Tunggu sebentar, diam di situ. Aku sedang menulis kalimat pertama yang harus kusampaikan. Haruskah tentang kisah betapa ku menyukaimu? Atau tentang sulitnya berpisah? Tunggu sebentar, diam di situ. Aku akan menulis kalimat pertama, yang tak bisa kulakukan.....
Cukupkan tentang kamu.
Itu kata-kata yang selalu otakku teriakkan kepada hatiku. Karena nyatanya kita tidak pernah lebih dari teman. Tapi mengapa rasanya berat sekali baginya? Untuk sekedar mendengar nasehat otak. Untuk sekedar meredakan kecemasannya. Untuk sekedar melupakan sedikit ketakutannya.
Cukupkan tentang kamu. Sederhana, tapi mengapa rasanya tak bisa kulakukan? Sulit ku berhenti. Sulit ku membenci. Sulit ku melupakan.
Ya, tetaplah di sana. Baca saja kalimat-kalimat selanjutnya dari tulisan ini. Mungkin akhirnya kau dapat sedikit pencerahan mengapa aku ada di sini. Kali ini, haruskah kusampaikan kisah tentang betapa ku menyukaimu? Iya, aku di sini. Masih di sini. Tak jua ingin pergi. Tak bisa. Tak tahu kapan lelahnya. Bergantung pada harapan. Kosong. Pura-pura bahagia, padahal sudah mulai bertanya-tanya. Haruskah kucukupkan tentang kamu? Bergantung pada harapan. Ringkih. Pura-pura kuat, padahal sudah mulai gelisah. Tak adakah kesempatan itu?
Tunggu sebentar, kumohon tunggu lah sebentar lagi. Aku saja masih berdiri di titik ini. Kita. Ya sebenarnya kita memang masih di titik ini. Sama, tak pernah berubah dari awalnya. Tak maju, tak mundur pula. Aku harus ceritakan bagaimana aku masih disini.
Harapan. Dia lah yang membuatku terjaga di titik ini. Tetap dalam perasaan yang sama, namun dengan jarak yang berbeda. Harapan. Dia lah yang membuatku nyaman di titik ini. Tetap dalam doa yang sama, namun dengan intensitas yang lebih lama. Karena bagaimana bisa kulepaskan seseorang yang dengan melihatnya saja sudah membuatku bahagia?
Tunggu sebentar, tetaplah di sana. Berdiri di titik yang sama, hingga harapan mengantarmu kepada setiap jawaban doaku. Kuputuskan hatiku lah pemenang kali ini. Otakku biar jadi nomer dua. Tak lagi kubertanya, haruskah kucukupkan tentangmu. Karena aku tak pernah merasa cukup tentangmu. Karena ingin terus kurasakan bahagia itu. Karena kupercaya harapan itu nyata. Semoga dia membukakan kesempatan itu untukku.


0 comments:
Posting Komentar