Mereka menyebut saya dengan nama Mira,
kependekan dari “Mirror” katanya. Sepasang manusia yang hidup tanpa nama cinta
itulah yang memberikan saya nama Mira. Kata mereka, kelak saya mencerminkan
kecantikan saya di ribuan cermin,
membiarkan oranglain terpesona akan saya.
Konyol.
Mereka benar. Saya senang bercermin.
Saya akan mengingat pandangan mereka yang menatap mesum ke arah saya setiap
saya berjalan ke arah mereka. Mereka mungkin mengira saya masih dua puluhan.
Padahal kini usia saya menginjak angka tiga puluh satu. Momok menakutkan bagi
para wanita bila bertemu angka tersebut. Akankah saya tetap cantik? Bagaimana
tubuh saya? Ah, manusia. Perempuan.

