Kamis, 07 September 2017

Senyum Teduh

Posted by nofi.hidayanti at September 07, 2017 0 comments
Teruntuk, pemilik senyum terteduh di sana.
Bagaimana harimu? Bagaimana pagi dinginmu? Bagaimana malam panjangmu? Apakah cukup bahagia dirimu? Apakah cukup kenyang sarapanmu hari ini? Adakah kopi yang tersisa di cangkir-cangkir bekasmu? Adakah yang membuatmu kesal dan sedih? Hari ini aku berjalan di rindu yang sama. Masih berlanjut, entah dimana ujung jalan ini. Semakin merindukanmu, karena tak lagi kudapat senyum terteduh itu di barisan chat milikku. Semakin merindukanmu, karena tak bisa lagi kudengar tawa darimu. Semakin merindukanmu, meski ribuan kali aku katakan semua baik-baik saja. Semakin merindukanmu, meski sejuta kali aku katakan telah melepasmu.
Hai, pemilik senyum terteduh di sana.

Kurasa

Posted by nofi.hidayanti at September 07, 2017 0 comments
Kurasa, bila kita telah memutuskan untuk menyukai seseorang, kita juga harus belajar untuk melepaskannya. Kelak. Entah kapan. Seminggu sesudah menyukainya. Atau sehari sebelumnya. Seperti hujan. Menyukainya seperti hujan di sore hari. Kadang terasa begitu meneduhkan. Kadang terasa begitu menyesakkan. Aku tahu tak bisa lama-lama larut dalam dinginnya. Aku tahu, entah kapan, seminggu setelahnya, atau setahun sesudahnya, aku harus pergi darinya. Karena akhirnya kamu tahu, bukan kamu yang menjadi rumah tempat kembali untuknya. Tidak lagi. Jadi kuputuskan untuk segera melepaskannya.
 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos