Selepas semua yang terjadi, kuharap sementara tak lagi bertemu denganmu.
Bukannya aku membencimu, atau berhasil meninggalkanmu.
Aku tak ingin kau tahu, masih sama rasaku padamu.
Ini bukan tentangmu.
Bukan pula salahmu.
Kamis, 06 Oktober 2016
Minggu, 25 September 2016
Sesakit Inikah?
Blog, bolehkah sebentar saja aku menulis? Mencurahkan perasaan yang sudah sesak di ujung detak jantung ini. Mencurahkan perasaan yang tak sanggup lagi kusimpan seorang diri. Hanya dengamu, maka dengarkan saja kumohon. Karena dimana lagi aku bisa menulis panjang lebar tanpa peduli apa kata orang lain?
Blog, sesakit inikah rasanya patah hati? Bagai semua luka yang pernah ada kembali mengingatkan sakitku. Mereka saling dorong mendorong menusuk satu-satunya harapan yang aku miliki. Harapan mencinta lalu dibalas mencinta. Harapan merindu juga dibalas dengan rindu. Harapan yang kini entah kemana lagi larinya. Hingga tak ada lagi selembar pun yang tersisa. Sesakit inikah rasanya patah hati? Entah aku yang bodoh, atau aku yang angkuh. Atau setengah bodoh, lalu setengah angkuh. Terus saja aku bertahan menyukainya dan menutup mata akan luka yang bisa saja hadir. Percaya bahwa bersabar mungkin adalah kunci untuk membuka hatinya. Terus bertahan menyayanginya dan menutup mata bahwa ternyata bukan aku isi doanya. Percaya bahwa rasa tulusku mungkin suatu saat dilirik olehnya. Tersenyum untuknya, meski ribuan pertanyaan terus menghantuiku.
Categories
Sajak-sajak
Sabtu, 24 September 2016
Tetaplah Di Situ
Tunggu sebentar, diam di situ. Aku sedang menulis kalimat pertama yang harus kusampaikan. Haruskah tentang kisah betapa ku menyukaimu? Atau tentang sulitnya berpisah? Tunggu sebentar, diam di situ. Aku akan menulis kalimat pertama, yang tak bisa kulakukan.....
Cukupkan tentang kamu.
Itu kata-kata yang selalu otakku teriakkan kepada hatiku. Karena nyatanya kita tidak pernah lebih dari teman. Tapi mengapa rasanya berat sekali baginya? Untuk sekedar mendengar nasehat otak. Untuk sekedar meredakan kecemasannya. Untuk sekedar melupakan sedikit ketakutannya.
Cukupkan tentang kamu. Sederhana, tapi mengapa rasanya tak bisa kulakukan? Sulit ku berhenti. Sulit ku membenci. Sulit ku melupakan.
Categories
Sajak-sajak
Jumat, 23 September 2016
Lensa Kotak (Konsep)
Lensa Kontak
Apakah kenyamanan perlu dilihat? Tak bisakah kita merasakannya dengan hati saja; jangan biarkan ada tatapan tajam di antara kita. Jangan pernah biarkan. Cukupkan saja dengan hati. Jangan biarkan matamu yang berbicara.
Saya hampir meloncat ketika alarm mengelus telingaku kasar. Kapan ia akan berhenti melakukan hal itu? Saya muak mendengarnya celoteh tentang sudah jam berapa ini, sampai kapan saya akan bermimpi dan menelenjangi guling kumel di kasur ini? Dan saya sumpel mulutnya lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Cermin besar yang kokoh di tembok itu seakan meledek si mata sayu. Ia berkata lantang, pria kaya mana yang mau menatap mata sayu seperti itu? Lalu mata itu membalas, "kau tunggu saja, cermin sejelek dirimu akan kuganti dengan cermin bertatahkan emas hasil jerih payah malam ini". Saya biarkan air dingin itu membasahi seluruh wajah, lalu berlanjut hingga seluruh tubuh. Tak bisa saya buang waktu lebih banyak. Itu adalah sisa-sisa harta yang saya miliki. Semenit kemudian saya bergegas berpakaian. Duduk, menyapa kotak makeup besar berwarna merah maroon itu. Saya siapkan sepasang lensa kontak berwarna cokelat tua itu. Yang semakin cokelat di tengahnya. Yang semakin tua dipinggirnya. Yang semakin perih, perih, dan perih ketika saya gunakan. Oh Tuhan, tak bisakah kau berikan saja saya mata normal? Muak aku dengan sepasang alat penyiksa ini. Atau... Oh Tuhan, tak bisakah kau berikan saja saya segepok uang? Biar saya suntik kedua mata minus ini. Saya mencoba menahan nafas dalam hingga hilang semua pedih itu. Lalu bergegas pergi.
Malam ini, saya harus tahan nafas lebih dalam. Asap rokok juga dinginnya hembusan pendingin ruangan, secara bersamaan telah menjadi racun bagi kedua mata saya. Seperti tak ada gunanya lagi sepasang kontak lensa ini. Tak ada yang bisa saya lihat. Tak ada yang bisa saya saksikan. Hanya asap yang semakin membuat ruangan itu sesak. Ah, benar-benar tak ada gunanya lagi sepasang kontak lensa ini.
Rabu, 07 September 2016
Jatuh Sejatuh Jatuhnya
Kita semua pernah dibuat jatuh karena cinta, mencinta, dan dicinta oleh seseorang yang tak pernah diduga. Rasanya bagai jutaan doa dijawab Tuhan dalam satu kata. Cinta. Kita semua pernah dibuat jatuh sejatuhnya dan rela semakin jauh jatuh karenanya. Hingga tak lagi kau lihat luka. Bagimu hanya ada dia. Kita semua pernah dibuat lepas tertawa dan tersenyum bahagia, tak memandang lagi derita. Bagimu benar-benar hanya ada dia.
Jatuh karena cintanya, adalah jatuh sejatuhnya yang tak melukaiku. Karena tak lagi kutemukan dimana kesedihan di musim lalu. Karena tak ingin lagi kubuka kisah yang telah melaluiku. Jatuh karena mencintainya, adalah jatuh sejatuhnya yang ingin terus kualami. Karena tak mampu aku menahan ribuan kupu-kupu memenuhi dada ini. Sesak karena mereka terus menahanku untuk tidak pergi.
Categories
Fiksi,
Sajak-sajak
Sabtu, 03 September 2016
Secangkir Kopi
"Baiklah, secangkir saja. Kopi tanpa gula. Biar kurasakan sepahit apa rasanya. Biar tak mampu lagi kurasakan luka."
Kataku pada pelayan laki-laki yang terus berdiri di sampingku.
Ia hampir limabelas menit di sana, hanya memandangku melihat buku menu. Yang terus kubolak balik. Lihat buku menu sebentar, memandangnya terkadang. Tapi ia tetap tak bersuara. Hanya pandangan kosong berharap aku segera memesan sesuatu.
Kumohon katakanlah sesuatu. Ku lemparkan senyum sembari memandangnya.
"Bukankah hidup memang sepahit kopi?". Dia tak juga bersuara. Tak menjawab. Hanya tersenyum, lalu permisi dan berlalu ke dalam bar nya.
Sepuluh menit aku menunggunya kembali. Tapi serasa satu musim telah melaluiku. Aku melihat kesekitar. Mencari sesuatu. Nanar. Atau berusaha menemukan sesuatu? Kesempatan kedua misalnya?
Pelayan pria itu kembali lagi padaku. Serasa satu musim telah menghampiriku.
"Hidup memang pahit. Tapi ada banyak yang mampu membuatnya lebih manis. Seperti kopi, kau tambahkan gula bila kau suka. Kau berikan susu bila kau mau. Sekotak es batu pula bila kau ingin. Jadi saya setuju hidup seperti kopi."
"Begitu kah?"
"Ya."
"Jadi menurutmu, hidupku adalah kopi yang seperti apa?"
"Kopi yang terlalu manis hingga menjadi pahit. Kau harus tahu kapan harus mengurangi kadar manismu. Atau berhenti menambahkan bubuk kopiku."
Aku hanya tersenyum sambil memalihkan pandanganku ke secangkir kopi di mejaku.
Hitam. Kuseruput pelan-pelan. Dia dengan cepat berjalan ke arah meja bartender di belakangku. Memandangku. Sedikit tersenyum. Atau sinis melihatku? Lalu berlalu, serasa satu musim telah meninggalkanku.
Hampir setiap sore aku berkunjung ke bar ini. Di jam dan detik yang sama. Satu tempat kosong selalu ia siapkan untukku. Atau mungkin itu hanya kata egoku saja. Dan pria tinggi bertubuh putih sedingin pualam itu, adalah orang yang sama yang selalu memberikan kopi kepadaku. Rasanya tak pernah berubah. Masih hitam. Pahit. Kelam. Aku masih menantikan kopinya berubah manis. Aku masih menantikannya, serasa satu musim yang aku harapkan.
Kuseruput kembali kopi buatannya. Yang semakin kelam setiap seruputannya. Antara aku dan si pembuat kopi; Tak perlu banyak bicara. Kata seperti tak mampu lagi mewakili rasaku padanya. Dan kata seperti tak mampu lagi mewakili dingin dan kelam dendamnya padaku. Keseruput kembali kopi buatannya, hingga tak ada lagi yang tersisa. Kubangkit dari tempatku lalu berjalan ke arah bartender. Secarik kertas kuberikan padanya.
"Ini pesanku yang terakhir untuknya, kumohon, kali ini saja biarkan dia membacanya".
Kubangkit dari tempat bartender lalu berjalan ke arah pintu. Dalam setiap langkahku ke luar dari bar itu, kulantunkan doa untuk kesempatan kedua. Setidaknya memperbaiki kesalahan yang terlanjur kebuat padanya. Tiap rintihan doaku itu akhirnya yang mengantarkanku ke depan bar. Lalu, Aku masih menantikan kopinya berubah manis. Aku masih menantikannya jatuh mencintaku untuk yang kedua kalinya, serasa satu musim yang aku harapkan.
"Untuk pembuat kopi setiaku.Sudah satu musim aku menyeruput kopimu. Yang semakin kelam setiap kali aku seruput. Hitam. Penuh luka juga amarah. Aku jadi bertanya-tanya, lalu berfikir. Apakah bubuk kopi yang kupesan terlalu banyak? Tak bisakah gula menghilangkan pahitnya? Tak bisakah sekotak esbatu mencairkan lukanya?Sudah banyak musim kita lalui sebelumnya. Kadang secangkir kopi pahit yang semakin hitam. Kadang secangkir susu yang semakin manis ujungnya. Lalu, tak bisakah aku pesan secangkir kopi manis kali ini? Untuk mengobati luka juga amarahmu pada gagalnya cinta kita. Maafkan aku untuk bubuk kopi yang terlalu banyak kupesan di kehidupan sebelumnya.Untuk pembuat kopi setiaku, aku merindukanmu, aku masih mencintaimu. Aku akan tetap di sini, menantikan secangkir kopimu. Penuh dengan gula, penuh dengan sekotak esbatu. Jangan biarkan ada hitam. Jangan biarkan ada kelam."
Categories
Fiksi
Senin, 22 Agustus 2016
Bae
Sebab, ada perasaan yang tak bisa kusampaikan lewat lisan, kuingin sampaikan lewat sedikit tulisan ini. Jangan disanggah dulu, cukup baca dan simpan saja. Lalu terserah padamu, mau diingat dalam memori atau anggap ini tak pernah terjadi.
Kutegaskan. Ini bukan tentang aku, pun kamu. Ini tentang jalan yang sudah Tuhan tuliskan untuk umatnya. Tentang bagaimana rasanya jatuh dan mencinta. Tentang belajar keikhlasan terluka dan bahagia.
Tuhan pasti sudah memikirkan nasib kita untuk bertemu. Dia tahu kamu akan mengajarkanku banyak hal tentang dunia. Salah satu dari jutaan insan yang tak kusadari hadirnya. Lalu berubah berarti dalam beberapa bulan ini. Bahkan dengan memikirkanmu saja rasanya jantung ini jadi semakin cepat berdegup. Kamu manusia atau wahana adrenalin di tengah ibukota? Jangan khawatir, aku tak akan mati karena serangan jantung memikirkanmu. Sepertinya bukan dengan cara manis seperti itu Tuhan ingin memanggilku.
Kusimpulkan, kehadiranmu banyak mengajarkanku. Aku jadi tahu bagaimana rasanya merindu kala rindu itu saja takut menyapamu. Aku jadi mahir mengubah rindu jadi alasan untuk menutupi luka dan tangisku. Dan rindu itu semakin hari semakin membuatku merindukamu. Salahkah rindu ini? Atau, salahkah aku ini?
Kutebak, kamu pernah menyimpan rasa itu. Merindu. Entah pada rinduku, atau pada diriku. Kutebak, kamu pernah memikirkannya juga. Entah memikirkan rinduku, atau memikirkan diriku. Kutebak kamu pun menyimpan rindu yang sama pada diriku? Bolehkah aku berharap begitu?
Perempuan memang dimana-mana sama, ya. Pun dengan diriku. Rela dimabukkan oleh rasa rindu yang bisa saja semu. Lalu menunggu. Berharap dewa cinta menghampiri yang dirindukan olehnya, dan datang membisikkan bahwa lelaki itu juga rindu padaku. Berharap setidaknya Tuhan mengalbukan harapannya kali ini, dan menjaga hati lelaki itu untukku saja. Aku naif atau terlalu naif?
Lalu aku jadi rajin bicara pada Tuhanku. Yang semakin rajin setiap waktunya. Tentang bagaimana rasanya merindu itu. Memohon padanya, berikan saja aku satu kesempatan baru. Memulai semua dari titik yang lelaki itu mau.
Hey, aku hampir malas menggantungkan harapan pada ketidakmungkinan yang ada. Yang datang selalu pergi. Yang merindu selalu jadi kelabu. Yang dipelukkan selalu hilang dalam hitungan. Tapi, bolehkah kali ini aku sedikit berharap? Menggantungkan doa pada ketidakmungkinan bernama kamu? Adakah sedikit saja kesempatan bagiku? Memulai semua dari awal, berjuang lagi, belajar lagi, terluka lalu bangun, bangun lalu terluka, merindu dirindukan, menangis lalu ditangisi, melihatmu jatuh, melihatmu bangkit, melihatmu berlari, melihatmu sakit, jatuh cinta, jatuh karena cinta, jatuh cinta lagi, jatuh karena cinta lagi? Aku siap memulainya, aku siap duduk di sampingmu. Menjadi apapun yang kamu mau. Sampai bulan bintang muak pada kita berdua. Sampai Tuhan tertawa melihat kita bersama. Sampai matahari enggan datang karena yang ia lihat hanya kita berdua.
Lalu, kutegaskan lagi. Ini bukan tentang aku. Pun kamu. Berhenti mempertanyakan kenapa aku tetap ada di belakangmu. Karena aku tak akan lagi lari. Cukupkan membohongi diri sendiri. Malam saja lelah melihatku berusaha melupakanmu. Maka jangan paksa aku. Biar sesal kutanggung seorang diri. Jangan tanyakan lagi apa yang akan menghadang di depan. Karena Tuhan ada menuntunmu. Dia siap membentak semua ragu kalau perlu. Bila luka yang kamu lihat, tak perlu cemas. Luka telah menjadi kawanku bahkan sebelum bintang sadar aku selalu merindu padamu. Luka akan tetap menjadi luka, tanpa kamu. Lalu, bila memang tak ada ruang yang tersisa disana, ajarkan aku bagaimana cara melupakan yang tak mudah dilupakan. Ajarkan aku bagaimana cara membuang rindu yang menumpuk di ladang bernama hatiku? Ajarkan aku bagaimana cara ikhlas melepas yang hampir digenggam?
Lalu....begini saja. Terima kasih. Terima kasih pernah hadir. Terima kasih pernah datang lalu memutuskan untuk pergi. Kuharap kamu kembali hadir. Mengunjungi rindu yang tak tahu kemana Tuan nya pergi. Aku akan memulai permainan ini, berpura-pura tak takut apa yang akan terjadi ke depannya. Berpura-pura tak takut kehilangan segalanya.
Lalu...Jangan tanyakan apa aku sanggup ungkapkan semua secara langsung. Sebab, ada perasaan yang tak bisa kusampaikan lewat lisan, kuingin sampaikan saja lewat tulisan ini. Sekali lagi. Jangan disanggah dulu, cukup baca dan simpan saja. Lalu terserah padamu, mau diingat dalam memori atau anggap ini tak pernah terjadi.
Categories
Curahan Hati
Jumat, 22 Juli 2016
Stiletto Tinggi
Bulan belum juga puas menunjukkan pesonanya. Sinar, juga cantiknya dalam gelap. Tapi matahari telah sombong menggantikan sosoknya. Dia tersenyum ketika melihat gadis-gadis kecil itu dengan matanya yang masih mengantuk, harus berlomba mendapatnya kursinya. Ada yang sedikit berlari masuk ke peron-peron stasiun kota dengan kaki yang terasa begitu berat. Telapak mereka memerah, merekah, kemudia membiru dan membengkak. Bekas-bekas stiletto berhak 7 senti, mungkin 12 senti, tertinggal dalam di telapak mereka. Yang semakin dalam setiap kali kaki mereka bergerak. Yang semakin dalam setiap kali kaki mereka menahan tubuhnya. Yang semakin dalam dan dalam dan dalam setiap detiknya.
Teng!!! Jam dinding sebesar rembulan itu menujukkan pukul 7. Terlalu pagi untuk gadis pemuja malam ini bergegas bangun. Mandi, mandi, ritual bersetubuh dengan air yang rasa dinginnya menusuk sampe dia ingin tidur lagi saja. Solek, bersolek, mengambil peran sebagai perempuan manis dan menawan untuk menyenangkan hati bos besar. Semprot parfumnya di sana, di sini, tutupi semua bau busuk sisa-sisa minum semalam. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Dia sedikit berlari masuk ke peron-peron stasiun kota dengan kaki, dan tubuh, yang terasa begitu berat. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Telapak kakinya memerah, merekah, kemudian membiru dan membengkak. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Bekas-bekas stiletto berhak 7 centi, mungkin 12 senti, tertinggal dalam di telapaknya. Yang semakin dalam setiap kali kakinya bergerak. Yang semakin dalam setiap kali kakinya menahan tubuhnya. Yang semakin dalam dan dalam dan dalam setiap detiknya.
Gadis pemuja malam itu akhirnya menang dalam pertempuran. Ia duduk lesu diantara pemenang lainnya sambil memejamkan matanya lelap. Semakin lelap hingga ia terbawa dalam mimpinya. Ia sedang berdiri tegap di depan sebuah meja besar. Berbentuk setengah lingkaran, yang mampu menutup setengah tubuhnya. Kakinya sudah kepalang gemetar menahan setiap piluh yang ingin teriak kalau mereka bisa. Garis biru dikedua telapak kakinya seakan berkata, "Bebaskan aku dari sini". Stiletto 12 senti berwarna merah mawar itu seakan bergigi runcing dan siap menelan sesenti dua senti garis biru dikedua telapak kakinya. Lalu gadis pemuja malam itu hanya bisa memasang senyum pada satu, dua, tiga, empat, mungkin sepuluh bos yang duduk dengan santai di hadapannya. Sepatu mereka datar. Tidak beruncing. Tidak 12 centi. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kaki sepuluh bos. Sedetik kemudian, ketika para bos keluar dari ruangan itu, atau lebih seperti neraka baginya, ia bisa bernafas panjang. Dilepaskannya stiletto 12 senti itu, berharap ia bisa bebas dan menjauh selamanya dari pembunuh garis kakinya. Lalu melompat bebas, bebas karena kaki-kakinya bisa kembali menyentuh bumi.
Ia kembali dibawa kepada mimpi buruk lainnya. Sekarang ia ada di sebuah ujung tangga. Di tangannya ada satu tumbuk file yang harus di tanda tangani satu, dua, tiga, mungkin sepuluh bos. Lift kantornya mati di saat yang tepat. Ia kembali menarik nafas panjang dan memulai mengangkat kakinya. Stiletto 7 senti berwarna maroon sudah menampakkan gigi runcingnya lalu tertawa kencang sambil menatapnya. Ia teriak dan dibangunkan di mimpi lainnya. Kini ia sedang berdansa dengan seorang teman lelaki yang ia kenal lewat pesta. Stiletto 7 senti berwarna merah muda sudah berada di kedua kakinya. Ini adalah pesta pernikahan teman baiknya, atau harus ia anggap seperti itu. Ia mengenakan gaun berwarna senada dengan pilihan tampilan wajah super hits khas perempuan kota. Disebarkannya senyum itu, sambil menahan pegal di kakinya. Ia harus tampil sempurna, semua melihatnya. Ia berdansa, semakin dalam hingga lupa kakinya tak lagi mengingat bumi. Kakinya telah lupa, pada siapa ia harus bersama. Lalu yang ia ingat kemudian, tubuhnya sudah di bumi. Stiletto itu tidak menelan kakinya, tapi melempar kakinya keluar hingga jauh darinya.
"Teng!!!" ia terbangun dari perjalanan mimpi panjangnya. Tapi itu seperti kenyataa buruk yang ingin ia buang jauh-jauh. Sepatu flat rata sudah manis di kakinya. Ia tidak beruncing. Tidak 12 senti. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kakinya. Sepatu flat itu tersenyum lalu menemani langkahnya keluar dari gerbong kereta. Stiletto yang telah melempar kakinya keluar hingga jauh darinya, terjauh, terpuruk, telah ia lupakan semenjak ia terbangun dari mimpinya. Ah, itu bukan sekedar mimpi. Itu benar-benar kenyataan buruk yang ingin ia buang jauh-jauh.
Teng!!! Jam dinding sebesar rembulan itu menujukkan pukul 7. Terlalu pagi untuk gadis pemuja malam ini bergegas bangun. Mandi, mandi, ritual bersetubuh dengan air yang rasa dinginnya menusuk sampe dia ingin tidur lagi saja. Solek, bersolek, mengambil peran sebagai perempuan manis dan menawan untuk menyenangkan hati bos besar. Semprot parfumnya di sana, di sini, tutupi semua bau busuk sisa-sisa minum semalam. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Dia sedikit berlari masuk ke peron-peron stasiun kota dengan kaki, dan tubuh, yang terasa begitu berat. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Telapak kakinya memerah, merekah, kemudian membiru dan membengkak. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Bekas-bekas stiletto berhak 7 centi, mungkin 12 senti, tertinggal dalam di telapaknya. Yang semakin dalam setiap kali kakinya bergerak. Yang semakin dalam setiap kali kakinya menahan tubuhnya. Yang semakin dalam dan dalam dan dalam setiap detiknya.
Gadis pemuja malam itu akhirnya menang dalam pertempuran. Ia duduk lesu diantara pemenang lainnya sambil memejamkan matanya lelap. Semakin lelap hingga ia terbawa dalam mimpinya. Ia sedang berdiri tegap di depan sebuah meja besar. Berbentuk setengah lingkaran, yang mampu menutup setengah tubuhnya. Kakinya sudah kepalang gemetar menahan setiap piluh yang ingin teriak kalau mereka bisa. Garis biru dikedua telapak kakinya seakan berkata, "Bebaskan aku dari sini". Stiletto 12 senti berwarna merah mawar itu seakan bergigi runcing dan siap menelan sesenti dua senti garis biru dikedua telapak kakinya. Lalu gadis pemuja malam itu hanya bisa memasang senyum pada satu, dua, tiga, empat, mungkin sepuluh bos yang duduk dengan santai di hadapannya. Sepatu mereka datar. Tidak beruncing. Tidak 12 centi. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kaki sepuluh bos. Sedetik kemudian, ketika para bos keluar dari ruangan itu, atau lebih seperti neraka baginya, ia bisa bernafas panjang. Dilepaskannya stiletto 12 senti itu, berharap ia bisa bebas dan menjauh selamanya dari pembunuh garis kakinya. Lalu melompat bebas, bebas karena kaki-kakinya bisa kembali menyentuh bumi.
Ia kembali dibawa kepada mimpi buruk lainnya. Sekarang ia ada di sebuah ujung tangga. Di tangannya ada satu tumbuk file yang harus di tanda tangani satu, dua, tiga, mungkin sepuluh bos. Lift kantornya mati di saat yang tepat. Ia kembali menarik nafas panjang dan memulai mengangkat kakinya. Stiletto 7 senti berwarna maroon sudah menampakkan gigi runcingnya lalu tertawa kencang sambil menatapnya. Ia teriak dan dibangunkan di mimpi lainnya. Kini ia sedang berdansa dengan seorang teman lelaki yang ia kenal lewat pesta. Stiletto 7 senti berwarna merah muda sudah berada di kedua kakinya. Ini adalah pesta pernikahan teman baiknya, atau harus ia anggap seperti itu. Ia mengenakan gaun berwarna senada dengan pilihan tampilan wajah super hits khas perempuan kota. Disebarkannya senyum itu, sambil menahan pegal di kakinya. Ia harus tampil sempurna, semua melihatnya. Ia berdansa, semakin dalam hingga lupa kakinya tak lagi mengingat bumi. Kakinya telah lupa, pada siapa ia harus bersama. Lalu yang ia ingat kemudian, tubuhnya sudah di bumi. Stiletto itu tidak menelan kakinya, tapi melempar kakinya keluar hingga jauh darinya.
"Teng!!!" ia terbangun dari perjalanan mimpi panjangnya. Tapi itu seperti kenyataa buruk yang ingin ia buang jauh-jauh. Sepatu flat rata sudah manis di kakinya. Ia tidak beruncing. Tidak 12 senti. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kakinya. Sepatu flat itu tersenyum lalu menemani langkahnya keluar dari gerbong kereta. Stiletto yang telah melempar kakinya keluar hingga jauh darinya, terjauh, terpuruk, telah ia lupakan semenjak ia terbangun dari mimpinya. Ah, itu bukan sekedar mimpi. Itu benar-benar kenyataan buruk yang ingin ia buang jauh-jauh.
Langganan:
Komentar (Atom)

