Saya baru saja meletakkan tas gendong penuh milik
saya ke dipan ketika Ibu masuk terburu-buru. Ia sedikit berteriak ketika
menyebut nama saya. Saya menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengiyakan
semua celotehannya.
“Kenapa kamu suka sekali pulang terlambat? Cepat
ganti bajumu. Makan habis sisa makanan di meja makan, lalu pergi cuci semua
piring kotor. Ibu sudah tua, tak sanggup lagi mengurus rumah ini seorang diri.
Satu bakul pakaian sudah ibu cuci. Tugasmu melanjutkan menjemurnya di halaman
belakang”.
“Baik, bu.”
Tak lama kemudian, kakak tertua saya, Mas Andi,
datang dengan pakaian lusuhnya. Wajahnya tampak ceria. Saya menduga-duga, dia
baru saja bermain bola sepak di lapangan yang tak jauh dari sekolah. Apalagi
seragam kotor karena tanah.
“Andi...Andi...Ayo lekas makan. Setelah ini bantu Bapak
di ladang.”
“Baik bu.” Wajahnya terlalu ceria.

