Minggu, 25 September 2016

Sesakit Inikah?

Posted by nofi.hidayanti at September 25, 2016 0 comments
Blog, bolehkah sebentar saja aku menulis? Mencurahkan perasaan yang sudah sesak di ujung detak jantung ini. Mencurahkan perasaan yang tak sanggup lagi kusimpan seorang diri. Hanya dengamu, maka dengarkan saja kumohon. Karena dimana lagi aku bisa menulis panjang lebar tanpa peduli apa kata orang lain?
Blog, sesakit inikah rasanya patah hati? Bagai semua luka yang pernah ada kembali mengingatkan sakitku. Mereka saling dorong mendorong menusuk satu-satunya harapan yang aku miliki. Harapan mencinta lalu dibalas mencinta. Harapan merindu juga dibalas dengan rindu. Harapan yang kini entah kemana lagi larinya. Hingga tak ada lagi selembar pun yang tersisa. Sesakit inikah rasanya patah hati? Entah aku yang bodoh, atau aku yang angkuh. Atau setengah bodoh, lalu setengah angkuh. Terus saja aku bertahan menyukainya dan menutup mata akan luka yang bisa saja hadir. Percaya bahwa bersabar mungkin adalah kunci untuk membuka hatinya. Terus bertahan menyayanginya dan menutup mata bahwa ternyata bukan aku isi doanya. Percaya bahwa rasa tulusku mungkin suatu saat dilirik olehnya. Tersenyum untuknya, meski ribuan pertanyaan terus menghantuiku.

Sabtu, 24 September 2016

Tetaplah Di Situ

Posted by nofi.hidayanti at September 24, 2016 0 comments
Tunggu sebentar, diam di situ. Aku sedang menulis kalimat pertama yang harus kusampaikan. Haruskah tentang kisah betapa ku menyukaimu? Atau tentang sulitnya berpisah? Tunggu sebentar, diam di situ. Aku akan menulis kalimat pertama, yang tak bisa kulakukan.....
Cukupkan tentang kamu. 
Itu kata-kata yang selalu otakku teriakkan kepada hatiku. Karena nyatanya kita tidak pernah lebih dari teman. Tapi mengapa rasanya berat sekali baginya? Untuk sekedar mendengar nasehat otak. Untuk sekedar meredakan kecemasannya. Untuk sekedar melupakan sedikit ketakutannya.
Cukupkan tentang kamu. Sederhana, tapi mengapa rasanya tak bisa kulakukan? Sulit ku berhenti. Sulit ku membenci. Sulit ku melupakan.

Jumat, 23 September 2016

Lensa Kotak (Konsep)

Posted by nofi.hidayanti at September 23, 2016 0 comments
Lensa Kontak

Apakah kenyamanan perlu dilihat? Tak bisakah kita merasakannya dengan hati saja; jangan biarkan ada tatapan tajam di antara kita. Jangan pernah biarkan. Cukupkan saja dengan hati. Jangan biarkan matamu yang berbicara.

Saya hampir meloncat ketika alarm mengelus telingaku kasar. Kapan ia akan berhenti melakukan hal itu? Saya muak mendengarnya celoteh tentang sudah jam berapa ini, sampai kapan saya akan bermimpi dan menelenjangi guling kumel di kasur ini? Dan saya sumpel mulutnya lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Cermin besar yang kokoh di tembok itu seakan meledek si mata sayu. Ia berkata lantang, pria kaya mana yang mau menatap mata sayu seperti itu? Lalu mata itu membalas, "kau tunggu saja, cermin sejelek dirimu akan kuganti dengan cermin bertatahkan emas hasil jerih payah malam ini". Saya biarkan air dingin itu membasahi seluruh wajah, lalu berlanjut hingga seluruh tubuh. Tak bisa saya buang waktu lebih banyak. Itu adalah sisa-sisa harta yang saya miliki. Semenit kemudian saya bergegas berpakaian. Duduk, menyapa kotak makeup besar berwarna merah maroon itu. Saya siapkan sepasang lensa kontak berwarna cokelat tua itu. Yang semakin cokelat di tengahnya. Yang semakin tua dipinggirnya. Yang semakin perih, perih, dan perih ketika saya gunakan. Oh Tuhan, tak bisakah kau berikan saja saya mata normal? Muak aku dengan sepasang alat penyiksa ini. Atau... Oh Tuhan, tak bisakah kau berikan saja saya segepok uang? Biar saya suntik kedua mata minus ini. Saya mencoba menahan nafas dalam hingga hilang semua pedih itu. Lalu bergegas pergi.
Malam ini, saya harus tahan nafas lebih dalam. Asap rokok juga dinginnya hembusan pendingin ruangan, secara bersamaan telah menjadi racun bagi kedua mata saya. Seperti tak ada gunanya lagi sepasang kontak lensa ini. Tak ada yang bisa saya lihat. Tak ada yang bisa saya saksikan. Hanya asap yang semakin membuat ruangan itu sesak. Ah, benar-benar tak ada gunanya lagi sepasang kontak lensa ini.

Rabu, 07 September 2016

Jatuh Sejatuh Jatuhnya

Posted by nofi.hidayanti at September 07, 2016 0 comments
Kita semua pernah dibuat jatuh karena cinta, mencinta, dan dicinta oleh seseorang yang tak pernah diduga. Rasanya bagai jutaan doa dijawab Tuhan dalam satu kata. Cinta. Kita semua pernah dibuat jatuh sejatuhnya dan rela semakin jauh jatuh karenanya. Hingga tak lagi kau lihat luka. Bagimu hanya ada dia. Kita semua pernah dibuat lepas tertawa dan tersenyum bahagia, tak memandang lagi derita. Bagimu benar-benar hanya ada dia.
Jatuh karena cintanya, adalah jatuh sejatuhnya yang tak melukaiku. Karena tak lagi kutemukan dimana kesedihan di musim lalu. Karena tak ingin lagi kubuka kisah yang telah melaluiku. Jatuh karena mencintainya, adalah jatuh sejatuhnya yang ingin terus kualami. Karena tak mampu aku menahan ribuan kupu-kupu memenuhi dada ini. Sesak karena mereka terus menahanku untuk tidak pergi.

Sabtu, 03 September 2016

Secangkir Kopi

Posted by nofi.hidayanti at September 03, 2016 0 comments
"Baiklah, secangkir saja. Kopi tanpa gula. Biar kurasakan sepahit apa rasanya. Biar tak mampu lagi kurasakan luka."
Kataku pada pelayan laki-laki yang terus berdiri di sampingku.
Ia hampir limabelas menit di sana, hanya memandangku melihat buku menu. Yang terus kubolak balik. Lihat buku menu sebentar, memandangnya terkadang. Tapi ia tetap tak bersuara. Hanya pandangan kosong berharap aku segera memesan sesuatu.
Kumohon katakanlah sesuatu. Ku lemparkan senyum sembari memandangnya.
"Bukankah hidup memang sepahit kopi?". Dia tak juga bersuara. Tak menjawab. Hanya tersenyum, lalu permisi dan berlalu ke dalam bar nya.
Sepuluh menit aku menunggunya kembali. Tapi serasa satu musim telah melaluiku. Aku melihat kesekitar. Mencari sesuatu. Nanar. Atau berusaha menemukan sesuatu? Kesempatan kedua misalnya?
Pelayan pria itu kembali lagi padaku. Serasa satu musim telah menghampiriku.
"Hidup memang pahit. Tapi ada banyak yang mampu membuatnya lebih manis. Seperti kopi, kau tambahkan gula bila kau suka. Kau berikan susu bila kau mau. Sekotak es batu pula bila kau ingin. Jadi saya setuju hidup seperti kopi."
"Begitu kah?"
"Ya."
"Jadi menurutmu, hidupku adalah kopi yang seperti apa?"
"Kopi yang terlalu manis hingga menjadi pahit. Kau harus tahu kapan harus mengurangi kadar manismu. Atau berhenti menambahkan bubuk kopiku."
Aku hanya tersenyum sambil memalihkan pandanganku ke secangkir kopi di mejaku.
Hitam. Kuseruput pelan-pelan. Dia dengan cepat berjalan ke arah meja bartender di belakangku. Memandangku. Sedikit tersenyum. Atau sinis melihatku? Lalu berlalu, serasa satu musim telah meninggalkanku.
Hampir setiap sore aku berkunjung ke bar ini. Di jam dan detik yang sama. Satu tempat kosong selalu ia siapkan untukku. Atau mungkin itu hanya kata egoku saja. Dan pria tinggi bertubuh putih sedingin pualam itu, adalah orang yang sama yang selalu memberikan kopi kepadaku. Rasanya tak pernah berubah. Masih hitam. Pahit. Kelam. Aku masih menantikan kopinya berubah manis. Aku masih menantikannya, serasa satu musim yang aku harapkan.
Kuseruput kembali kopi buatannya. Yang semakin kelam setiap seruputannya. Antara aku dan si pembuat kopi; Tak perlu banyak bicara. Kata seperti tak mampu lagi mewakili rasaku padanya. Dan kata seperti tak mampu lagi mewakili dingin dan kelam dendamnya padaku. Keseruput kembali kopi buatannya, hingga tak ada lagi yang tersisa. Kubangkit dari tempatku lalu berjalan ke arah bartender. Secarik kertas kuberikan padanya.
"Ini pesanku yang terakhir untuknya, kumohon, kali ini saja biarkan dia membacanya". 
Kubangkit dari tempat bartender lalu berjalan ke arah pintu.  Dalam setiap langkahku ke luar dari bar itu, kulantunkan doa untuk kesempatan kedua. Setidaknya memperbaiki kesalahan yang terlanjur kebuat padanya. Tiap rintihan doaku itu akhirnya yang mengantarkanku ke depan bar. Lalu, Aku masih menantikan kopinya berubah manis. Aku masih menantikannya jatuh mencintaku untuk yang kedua kalinya, serasa satu musim yang aku harapkan.
"Untuk pembuat kopi setiaku.
Sudah satu musim aku menyeruput kopimu. Yang semakin kelam setiap kali aku seruput. Hitam. Penuh luka juga amarah. Aku jadi bertanya-tanya, lalu berfikir. Apakah bubuk kopi yang kupesan terlalu banyak? Tak bisakah gula menghilangkan pahitnya? Tak bisakah sekotak esbatu mencairkan lukanya?
Sudah banyak musim kita lalui sebelumnya. Kadang secangkir kopi pahit yang semakin hitam. Kadang secangkir susu yang semakin manis ujungnya. Lalu, tak bisakah aku pesan secangkir kopi manis kali ini? Untuk mengobati luka juga amarahmu pada gagalnya cinta kita. Maafkan aku untuk bubuk kopi yang terlalu banyak kupesan di kehidupan sebelumnya.
Untuk pembuat kopi setiaku, aku merindukanmu, aku masih mencintaimu. Aku akan tetap di sini, menantikan secangkir kopimu. Penuh dengan gula, penuh dengan sekotak esbatu. Jangan biarkan ada hitam. Jangan biarkan ada kelam."
 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos