Sebab, ada perasaan yang tak bisa kusampaikan lewat lisan, kuingin sampaikan lewat sedikit tulisan ini. Jangan disanggah dulu, cukup baca dan simpan saja. Lalu terserah padamu, mau diingat dalam memori atau anggap ini tak pernah terjadi.
Kutegaskan. Ini bukan tentang aku, pun kamu. Ini tentang jalan yang sudah Tuhan tuliskan untuk umatnya. Tentang bagaimana rasanya jatuh dan mencinta. Tentang belajar keikhlasan terluka dan bahagia.
Tuhan pasti sudah memikirkan nasib kita untuk bertemu. Dia tahu kamu akan mengajarkanku banyak hal tentang dunia. Salah satu dari jutaan insan yang tak kusadari hadirnya. Lalu berubah berarti dalam beberapa bulan ini. Bahkan dengan memikirkanmu saja rasanya jantung ini jadi semakin cepat berdegup. Kamu manusia atau wahana adrenalin di tengah ibukota? Jangan khawatir, aku tak akan mati karena serangan jantung memikirkanmu. Sepertinya bukan dengan cara manis seperti itu Tuhan ingin memanggilku.
Kusimpulkan, kehadiranmu banyak mengajarkanku. Aku jadi tahu bagaimana rasanya merindu kala rindu itu saja takut menyapamu. Aku jadi mahir mengubah rindu jadi alasan untuk menutupi luka dan tangisku. Dan rindu itu semakin hari semakin membuatku merindukamu. Salahkah rindu ini? Atau, salahkah aku ini?
Kutebak, kamu pernah menyimpan rasa itu. Merindu. Entah pada rinduku, atau pada diriku. Kutebak, kamu pernah memikirkannya juga. Entah memikirkan rinduku, atau memikirkan diriku. Kutebak kamu pun menyimpan rindu yang sama pada diriku? Bolehkah aku berharap begitu?
Perempuan memang dimana-mana sama, ya. Pun dengan diriku. Rela dimabukkan oleh rasa rindu yang bisa saja semu. Lalu menunggu. Berharap dewa cinta menghampiri yang dirindukan olehnya, dan datang membisikkan bahwa lelaki itu juga rindu padaku. Berharap setidaknya Tuhan mengalbukan harapannya kali ini, dan menjaga hati lelaki itu untukku saja. Aku naif atau terlalu naif?
Lalu aku jadi rajin bicara pada Tuhanku. Yang semakin rajin setiap waktunya. Tentang bagaimana rasanya merindu itu. Memohon padanya, berikan saja aku satu kesempatan baru. Memulai semua dari titik yang lelaki itu mau.
Hey, aku hampir malas menggantungkan harapan pada ketidakmungkinan yang ada. Yang datang selalu pergi. Yang merindu selalu jadi kelabu. Yang dipelukkan selalu hilang dalam hitungan. Tapi, bolehkah kali ini aku sedikit berharap? Menggantungkan doa pada ketidakmungkinan bernama kamu? Adakah sedikit saja kesempatan bagiku? Memulai semua dari awal, berjuang lagi, belajar lagi, terluka lalu bangun, bangun lalu terluka, merindu dirindukan, menangis lalu ditangisi, melihatmu jatuh, melihatmu bangkit, melihatmu berlari, melihatmu sakit, jatuh cinta, jatuh karena cinta, jatuh cinta lagi, jatuh karena cinta lagi? Aku siap memulainya, aku siap duduk di sampingmu. Menjadi apapun yang kamu mau. Sampai bulan bintang muak pada kita berdua. Sampai Tuhan tertawa melihat kita bersama. Sampai matahari enggan datang karena yang ia lihat hanya kita berdua.
Lalu, kutegaskan lagi. Ini bukan tentang aku. Pun kamu. Berhenti mempertanyakan kenapa aku tetap ada di belakangmu. Karena aku tak akan lagi lari. Cukupkan membohongi diri sendiri. Malam saja lelah melihatku berusaha melupakanmu. Maka jangan paksa aku. Biar sesal kutanggung seorang diri. Jangan tanyakan lagi apa yang akan menghadang di depan. Karena Tuhan ada menuntunmu. Dia siap membentak semua ragu kalau perlu. Bila luka yang kamu lihat, tak perlu cemas. Luka telah menjadi kawanku bahkan sebelum bintang sadar aku selalu merindu padamu. Luka akan tetap menjadi luka, tanpa kamu. Lalu, bila memang tak ada ruang yang tersisa disana, ajarkan aku bagaimana cara melupakan yang tak mudah dilupakan. Ajarkan aku bagaimana cara membuang rindu yang menumpuk di ladang bernama hatiku? Ajarkan aku bagaimana cara ikhlas melepas yang hampir digenggam?
Lalu....begini saja. Terima kasih. Terima kasih pernah hadir. Terima kasih pernah datang lalu memutuskan untuk pergi. Kuharap kamu kembali hadir. Mengunjungi rindu yang tak tahu kemana Tuan nya pergi. Aku akan memulai permainan ini, berpura-pura tak takut apa yang akan terjadi ke depannya. Berpura-pura tak takut kehilangan segalanya.
Lalu...Jangan tanyakan apa aku sanggup ungkapkan semua secara langsung. Sebab, ada perasaan yang tak bisa kusampaikan lewat lisan, kuingin sampaikan saja lewat tulisan ini. Sekali lagi. Jangan disanggah dulu, cukup baca dan simpan saja. Lalu terserah padamu, mau diingat dalam memori atau anggap ini tak pernah terjadi.

