Saya baru saja meletakkan tas gendong penuh milik
saya ke dipan ketika Ibu masuk terburu-buru. Ia sedikit berteriak ketika
menyebut nama saya. Saya menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengiyakan
semua celotehannya.
“Kenapa kamu suka sekali pulang terlambat? Cepat
ganti bajumu. Makan habis sisa makanan di meja makan, lalu pergi cuci semua
piring kotor. Ibu sudah tua, tak sanggup lagi mengurus rumah ini seorang diri.
Satu bakul pakaian sudah ibu cuci. Tugasmu melanjutkan menjemurnya di halaman
belakang”.
“Baik, bu.”
Tak lama kemudian, kakak tertua saya, Mas Andi,
datang dengan pakaian lusuhnya. Wajahnya tampak ceria. Saya menduga-duga, dia
baru saja bermain bola sepak di lapangan yang tak jauh dari sekolah. Apalagi
seragam kotor karena tanah.
“Andi...Andi...Ayo lekas makan. Setelah ini bantu Bapak
di ladang.”
“Baik bu.” Wajahnya terlalu ceria.
Beginilah keluarga saya. Atau beginilah nasib saya.
Selepas pulang sekolah saya tidak bisa bersantai-santai di kamar. Ada tumpukan
piring kotor menanti dimandikan oleh saya. Ada tumpukan pakaian bersih menanti
dijemur oleh saya. Ada debu-debu tak terlihat yang menanti diusir oleh saya.
Ibu sudah menginjak angka limapuluh tahun. Tenanganya tak lagi sekuat muda
dulu. Ibu lebih banyak mengeluh pinggangnya sakit ketika menyuci, atau menyapu
seisi rumah. Siapa lagi yang akan mewariskan semua tugasnya kecuali saya?
Satu-satunya anak perempuan di rumah ini. Mas Andi diberikan kebebasan dari
semua hal tersebut. Ibu juga tak akan berani meminta bantuan Bapak untuk
sekedar mengambilkan sapu di dapur. Lagi lagi saya yang akan dicereweti.
Jangan sangka tugas saya sederhana. Jangan sangka
tugas saya tidak melelahkan. Tidak ada hari libur untuk semua pekerjaan ini.
Bila hari minggu tiba, pekerjaan saya bertambah beberapa kali lipat dengan
mengganti sprei ataupun taplak meja-meja. Sedangkan Mas Andi bisa dengan santai
bermain di lapangan dekat sekolah.
⃰ ⃰ ⃰
Selepas semua orang selesai makan malam, Ibu mulai
mengeluarkan suaranya. Dari raut wajahnya, saya bisa menduga ada hal serius
yang ingin Ibu bahas kepada kami. Saya menghela nafas dalam. Saya juga lihat,
Bapak sama seriusnya dengan Ibu.
“Sebentar lagi, kalian akan menerima rapor dari
sekolah. Itu artinya, Ibu dan Bapak harus mempersiapkan biaya untuk kenaikan
kelas kalian. Apalagi Mas Andi akan lulus SMA. Akan ada biaya tambahan untuk
wisuda Mas Andi. Saat ini, BBM sedang naik. Tapi gaji Bapak tidak ikutan naik.
Ibu makin pusing karena semua harga di pasar jadi naik. Jujur saya, Bapak tidak
punya uang yang cukup”.
“Aku bisa pergi ke rumah Bude lalu meminjam uang
kepada Bude atau temanku, Bu.” Saya memotong pembicaraan Ibu.
“Tidak bisa, Nani. Ibu masih punya banyak hutang
pada Budemu itu. Ibu tidak enak hati bila terus merepotkan beliau. Apalagi putrinya
sedang sakit sejak sebulan lalu. Mana mungkin Ibu meminjam lagi kepada Bude.”
“Kalau begitu, kita pinjam saja kepada Bude atau
Pakde di Jawa, Bu. Nani akan pergi naik bus biar irit. Mereka pasti akan
membantu.”
“Rumah kita di Jawa sudah habis dijual untuk
membayar hutang. Ibu tak tahu lagi kemana Bude dan Pakdemu pergi. Mereka tak
pernah mengirim alamat mereka kepada kita. Hanya Bude Ainun yang tersisa.
Saya kehabisan akal. Saya rasa Ibu merasakan hal
yang sama. Bapak tak kalah putus asa. Mas Andi pun bersedia menjual motor bekas
miliknya, namun langsung dibantah Bapak yang terlihat semakin putus asa.
“Jangan, Andi. Jangan. Itu adalah satu-satunya
barang kita yang bernilai. Motor itu bisa digunakan untuk mengantar Bapak ke
ladang juga mengantar Ibu ke pasar di ujung kota. Atau mengantar salah seorang
dari kita yang sakit. Itu jauh lebih irit daripada menghabiskan setiap receh
untuk naik angkot ke kota”.
“Ibu dan Bapak sudah memikirkan hal ini beberapa
malam. Dan Ibu rasa ini adalah jalan terbaik yang bisa kita ambil. Ibu
memutuskan untuk memilih salah seorang dari kalian berhenti sekolah tahun ini.
Tidak ada lagi hal yang bisa Ibu lakukan”, Ibu terlihat sedikit emosional kali
ini.
“Nani, maafkan Ibu. Kamu harus mengalah dari
kakakmu, Mas Andi. Biarkanlah Mas mu menyelesaikan sekolahnya lalu bekerja
membantu Bapak. Doakan saja rejeki mereka berdua bagus. Kalau kita punya uang
yang cukup, kamu bisa sekolah lagi”, sambung Ibu.
“Tapi mengapa harus Nani yang putus sekolah, Bu?
Bukankah prestasi Nani cukup baik? Nani juga bisa lulus, kerja di kota,
penghasilan Nani akan mencukupi kebutuhan sehari-hari, Bu”. Saya tak kalah
emosional dari Ibu. Rasanya semua keluh itu pecah dari setiap kalimat yang saya
keluarkan. Ada rasa kekesalan dan kekecewaan diantaranya yang dialirkan lewat
butir-butir air mata.
“Maafkan Ibu, Nani. Lagipula buat apa kamu
capek-capek sekolah lalu kerja di kota? Tugasmu adalah mengurus rumah. Kamu
tahu betapa tuanya Ibumu ini. Kamu tahu, tidak ada yang mengurus rumah bila
kamu pergi. Kamu lebih baik belajar di rumah bersama Ibu, belajar mengurus
rumah dan memasak. Ibu akan mencarikanmu jodoh yang layak sehingga kehidupan
kita membaik.”
Kekesalan saya semakin memuncak. Air mata ini
keluar, membanjiri wajah polos saya. Seisi rumah rasanya semakin tegang. Saya
melirik, Ibu dan Bapak sangat putus asa. Saya melirik, Mas Andi hanya bisa diam
terpaku karena tidak tahu harus membela siapa. Saya melirik, tidak ada lagi
yang ingin berbicara lebih. Saya melirik, keputusan itu sudah disepakati oleh
tiga dari empat orang di rumah ini.
Tangis saya semakin kencang. Saya bangun dari duduk
saya lalu sedikit berlari masuk ke kamar. Saya tutup rapat pintu kamar yang
terbuat dari triplek berwarna coklat tua itu lalu tenggelam dalam pelukan
bantal hijau muda. Bayangan lulus dengan hasil membanggakan membayangi fikiran
saya. Bayangan bekerja di kota besar ikut membayangi fikiran saya. Kedua
bayangan itu lalu buyar dengan semua percakapan singkat dengan Ibu. Tangis saya
semakin kencang.
⃰ ⃰ ⃰
Dua bulan kemudian, Mas Andi dinyatakan lulus dari
SMA. Bapak langsung membantu Mas Andi mencari kerja sebagai buruh di kebun teh
yang tidak jauh dari rumah. Tanpa fikir panjang, pemilik kebun teh itu setuju
memperkerjakan Mas Andi. Dua bulan kemudian itu pula, nasib saya tak banyak
berubah. Saya tetap menjadi asisten pribadi Ibu untuk mengurus rumah. Sekolah
pun saya harus banyak bersabar sampai Mas Andi punya cukup uang membiayai
sekolah saya lagi. Melihat ke arah Mas Andi yang semakin riang tawanya, saya
tak tahu harus merasa senang atau iri.
Dua bulan kemudian pula, seorang pria pemilik kebun
teh datang ke rumah melamar. Ibu dan Bapak terlihat sangat senang dengan
kedatangan pesohor desa itu. Wajahnya tidak tua, mungkin angka tigapuluh awal.
Tapi tetap saja dia terlalu tua untuk saya. Akhirnya saya tahu alasan dibalik
diterimanya Mas Andi di kebun teh tersebut. Pria itu berpakain rapih, dengan
kemeja berwarna biru muda dan setelan celana bahan. Di sampingnya, berdiri
perempuan dan laki-laki lebih tua dengan pakaian yang tidak kalah necis.
Bapak mempersilahkan mereka bertiga duduk lalu Ibu
datang membawa beragam jamuan khas orang desa. Tanpa basa-basi berlebihan, pria
itu menyampaikan maksud hatinya datang ke rumah. Tanpa basa-basi berlebihan,
Ibu mengiyakan semua maksud hati pria itu.
Saya menghela nafas panjang untuk yang kesekian
kalinya. Kekecewaan di hati ini semakin memuncak. Mau menangis pun rasanya
sudah tidak mampu. Ketika mendengar semua jawaban dari Ibu, rasanya saya ingin
lari dan menenggalamkan diri ke dalam pelukan bantal, sama seperti yang pernah
saya lakukan dulu. Bayangan lulus dengan hasil membanggakan membayangi fikiran
saya. Bayangan bekerja di kota besar ikut membayangi fikiran saya. Kedua
bayangan itu lalu buyar dengan semua jawaban singkat Ibu. Tangis saya semakin
kencang di dalam hati.


0 comments:
Posting Komentar