yang ingin terus kualami. Karena tak mampu aku menahan ribuan kupu-kupu memenuhi dada ini. Sesak karena mereka terus menahanku untuk tidak pergi.

Sabtu, 03 September 2016

Secangkir Kopi

Posted by nofi.hidayanti at September 03, 2016 0 comments
"Baiklah, secangkir saja. Kopi tanpa gula. Biar kurasakan sepahit apa rasanya. Biar tak mampu lagi kurasakan luka."
Kataku pada pelayan laki-laki yang terus berdiri di sampingku.
Ia hampir limabelas menit di sana, hanya memandangku melihat buku menu. Yang terus kubolak balik. Lihat buku menu sebentar, memandangnya terkadang. Tapi ia tetap tak bersuara. Hanya pandangan kosong berharap aku segera memesan sesuatu.
Kumohon katakanlah sesuatu. Ku lemparkan senyum sembari memandangnya.
"Bukankah hidup memang sepahit kopi?". Dia tak juga bersuara. Tak menjawab. Hanya tersenyum, lalu permisi dan berlalu ke dalam bar nya.
Sepuluh menit aku menunggunya kembali. Tapi serasa satu musim telah melaluiku. Aku melihat kesekitar. Mencari sesuatu. Nanar. Atau berusaha menemukan sesuatu? Kesempatan kedua misalnya?
Pelayan pria itu kembali lagi padaku. Serasa satu musim telah menghampiriku.
"Hidup memang pahit. Tapi ada banyak yang mampu membuatnya lebih manis. Seperti kopi, kau tambahkan gula bila kau suka. Kau berikan susu bila kau mau. Sekotak es batu pula bila kau ingin. Jadi saya setuju hidup seperti kopi."
"Begitu kah?"
"Ya."
"Jadi menurutmu, hidupku adalah kopi yang seperti apa?"
"Kopi yang terlalu manis hingga menjadi pahit. Kau harus tahu kapan harus mengurangi kadar manismu. Atau berhenti menambahkan bubuk kopiku."
Aku hanya tersenyum sambil memalihkan pandanganku ke secangkir kopi di mejaku.
Hitam. Kuseruput pelan-pelan. Dia dengan cepat berjalan ke arah meja bartender di belakangku. Memandangku. Sedikit tersenyum. Atau sinis melihatku? Lalu berlalu, serasa satu musim telah meninggalkanku.
Hampir setiap sore aku berkunjung ke bar ini. Di jam dan detik yang sama. Satu tempat kosong selalu ia siapkan untukku. Atau mungkin itu hanya kata egoku saja. Dan pria tinggi bertubuh putih sedingin pualam itu, adalah orang yang sama yang selalu memberikan kopi kepadaku. Rasanya tak pernah berubah. Masih hitam. Pahit. Kelam. Aku masih menantikan kopinya berubah manis. Aku masih menantikannya, serasa satu musim yang aku harapkan.
Kuseruput kembali kopi buatannya. Yang semakin kelam setiap seruputannya. Antara aku dan si pembuat kopi; Tak perlu banyak bicara. Kata seperti tak mampu lagi mewakili rasaku padanya. Dan kata seperti tak mampu lagi mewakili dingin dan kelam dendamnya padaku. Keseruput kembali kopi buatannya, hingga tak ada lagi yang tersisa. Kubangkit dari tempatku lalu berjalan ke arah bartender. Secarik kertas kuberikan padanya.
"Ini pesanku yang terakhir untuknya, kumohon, kali ini saja biarkan dia membacanya". 
Kubangkit dari tempat bartender lalu berjalan ke arah pintu.  Dalam setiap langkahku ke luar dari bar itu, kulantunkan doa untuk kesempatan kedua. Setidaknya memperbaiki kesalahan yang terlanjur kebuat padanya. Tiap rintihan doaku itu akhirnya yang mengantarkanku ke depan bar. Lalu, Aku masih menantikan kopinya berubah manis. Aku masih menantikannya jatuh mencintaku untuk yang kedua kalinya, serasa satu musim yang aku harapkan.
"Untuk pembuat kopi setiaku.
Sudah satu musim aku menyeruput kopimu. Yang semakin kelam setiap kali aku seruput. Hitam. Penuh luka juga amarah. Aku jadi bertanya-tanya, lalu berfikir. Apakah bubuk kopi yang kupesan terlalu banyak? Tak bisakah gula menghilangkan pahitnya? Tak bisakah sekotak esbatu mencairkan lukanya?
Sudah banyak musim kita lalui sebelumnya. Kadang secangkir kopi pahit yang semakin hitam. Kadang secangkir susu yang semakin manis ujungnya. Lalu, tak bisakah aku pesan secangkir kopi manis kali ini? Untuk mengobati luka juga amarahmu pada gagalnya cinta kita. Maafkan aku untuk bubuk kopi yang terlalu banyak kupesan di kehidupan sebelumnya.
Untuk pembuat kopi setiaku, aku merindukanmu, aku masih mencintaimu. Aku akan tetap di sini, menantikan secangkir kopimu. Penuh dengan gula, penuh dengan sekotak esbatu. Jangan biarkan ada hitam. Jangan biarkan ada kelam."

Jumat, 22 Juli 2016

Stiletto Tinggi

Posted by nofi.hidayanti at Juli 22, 2016 0 comments
Bulan belum juga puas menunjukkan pesonanya. Sinar, juga cantiknya dalam gelap. Tapi matahari telah sombong menggantikan sosoknya. Dia tersenyum ketika melihat gadis-gadis kecil itu dengan matanya yang masih mengantuk, harus berlomba mendapatnya kursinya. Ada yang sedikit berlari masuk ke peron-peron stasiun kota dengan kaki yang terasa begitu berat. Telapak mereka memerah, merekah, kemudia membiru dan membengkak. Bekas-bekas stiletto berhak 7 senti, mungkin 12 senti, tertinggal dalam di telapak mereka. Yang semakin dalam setiap kali kaki mereka bergerak. Yang semakin dalam setiap kali kaki mereka menahan tubuhnya. Yang semakin dalam dan dalam dan dalam setiap detiknya.

Teng!!! Jam dinding sebesar rembulan itu menujukkan pukul 7. Terlalu pagi untuk gadis pemuja malam  ini bergegas bangun. Mandi, mandi, ritual bersetubuh dengan air yang rasa dinginnya menusuk sampe dia ingin tidur lagi saja. Solek, bersolek, mengambil peran sebagai perempuan manis dan menawan untuk menyenangkan hati bos besar. Semprot parfumnya di sana, di sini, tutupi semua bau busuk sisa-sisa minum semalam. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Dia sedikit berlari masuk ke peron-peron stasiun kota dengan kaki, dan tubuh, yang terasa begitu berat. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Telapak kakinya memerah, merekah, kemudian membiru dan membengkak. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Bekas-bekas stiletto berhak 7 centi, mungkin 12 senti, tertinggal dalam di telapaknya. Yang semakin dalam setiap kali kakinya bergerak. Yang semakin dalam setiap kali kakinya menahan tubuhnya. Yang semakin dalam dan dalam dan dalam setiap detiknya.

Gadis pemuja malam itu akhirnya menang dalam pertempuran. Ia duduk lesu diantara pemenang lainnya sambil memejamkan matanya lelap. Semakin lelap hingga ia terbawa dalam mimpinya. Ia sedang berdiri tegap di depan sebuah meja besar. Berbentuk setengah lingkaran, yang mampu menutup setengah tubuhnya. Kakinya sudah kepalang gemetar menahan setiap piluh yang ingin teriak kalau mereka bisa. Garis biru dikedua telapak kakinya seakan berkata, "Bebaskan aku dari sini". Stiletto 12 senti berwarna merah mawar itu seakan bergigi runcing dan siap menelan sesenti dua senti garis biru dikedua telapak kakinya. Lalu gadis pemuja malam itu hanya bisa memasang senyum pada satu, dua, tiga, empat, mungkin sepuluh bos yang duduk dengan santai di hadapannya. Sepatu mereka datar. Tidak beruncing. Tidak 12 centi. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kaki sepuluh bos. Sedetik kemudian, ketika para bos keluar dari ruangan itu, atau lebih seperti neraka baginya, ia bisa bernafas panjang. Dilepaskannya stiletto 12 senti itu, berharap ia bisa bebas dan menjauh selamanya dari pembunuh garis kakinya. Lalu melompat bebas, bebas karena kaki-kakinya bisa kembali menyentuh bumi.
Ia kembali dibawa kepada mimpi buruk lainnya. Sekarang ia ada di sebuah ujung tangga. Di tangannya ada satu tumbuk file yang harus di tanda tangani satu, dua, tiga, mungkin sepuluh bos. Lift kantornya mati di saat yang tepat. Ia kembali menarik nafas panjang dan memulai mengangkat kakinya. Stiletto 7 senti berwarna maroon sudah menampakkan gigi runcingnya lalu tertawa kencang sambil menatapnya. Ia teriak dan dibangunkan di mimpi lainnya. Kini ia sedang berdansa dengan seorang teman lelaki yang ia kenal lewat pesta. Stiletto 7 senti berwarna merah muda sudah berada di kedua kakinya. Ini adalah pesta pernikahan teman baiknya, atau harus ia anggap seperti itu. Ia mengenakan gaun berwarna senada dengan pilihan tampilan wajah super hits khas perempuan kota. Disebarkannya senyum itu, sambil menahan pegal di kakinya. Ia harus tampil sempurna, semua melihatnya. Ia berdansa, semakin dalam hingga lupa kakinya tak lagi mengingat bumi. Kakinya telah lupa, pada siapa ia harus bersama. Lalu yang ia ingat kemudian, tubuhnya sudah di bumi. Stiletto itu tidak menelan kakinya, tapi melempar kakinya keluar hingga jauh darinya.
"Teng!!!" ia terbangun dari perjalanan mimpi panjangnya. Tapi itu seperti kenyataa buruk yang ingin ia buang jauh-jauh. Sepatu flat rata sudah manis di kakinya. Ia tidak beruncing. Tidak 12 senti. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kakinya. Sepatu flat itu tersenyum lalu menemani langkahnya keluar dari gerbong kereta. Stiletto yang telah melempar kakinya keluar hingga jauh darinya, terjauh, terpuruk, telah ia lupakan semenjak ia terbangun dari mimpinya. Ah, itu bukan sekedar mimpi. Itu benar-benar kenyataan buruk yang ingin ia buang jauh-jauh.

Senin, 01 Desember 2014

Kisah Klasik Perempuan

Posted by nofi.hidayanti at Desember 01, 2014 0 comments
Saya baru saja meletakkan tas gendong penuh milik saya ke dipan ketika Ibu masuk terburu-buru. Ia sedikit berteriak ketika menyebut nama saya. Saya menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengiyakan semua celotehannya.
“Kenapa kamu suka sekali pulang terlambat? Cepat ganti bajumu. Makan habis sisa makanan di meja makan, lalu pergi cuci semua piring kotor. Ibu sudah tua, tak sanggup lagi mengurus rumah ini seorang diri. Satu bakul pakaian sudah ibu cuci. Tugasmu melanjutkan menjemurnya di halaman belakang”.
“Baik, bu.”
Tak lama kemudian, kakak tertua saya, Mas Andi, datang dengan pakaian lusuhnya. Wajahnya tampak ceria. Saya menduga-duga, dia baru saja bermain bola sepak di lapangan yang tak jauh dari sekolah. Apalagi seragam kotor karena tanah.
“Andi...Andi...Ayo lekas makan. Setelah ini bantu Bapak di ladang.”
“Baik bu.” Wajahnya terlalu ceria.

Sabtu, 01 November 2014

Tubuh 31 Tahun

Posted by nofi.hidayanti at November 01, 2014 0 comments
Mereka menyebut saya dengan nama Mira, kependekan dari “Mirror” katanya. Sepasang manusia yang hidup tanpa nama cinta itulah yang memberikan saya nama Mira. Kata mereka, kelak saya mencerminkan kecantikan  saya di ribuan cermin, membiarkan oranglain terpesona akan  saya. Konyol.
Mereka benar. Saya senang bercermin. Saya akan mengingat pandangan mereka yang menatap mesum ke arah saya setiap saya berjalan ke arah mereka. Mereka mungkin mengira saya masih dua puluhan. Padahal kini usia saya menginjak angka tiga puluh satu. Momok menakutkan bagi para wanita bila bertemu angka tersebut. Akankah saya tetap cantik? Bagaimana tubuh saya? Ah, manusia. Perempuan.

Selasa, 26 November 2013

Geguritan: Loro Iku Luwih Apik Tinimbang Dhewe

Posted by nofi.hidayanti at November 26, 2013 0 comments
Amargi saben bab ingkang panjenengan lakoni,
Kaliyan ukara ingkang pitutur,
Ingkang ngertos kabeh adamêl kula seneng.
Ingkang kelingan kabeh warna rupamu,
Cara panjenengan ngedepaken mripatmu
Rasa panjenengan, adamel kula kangelan ambegan
Amargi kolo ingkang nutup mripat kaliyan hanyutan,
Ingkang kelingan panjenengan kaliyan kabeh mantun
Saiki wekasanipun ingkang percaya.
Kadosipun leres, ingkang mboten saged urip tanpa panjenengan
Kadosipun loro luwih apik tinimbang dhewe
Taksih enten kabeh wektu kagem sisa uripku,
Kaliyan panjenengan sampun adamel kula nyanggah aken
Kaliyan ingkang pikir loro iku luwih apik tinimbang dhewe.

Rabu, 20 November 2013

DONGENG ANAK; Putri Eugenie

Posted by nofi.hidayanti at November 20, 2013 0 comments
Jutaan rasa syukur saya panjatkan atas penciptaan satu karya lagi. Ini adalah dongeng anak pertama yang saya tulis. Awalnya dongeng anak ini diciptakan dengan tujuan memenuhi tugas mata kuliah penulisan kreatif. Dan karena tugas ini pula saya mengenal satu jenis lagi karya sastra. Rasanya menarik untuk mendalami dongeng anak lebih dalam lagi :) Selamat membaca! Love, xoxo

Rabu, 13 November 2013

Hujan Di Kota Perantau

Posted by nofi.hidayanti at November 13, 2013 0 comments
Kehidupan saya sebelumnya normal dan bahagia, seperti remaja 18 tahun yang lainnya. Keluarga saya kecil, hanya ada ayah, ibu, dan adik perempuan saya Dee. Kehidupan yang sungguh indah. Paling-indah. Tiada hari yang saya lewatkan tanpa kehadiran mereka. Bersama mereka, saya merasakan kehidupan yang lengkap dan seutuhnya. Ayah dan ibu selalu bersujud untuk kesuksesan saya, mengorbankan seluruh hidup melelahkan mereka demi saya. Puji syukur karena Tuhan telah memberikanku kebahagian lain lewat ibu dan ayah. The best parent ever. Dan tak perlu kau tanyakan besar rasa cinta saya kepada mereka. 
Alicia, itu nama saya. Saya teramat mencintai hujan. Bagi saya aroma hujan adalah aroma termewah dari surga. Saya sudah menggilai rasa itu, entah sejak kapan. Saya juga tergolong gadis yang manja dan senang bila mendapat perhatian berlebih dari orang-orang disekitarnya. Rasanya wajar dan normal-normal saja, saya masih 18 tahun. Tapi kecintaan saya akan hujan berubah sejak saya dihadapkan kepada keputusan untuk menyelesaikan pendidikan S1 saya di kota yang jauh dari keluarga dan sahabat. Kota perantau mengantarkan saya kepada pintu kehidupan yang lain, yang belum pernah saya jalani sebelumnya. Kota perantau lah yang merubah saya. Saya tak lagi menyukai hujan. Atau lebih tepatnya saya membenci hujan di kota perantau. 

Rabu, 23 Oktober 2013

Cerpen Pertama; DESEMBER!

Posted by nofi.hidayanti at Oktober 23, 2013 0 comments
Ini adalah pengalaman pertama saya menulis sebuah cerita pendek sampai akhir. Sebelumnya memang pernah, tapi selalu berhenti dan gugur di tengah jalan hehehe cerita pendek saya ini merupakan tugas ujian tengah semester untuk mata kuliah Penulisan Kreatif di semester lima ini. Singkat cerita, Desember menceritakan pengalaman seorang gadis bernama Emilia yang memiliki masa lalu kelam bersama ayahnya. Ia diperkosa saat usianya menginjak angka sepuluh. Empat tahun kemudian ia hamil dan melahirkan gadis mungil bernama Luna. Cerita pendek bertema feminisme menjadi pilihan saya kali ini. Semoga saya diberikan inspiratif lebih untuk menulis cerita-cerita lainnya. Selamat menikmati my first short-story! 

Sabtu, 17 Desember 2011

Gubuk Kenangan

Posted by nofi.hidayanti at Desember 17, 2011 0 comments
Gubuk kenangan itu terus berdiri tak pernah tergerus oleh zaman. Letaknya masih di pusat kota Jakarta, kota yang kata banyak orang sekejam ibu tiri. Gubuk itu tetap ada. Bangunannya tak banyak perubahan, masih berlantaikan ubin dingin dan dinding yang rapuh. Aku bisa melihat kondisi di dalamnya lewat celah-celah yang dibuat oleh waktu dan serangga nakal. 
Di ruang tamu, ku saksikan sebuah meja besar dari kayu jati. Di sekelilingnya berdiri reyot beberapa kursi yang terbuat dari anyaman kayu. Dan terpajang lukisan hitam putih sesosok ibu muda yang menawan, ibuku. Sungguh klasik. Memasuki gubuk lebih dalam, ada sebuah ruangan yang sempit, tempat beristirahat kedua orangtuaku saat datangnya malam. Tempat tidurnya yang tidak terlalu besar dengan kasur dan sprei yang tampaknya sudah termakan oleh zaman. Adapula lemari kayu di sudut kanan ruangan ini.

Kematian

Posted by nofi.hidayanti at Desember 17, 2011 0 comments
Langit terasa semakin gelap. Dinginnya senja menusuk hingga ke relung jiwaku. Hitamnya pakaian mereka semakin menambah suasana horor, mencengkam. Ingatanku tentang dirinya semakin kuat berputar. Kecelakaan malam itu telah mengubah semuanya. Arena balapan liar pun berubah menjadi parade setan. Ramai sorakan berganti derai air mata. Piala penghargaan di balas sepucuk surat kematian. Dengan mata ku sendiri, ku melihat semuanya. Begitu cepat, begitu mengenaskan. Tangisku kembali pecah, menggelegar. Aku benar-benar tak mampu menahan hasrat untuk memeluknya, mencium keningnya, mencumbu bibirnya, menggenggam erat kedua tangannya...

Kamis, 06 Oktober 2011

Super Freak Man's Love

Posted by nofi.hidayanti at Oktober 06, 2011 0 comments

Pagi ini terasa berbeda. Matahari tak menampak dirinya seperti biasa. Udara dingin menyelimuti tubuhku yang tinggi, dan sekumpulan awan hitam mengelilingi si mentari. Menambah suasana yang kelam. Tampaknya akan didera hujan. Ah tak peduli…. Aku tetap saja berlari kecil menuju kampus. Aku ada kelas jam 7, kuliah filsafat. Jam di tanganku menunjukkan pukul 6. Memang masih terlalu pagi. Tapi sudah menjadi kebiasaanku datang lebih awal, meskipun kostanku hanya berjarak puluhan meter.

 Ku percepat langkahku. Tak ingin rasanya buku-buku tebal yang kubawa hancur karena rintikan hujan. Sudah susah payah aku menyisihkan setiap uang jajanku untuk sekedar membeli ilmu. Jangan sampai hilang sia-sia dibawa air.

Minggu, 20 Februari 2011

Sekolah Untuk Semua

Posted by nofi.hidayanti at Februari 20, 2011 0 comments
Di sebuah desa terpencil didaerah Jawa Barat, bernama desa Sukamandi, berdirilah sebuah Sekolah Menengah Atas yang sederhana dengan nama yang sama seperti desanya. Hanya berlantai dua dengan fasilitas seadanya. Lapangannya pun hanya beralaskan tanah merah. Penghuni sekolah ini berasal dari warga sekitar dengan latar belakang yang berbeda. Ada siswa bernama Vegga Alasta yang bapaknya tidak lain adalah kepala desa Sukamandi. Adapula Satria Dewantara yang ayahnya seorang pemilik ternak sapi di desanya dan seorang gadis berparas cantik Tiara, ibu sukses membuka butik di kota. Dan murid lainnya dengan berbagai latar belakang keluarganya. Tapi lain kisah dengan Gabriel, anak seorang buruh tani dan tukang cuci dengan upah yang tidak mencukupi.

 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos