Jumat, 22 Juli 2016

Stiletto Tinggi

Posted by nofi.hidayanti at Juli 22, 2016 0 comments
Bulan belum juga puas menunjukkan pesonanya. Sinar, juga cantiknya dalam gelap. Tapi matahari telah sombong menggantikan sosoknya. Dia tersenyum ketika melihat gadis-gadis kecil itu dengan matanya yang masih mengantuk, harus berlomba mendapatnya kursinya. Ada yang sedikit berlari masuk ke peron-peron stasiun kota dengan kaki yang terasa begitu berat. Telapak mereka memerah, merekah, kemudia membiru dan membengkak. Bekas-bekas stiletto berhak 7 senti, mungkin 12 senti, tertinggal dalam di telapak mereka. Yang semakin dalam setiap kali kaki mereka bergerak. Yang semakin dalam setiap kali kaki mereka menahan tubuhnya. Yang semakin dalam dan dalam dan dalam setiap detiknya.

Teng!!! Jam dinding sebesar rembulan itu menujukkan pukul 7. Terlalu pagi untuk gadis pemuja malam  ini bergegas bangun. Mandi, mandi, ritual bersetubuh dengan air yang rasa dinginnya menusuk sampe dia ingin tidur lagi saja. Solek, bersolek, mengambil peran sebagai perempuan manis dan menawan untuk menyenangkan hati bos besar. Semprot parfumnya di sana, di sini, tutupi semua bau busuk sisa-sisa minum semalam. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Dia sedikit berlari masuk ke peron-peron stasiun kota dengan kaki, dan tubuh, yang terasa begitu berat. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Telapak kakinya memerah, merekah, kemudian membiru dan membengkak. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Bekas-bekas stiletto berhak 7 centi, mungkin 12 senti, tertinggal dalam di telapaknya. Yang semakin dalam setiap kali kakinya bergerak. Yang semakin dalam setiap kali kakinya menahan tubuhnya. Yang semakin dalam dan dalam dan dalam setiap detiknya.

Gadis pemuja malam itu akhirnya menang dalam pertempuran. Ia duduk lesu diantara pemenang lainnya sambil memejamkan matanya lelap. Semakin lelap hingga ia terbawa dalam mimpinya. Ia sedang berdiri tegap di depan sebuah meja besar. Berbentuk setengah lingkaran, yang mampu menutup setengah tubuhnya. Kakinya sudah kepalang gemetar menahan setiap piluh yang ingin teriak kalau mereka bisa. Garis biru dikedua telapak kakinya seakan berkata, "Bebaskan aku dari sini". Stiletto 12 senti berwarna merah mawar itu seakan bergigi runcing dan siap menelan sesenti dua senti garis biru dikedua telapak kakinya. Lalu gadis pemuja malam itu hanya bisa memasang senyum pada satu, dua, tiga, empat, mungkin sepuluh bos yang duduk dengan santai di hadapannya. Sepatu mereka datar. Tidak beruncing. Tidak 12 centi. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kaki sepuluh bos. Sedetik kemudian, ketika para bos keluar dari ruangan itu, atau lebih seperti neraka baginya, ia bisa bernafas panjang. Dilepaskannya stiletto 12 senti itu, berharap ia bisa bebas dan menjauh selamanya dari pembunuh garis kakinya. Lalu melompat bebas, bebas karena kaki-kakinya bisa kembali menyentuh bumi.
Ia kembali dibawa kepada mimpi buruk lainnya. Sekarang ia ada di sebuah ujung tangga. Di tangannya ada satu tumbuk file yang harus di tanda tangani satu, dua, tiga, mungkin sepuluh bos. Lift kantornya mati di saat yang tepat. Ia kembali menarik nafas panjang dan memulai mengangkat kakinya. Stiletto 7 senti berwarna maroon sudah menampakkan gigi runcingnya lalu tertawa kencang sambil menatapnya. Ia teriak dan dibangunkan di mimpi lainnya. Kini ia sedang berdansa dengan seorang teman lelaki yang ia kenal lewat pesta. Stiletto 7 senti berwarna merah muda sudah berada di kedua kakinya. Ini adalah pesta pernikahan teman baiknya, atau harus ia anggap seperti itu. Ia mengenakan gaun berwarna senada dengan pilihan tampilan wajah super hits khas perempuan kota. Disebarkannya senyum itu, sambil menahan pegal di kakinya. Ia harus tampil sempurna, semua melihatnya. Ia berdansa, semakin dalam hingga lupa kakinya tak lagi mengingat bumi. Kakinya telah lupa, pada siapa ia harus bersama. Lalu yang ia ingat kemudian, tubuhnya sudah di bumi. Stiletto itu tidak menelan kakinya, tapi melempar kakinya keluar hingga jauh darinya.
"Teng!!!" ia terbangun dari perjalanan mimpi panjangnya. Tapi itu seperti kenyataa buruk yang ingin ia buang jauh-jauh. Sepatu flat rata sudah manis di kakinya. Ia tidak beruncing. Tidak 12 senti. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kakinya. Sepatu flat itu tersenyum lalu menemani langkahnya keluar dari gerbong kereta. Stiletto yang telah melempar kakinya keluar hingga jauh darinya, terjauh, terpuruk, telah ia lupakan semenjak ia terbangun dari mimpinya. Ah, itu bukan sekedar mimpi. Itu benar-benar kenyataan buruk yang ingin ia buang jauh-jauh.
 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos