Rabu, 09 Juli 2014

Rindu Terdalam

Posted by nofi.hidayanti at Juli 09, 2014 0 comments
Dear my love, mom dad sis bf and my boy....
Kulampirkan post ini sebagai wujud rinduku kepada kalian. Entah sejak kapan, aku merindukan kalian. Setiap detik berjauhan membuatku sadar begitu aku membutuhkan kalian. Belum lagi pesan yang setiap waktu mama lampirkan. Ketika dia berjanji akan membuatkanku Lasagna yang lezat. Ada rindu dan sedih yang terlukis dari setiap katanya. Mah, kau tahu aku juga merindukanmu.
Bahkan mimpi-mimpiku menyatakan hal yang serupa. Kini, hampir setiap malam mama dan bapak hadir dalam mimpiku. Pertama, aku bermimpi mama mengunjungiku lagi ke sini. Beberapa hari. Dan ketika hari kepulangan tiba, mama justru tak tahu jam kepulangannya. Ia telat dan tertinggal kereta sampai harus menemaniku lebih lama di perantauan.
Kedua, aku bermimpi pulang ke Jakarta. Lalu aku pergi berbelanja bersama mama, bapak, dan adik. Aku merengek dibelikan mug princess kepada mama.
Apa pertanda semua ini? Aku merindukan mereka ya Allah. Apalagi ditengah bulan Ramadhan seperti ini. Biasanya aku selalu bersama mereka.
Keluargaku yang tercinta, kuharap Allah selalu menjaga dan melindungi kalian. Kuharap kalian sehat selalu. Kuharap akan segera datang hari kepulanganku itu. LOVE

Jumat, 04 Juli 2014

Mamma

Posted by nofi.hidayanti at Juli 04, 2014 0 comments

Kutitipkan lembaran surat ini kepada Mama, sebagai bentuk kerinduan yang teramat sangat....
Dear Mama,

Mungkin ini yang sebenarnya dirasakan oleh orangtua terutama seorang ibu. Risau, gelisah, dan menahan sedih. Bagaimana bisa seorang ibu bisa duduk diam dan tenang, ketika gadis kecil yang biasanya ia temani selama Ramadhan, berada jauh di sana. Sendiri. Tanpanya. Bagaimana? Pertama kalinya dalam duapuluh satu tahun, si ibu harus mengambil jarak dengan putrinya. Biasanya, iya biasanya, putrinya tersebut dibangunkan setiap pukul tiga. Si ibu akan memasakkan makanan. Apa saja yang putrinya sukai. Yang putrinya inginkan untuk menu sahur. Si ibu akan dengan sabar bangun mungkin sejam-dua jam sebelum putrinya, hanya untuk memasak. Si ibu tak pernah marah apalagi murka kepada putrinya hanya karena ia malas untuk bangun. Si ibu selalu hangat. Seperti biasa. Dengan caranya. Sebagai seorang ibu dan seorang teman. Lalu mereka akan menyantap menu sahur mereka, aneka lauk pauk, buah-buahan, sayur, dan juga susu. Iya, sang Ayah tak pernah lupa membelikannya susu dan buah kurma. Selesai itu, si ibu akan memperingatkan putrinya untuk menunaikan sholat shubuh.

 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos