Kamis, 07 September 2017

Senyum Teduh

Posted by nofi.hidayanti at September 07, 2017
Teruntuk, pemilik senyum terteduh di sana.
Bagaimana harimu? Bagaimana pagi dinginmu? Bagaimana malam panjangmu? Apakah cukup bahagia dirimu? Apakah cukup kenyang sarapanmu hari ini? Adakah kopi yang tersisa di cangkir-cangkir bekasmu? Adakah yang membuatmu kesal dan sedih? Hari ini aku berjalan di rindu yang sama. Masih berlanjut, entah dimana ujung jalan ini. Semakin merindukanmu, karena tak lagi kudapat senyum terteduh itu di barisan chat milikku. Semakin merindukanmu, karena tak bisa lagi kudengar tawa darimu. Semakin merindukanmu, meski ribuan kali aku katakan semua baik-baik saja. Semakin merindukanmu, meski sejuta kali aku katakan telah melepasmu.
Hai, pemilik senyum terteduh di sana.
Bagaimana perasaanmu? Bagaimana sehatmu? Bagaimana mimpi-mimpimu? Apakah cukup tidurmu? Apakah malaikat siap siaga menjaga nyenyakmu? Adakah makanan yang kau singkirkan hari ini karena tak suka rasanya? Bagaimana kamu merawat setiap hobimu? Hari ini aku sedang berusaha menahan egoku. Betapa ingin aku lari ke arahmu lari memelukku erat. Hanya milikku saja. Betapa ingin aku menggenggam kedua tangan itu. Hanya sebentar saja. Benar-benar aku sedang menahan egoku. 
Hai, pemilik senyum terteduh di sana. 
Aku punya kabar baik dan buruk untukmu. Kabar baiknya, aku masih merawat hal-hal baik yang kau ajarkan. Aku masih olahraga, menjaga makanku, mencukupkan tidurku. Aku masih menjaga janjiku. Berjalan, tumbuh, dan berubah menjadi lebih baik. Memantaskan diri. Meski kini tak ada kamu lagi yang mengawasi. Meski kini aku kembali harus menahan egoku. Betapa ingin aku mengabarkanmu, betapa girangnya aku ketika ukuran baju turun beberapa inchi. Meski kini aku benar-benar harus menahan egoku.
Lalu, kabar buruknya, hatiku. Aku baik-baik saja. Benar benar baik-baik. Tapi sekedar itu. Aku baik-baik saja. Maaf karena kali ini aku belum bisa berjanji untuk bahagia. Maaf karena melepasmu aku harap hanya sekedar mimpi buruk di hari Minggu.
Hai, pemilik senyum terteduh di sana
Kabar baik dan buruknya, aku bahagia asal kamu bahagia. Rasanya, sekedar tahu kamu tetap hidup dan dalam kondisi sehat, sudah cukup bagiku. Entah apa yang sedang kamu lakukan, entah bagaimana rasamu padaku, entah sedang duduk di warung kopi mana, entah sedang mengirim pesan rindu ke siapa, tak berarti bagiku. Rasanya, asal kamu bahagia, aku tak mengapa. 

dari seseorang yang merindukanmu dalam jarak.

0 comments:

Posting Komentar

 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos