Kamis, 07 September 2017

Kurasa

Posted by nofi.hidayanti at September 07, 2017
Kurasa, bila kita telah memutuskan untuk menyukai seseorang, kita juga harus belajar untuk melepaskannya. Kelak. Entah kapan. Seminggu sesudah menyukainya. Atau sehari sebelumnya. Seperti hujan. Menyukainya seperti hujan di sore hari. Kadang terasa begitu meneduhkan. Kadang terasa begitu menyesakkan. Aku tahu tak bisa lama-lama larut dalam dinginnya. Aku tahu, entah kapan, seminggu setelahnya, atau setahun sesudahnya, aku harus pergi darinya. Karena akhirnya kamu tahu, bukan kamu yang menjadi rumah tempat kembali untuknya. Tidak lagi. Jadi kuputuskan untuk segera melepaskannya.

Kurasa, di tengah pergiku, malamku semakin penuh bayangmu. Bagaimana kabarmu? Bagaimana tidurmu? Cukup nyenyak kah? Apa harimu bahagia seperti sebelum pergiku. Kalau kamu mau tahu, aku tidak dalam kondisi baik. Setidaknya, aku belum baik. Tidak sedih. Tidak bisa sedih lagi kurasa. Tapi juga belum bisa bahagia. Di tengah senduku, siangku semakin penuh tentangmu. Bagaimana rindu yang kutitipkan tempo hari? Apakah ia masih membuatmu kesal? Aku sudah mati-matian menahannya. Tapi di seperempat malam, ia semakin menjadi-jadi menggangguku. Ia semakin meronta menyebut namamu. Jadi kali ini dengar nasihatku sekali saja. Ambil jaket tertebalmu dari pojok lemari. Aku semakin khawatir rindu membuatmu semakin menggigil karena dinginnya.
Kurasa, bila kita telah memutuskan untuk melepaskan seseorang, kita juga harus belajar ikhlas untuk mendoakan bahagianya. Juga memaafkan tentang kita. Memaafkan keangkuhan diri sendiri karena telah jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama. Memaafkan kebodohan diri sendiri karena kita telah terluka berkali-kali pada orang yang sama.  Memaafkan dia karena begitu mudah membuatku jatuh cinta berkali-kali dengannya. Memaafkan dia karena telah membuatku terluka berkali-kali karenanya.
Kurasa, entah bagaimana, kisah ini adalah penebus dosa kehidupanku sebelumnya. Kurasa, entah bagaimana, Tuhan sedang menegurku dengan kepergiannya. Tapi entah juga, aku masih ingin bertemu dengannya. Lekas lari dan lenyap dalam peluk hangatnya. Memanggil namanya dengan hasratku ingin menyebutnya. Mendengar tawa menyenangkannya. Larut dalam semua cerita dan kisah hidupnya. Lalu terbangun di samping pemilik senyum paling teduh itu. Ah, kurasa aku belum mampu melepasnya.

0 comments:

Posting Komentar

 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos