"Baiklah, secangkir saja. Kopi tanpa gula. Biar kurasakan sepahit apa rasanya. Biar tak mampu lagi kurasakan luka."
Kataku pada pelayan laki-laki yang terus berdiri di sampingku.
Ia hampir limabelas menit di sana, hanya memandangku melihat buku menu. Yang terus kubolak balik. Lihat buku menu sebentar, memandangnya terkadang. Tapi ia tetap tak bersuara. Hanya pandangan kosong berharap aku segera memesan sesuatu.
Kumohon katakanlah sesuatu. Ku lemparkan senyum sembari memandangnya.
"Bukankah hidup memang sepahit kopi?". Dia tak juga bersuara. Tak menjawab. Hanya tersenyum, lalu permisi dan berlalu ke dalam bar nya.
Sepuluh menit aku menunggunya kembali. Tapi serasa satu musim telah melaluiku. Aku melihat kesekitar. Mencari sesuatu. Nanar. Atau berusaha menemukan sesuatu? Kesempatan kedua misalnya?
Pelayan pria itu kembali lagi padaku. Serasa satu musim telah menghampiriku.
"Hidup memang pahit. Tapi ada banyak yang mampu membuatnya lebih manis. Seperti kopi, kau tambahkan gula bila kau suka. Kau berikan susu bila kau mau. Sekotak es batu pula bila kau ingin. Jadi saya setuju hidup seperti kopi."
"Begitu kah?"
"Ya."
"Jadi menurutmu, hidupku adalah kopi yang seperti apa?"
"Kopi yang terlalu manis hingga menjadi pahit. Kau harus tahu kapan harus mengurangi kadar manismu. Atau berhenti menambahkan bubuk kopiku."
Aku hanya tersenyum sambil memalihkan pandanganku ke secangkir kopi di mejaku.
Hitam. Kuseruput pelan-pelan. Dia dengan cepat berjalan ke arah meja bartender di belakangku. Memandangku. Sedikit tersenyum. Atau sinis melihatku? Lalu berlalu, serasa satu musim telah meninggalkanku.
Hampir setiap sore aku berkunjung ke bar ini. Di jam dan detik yang sama. Satu tempat kosong selalu ia siapkan untukku. Atau mungkin itu hanya kata egoku saja. Dan pria tinggi bertubuh putih sedingin pualam itu, adalah orang yang sama yang selalu memberikan kopi kepadaku. Rasanya tak pernah berubah. Masih hitam. Pahit. Kelam. Aku masih menantikan kopinya berubah manis. Aku masih menantikannya, serasa satu musim yang aku harapkan.
Kuseruput kembali kopi buatannya. Yang semakin kelam setiap seruputannya. Antara aku dan si pembuat kopi; Tak perlu banyak bicara. Kata seperti tak mampu lagi mewakili rasaku padanya. Dan kata seperti tak mampu lagi mewakili dingin dan kelam dendamnya padaku. Keseruput kembali kopi buatannya, hingga tak ada lagi yang tersisa. Kubangkit dari tempatku lalu berjalan ke arah bartender. Secarik kertas kuberikan padanya.
"Ini pesanku yang terakhir untuknya, kumohon, kali ini saja biarkan dia membacanya".
Kubangkit dari tempat bartender lalu berjalan ke arah pintu. Dalam setiap langkahku ke luar dari bar itu, kulantunkan doa untuk kesempatan kedua. Setidaknya memperbaiki kesalahan yang terlanjur kebuat padanya. Tiap rintihan doaku itu akhirnya yang mengantarkanku ke depan bar. Lalu, Aku masih menantikan kopinya berubah manis. Aku masih menantikannya jatuh mencintaku untuk yang kedua kalinya, serasa satu musim yang aku harapkan.
"Untuk pembuat kopi setiaku.Sudah satu musim aku menyeruput kopimu. Yang semakin kelam setiap kali aku seruput. Hitam. Penuh luka juga amarah. Aku jadi bertanya-tanya, lalu berfikir. Apakah bubuk kopi yang kupesan terlalu banyak? Tak bisakah gula menghilangkan pahitnya? Tak bisakah sekotak esbatu mencairkan lukanya?Sudah banyak musim kita lalui sebelumnya. Kadang secangkir kopi pahit yang semakin hitam. Kadang secangkir susu yang semakin manis ujungnya. Lalu, tak bisakah aku pesan secangkir kopi manis kali ini? Untuk mengobati luka juga amarahmu pada gagalnya cinta kita. Maafkan aku untuk bubuk kopi yang terlalu banyak kupesan di kehidupan sebelumnya.Untuk pembuat kopi setiaku, aku merindukanmu, aku masih mencintaimu. Aku akan tetap di sini, menantikan secangkir kopimu. Penuh dengan gula, penuh dengan sekotak esbatu. Jangan biarkan ada hitam. Jangan biarkan ada kelam."


0 comments:
Posting Komentar