Senin, 22 April 2019

KETIKA KAMU

Posted by nofi.hidayanti at April 22, 2019 0 comments
Ketika kamu mulai menjaga jarak, aku menyesuaikan langkahku. Memperlambat kecepatan dan kadang berhenti sejenak di tempatku. Diam, menangis, terus menyalahkan diri sendiri. Ketika kamu akhirnya berhenti memanggil sebutan sayang, aku pun melakukan kebodohan yang sama. Membuang jauh-jauh kenangan tentang suaramu memanggilku sayang. Kebahagiaan yang tak bisa diganti dengan apapun. Dan entah dimana semua kenangan manis itu sekarang berada. Di antara baris puisi rindu padamu. Atau titik titik kesal pada sikapmu. Ketika kamu mulai bersikap acuh dan angkuh, lagi dan lagi aku melaraskan sikapku. Dulu seminggu tak bertemu, aku akan merajuk mati-matian untuk berjumpa. Meski itu hanya sekedar percakapan ringan di depan kantor. Jarak berapapun, seterik matahari kala itu, aku tak pernah peduli. Rindu ya rindu. Harus bertemu. Kini, aku malah belajar mati-matian untuk tidak merajuk bertemu. Menahan semua gejolak sedih yang ada. Mengalihkan semuanya kepada hal-hal kecil yang tidak ada hubungannya denganmu. Belajar melupakan rindu. Sebodoh itu langkahku. Dan sedingin itu sikapmu.
Lalu, bagaimana jadinya bila kamu memilih tak lagi peduli? Benar-benar berhenti peduli? Apa aku harus tetap mengikuti? Apa aku harus tetap selaras? Berhenti di tempatku yang sekarang saja sudah cukup membuatku patah setengah mati. Melupakan dan melepas yang pernah terjadi saja sudah membuatku hancur setengah mati. Apa aku bisa berhenti peduli tentangmu? Bila itu artinya kematian bagiku?

Rabu, 13 Maret 2019

Good Night...Good Bye

Posted by nofi.hidayanti at Maret 13, 2019 0 comments
You and I had enough hard times,
we fought with each other enough,
 we made up with each other so many times.
We don't have to worry in the early morning anymore,
now relax and good night.

I might get tired a lot. And I know you too.
I don't want to think about you.
The coffee you taught me, I'll avoid it.
I always waited for you. You waited for me.
Now we don't have to.


We did our best obviously.
No one would blame us.
So we were not meant to be, I just know this way.
I think we can believe so.
You and I were happy enough.
 And love like crazy.
We don't have to painfully worry in the early morning anymore,
now really Good bye.

Rabu, 20 Februari 2019

That Little Things

Posted by nofi.hidayanti at Februari 20, 2019 0 comments
Ternyata tidak selamanya punya pasangan yang cuek itu adalah hal buruk. Karena tanpa disadari, sifat acuh tak acuhnya jadi sebuah tanda syukur dengan cara yang berbeda. Hal-hal kecil yang terlihat sepele, menjadi lebih bermakna ketika dilakukan olehnya. Hari ini, entah hanya perasaku saja, atau memang begitu adanya, hal-hal kecil yang ia lakukan menjadi terasa begitu manis berjuta kali lipat. Membelikanku eskrim, tanpa harus aku meminta dan merajuk untuk dibelikan. Mencuri-curi waktu sekedar menciumku, atau mengenggam erat tanganku. Mengelus lembut kepalaku. Memakaikan helm di kepalaku. Atau sekedar memastikan resleting jaketku sudah sampai ujung barisnya. Terlihat sepele bukan. Tapi aku jadi mengucap banyak syukur dan tersenyum karenanya.
Ternyata, tidak selamanya punya pasangan yang cuek adalah hal yang buruk. Karena bagaimanapun dia, entah si perhatian garis keras, atau si acuh tak acuh, kalau kamu menyayanginya, kamu akan tulus menerima buruk dan baiknya. Dan untuk hari ini, terima kasih untuk hal-hal kecil yang telah kamu lakukan untukku :) terima kasih, aku banyak tersenyum mengingatmu :) 

Kamis, 15 November 2018

Selamat Ulang Tahun

Posted by nofi.hidayanti at November 15, 2018 0 comments
Selamat bertambah usia. 
Sedikit gugup aku mengungkapkannya. 

Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan pada tanggal 15 November ketigapuluhtigamu ini. 
Tiap hurufnya kuambil dari rasaku padamu yang masih tersisa dalam hati. 

Kesatu, kau harus tahu, tulisan ini kubuat tepat sebulan sebelum hari jadimu. 
Semata-mata hanya ingin menjadi yang pertama dan terakhir mengucap selamat padamu. 
Meski mungkin bukan hadirku yang kau tunggu dan kau rindu. 

Kedua, ku ingin kau terus sentosa. 
Menikmati hari-hari indah setelah banyak hal yang pernah terjadi padamu, pada kita. Entah itu baik. Dan juga buruk. 

Ketiga, walau aku pernah mati-mati untuk meninggalkan atau melupakan, nyatanya kamu tetap yang pertama dan satu-satunya. 

Meski begitu, sampai tulisan ini telah usai dirangkai pun masih banyak pertanyaan bagiku. 

Terakhir, meski kisah kita tak selalu bahagia, kuharap kenangan manis yang pernah kau torehkan takkan habis terurai. 
Segala tutur manismu yang membuatku leleh dan tersenyum tanpa alasan akan selalu menjadi bogeman yang pukulannya tak pernah santai. 

Jangan risau pekat rasaku akan terbaca oleh banyak mata. 
Biarkan seluruh semesta tahu bahwa kita pernah saling mencinta. 

Sekali lagi, selamat bertambah usia. 
Titip salam buat keluarga. 
Kuharap di masa mendatang kita selalu berjumpa. 


— ,

 buat 🦖

Jumat, 13 April 2018

Pesan di Kotak Draft

Posted by nofi.hidayanti at April 13, 2018 0 comments
Ada banyak pesan yang akhirnya tidak pernah terkirim ke pemiliknya. Tak cukup banyak keberanianku yang tersisa. Maka kubiarkan habis pada saru pesan yang ada. Satu pesan itu, kira-kira seperti ini bunyinya:
Pada suatu senja, ingin kuajak kamu duduk di suatu taman. Hanya duduk. Benar-benar cukup dengan duduk. Diam. Mendengarmu bernafas. Melihatmu terpejam. Lalu ketika akhirnya kamu bangun, aku akan bacakan satu puisi.
"Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu menelponku manja, bilang cinta, ingin cepat berjumpa. Lalu merajuk bila aku tinggal di balik gagang telepon. Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu mengirim pesan mesra, sekedar bertanya kopi apa yang aku suka, atau bagaimana kabar hari Selasa. Juga menjadi yang pertama dan terakhir memelukku dari jauh dengan satu kata.  Menjadi yang paling suka cerita dari siapa yang kamu temui di kereta, hingga makan siangmu yang banyak nasinya. Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu dengan bahagia menggenggam kedua tanganku ketika kita berjalan di pinggir ibukota. Benar-benar berhenti berbagi tawa dengan wanita, dan memutuskan tertawa gila hanya berdua. Menjadi yang paling hangat hanya untuk satu wanita saja. Tentu saja. Tentu saja menantikan semuanya."
Aku kembali diam sejenak. Kulihat wajah senjanya dalam-dalam. Menunggu jawabannya. Dia hanya tersenyum. Kubayar lagi dengan sebuah kecupan manis di pipi kanannya, sambil berbisik.
"Tentu saja. Diantara semuanya, tetap kamu yang paling kunantikan. Cukup dengan kamu. Tak mengapa tak ada telepon suka cita. Tak mengapa tak ada pesan mesra. Tak mengapa ada wanita yang membuatmu juga ceria. Tentu saja. Kamu paling yang kunantikan."
Setelah membaca satu pesan di draft itu, aku benar-benar tersenyum gila.  Kuputuskan mengirimnya. Lalu membuang nomor ponselku. Setidaknya kini, pesan itu telah diterima oleh pemiliknya.
 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos