Senin, 01 Desember 2014

Kisah Klasik Perempuan

Posted by nofi.hidayanti at Desember 01, 2014
Saya baru saja meletakkan tas gendong penuh milik saya ke dipan ketika Ibu masuk terburu-buru. Ia sedikit berteriak ketika menyebut nama saya. Saya menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengiyakan semua celotehannya.
“Kenapa kamu suka sekali pulang terlambat? Cepat ganti bajumu. Makan habis sisa makanan di meja makan, lalu pergi cuci semua piring kotor. Ibu sudah tua, tak sanggup lagi mengurus rumah ini seorang diri. Satu bakul pakaian sudah ibu cuci. Tugasmu melanjutkan menjemurnya di halaman belakang”.
“Baik, bu.”
Tak lama kemudian, kakak tertua saya, Mas Andi, datang dengan pakaian lusuhnya. Wajahnya tampak ceria. Saya menduga-duga, dia baru saja bermain bola sepak di lapangan yang tak jauh dari sekolah. Apalagi seragam kotor karena tanah.
“Andi...Andi...Ayo lekas makan. Setelah ini bantu Bapak di ladang.”
“Baik bu.” Wajahnya terlalu ceria.

Beginilah keluarga saya. Atau beginilah nasib saya. Selepas pulang sekolah saya tidak bisa bersantai-santai di kamar. Ada tumpukan piring kotor menanti dimandikan oleh saya. Ada tumpukan pakaian bersih menanti dijemur oleh saya. Ada debu-debu tak terlihat yang menanti diusir oleh saya. Ibu sudah menginjak angka limapuluh tahun. Tenanganya tak lagi sekuat muda dulu. Ibu lebih banyak mengeluh pinggangnya sakit ketika menyuci, atau menyapu seisi rumah. Siapa lagi yang akan mewariskan semua tugasnya kecuali saya? Satu-satunya anak perempuan di rumah ini. Mas Andi diberikan kebebasan dari semua hal tersebut. Ibu juga tak akan berani meminta bantuan Bapak untuk sekedar mengambilkan sapu di dapur. Lagi lagi saya yang akan dicereweti.
Jangan sangka tugas saya sederhana. Jangan sangka tugas saya tidak melelahkan. Tidak ada hari libur untuk semua pekerjaan ini. Bila hari minggu tiba, pekerjaan saya bertambah beberapa kali lipat dengan mengganti sprei ataupun taplak meja-meja. Sedangkan Mas Andi bisa dengan santai bermain di lapangan dekat sekolah.
   
Selepas semua orang selesai makan malam, Ibu mulai mengeluarkan suaranya. Dari raut wajahnya, saya bisa menduga ada hal serius yang ingin Ibu bahas kepada kami. Saya menghela nafas dalam. Saya juga lihat, Bapak sama seriusnya dengan Ibu.
“Sebentar lagi, kalian akan menerima rapor dari sekolah. Itu artinya, Ibu dan Bapak harus mempersiapkan biaya untuk kenaikan kelas kalian. Apalagi Mas Andi akan lulus SMA. Akan ada biaya tambahan untuk wisuda Mas Andi. Saat ini, BBM sedang naik. Tapi gaji Bapak tidak ikutan naik. Ibu makin pusing karena semua harga di pasar jadi naik. Jujur saya, Bapak tidak punya uang yang cukup”.
“Aku bisa pergi ke rumah Bude lalu meminjam uang kepada Bude atau temanku, Bu.” Saya memotong pembicaraan Ibu.
“Tidak bisa, Nani. Ibu masih punya banyak hutang pada Budemu itu. Ibu tidak enak hati bila terus merepotkan beliau. Apalagi putrinya sedang sakit sejak sebulan lalu. Mana mungkin Ibu meminjam lagi kepada Bude.”
“Kalau begitu, kita pinjam saja kepada Bude atau Pakde di Jawa, Bu. Nani akan pergi naik bus biar irit. Mereka pasti akan membantu.”
“Rumah kita di Jawa sudah habis dijual untuk membayar hutang. Ibu tak tahu lagi kemana Bude dan Pakdemu pergi. Mereka tak pernah mengirim alamat mereka kepada kita. Hanya Bude Ainun yang tersisa.
Saya kehabisan akal. Saya rasa Ibu merasakan hal yang sama. Bapak tak kalah putus asa. Mas Andi pun bersedia menjual motor bekas miliknya, namun langsung dibantah Bapak yang terlihat semakin putus asa.
“Jangan, Andi. Jangan. Itu adalah satu-satunya barang kita yang bernilai. Motor itu bisa digunakan untuk mengantar Bapak ke ladang juga mengantar Ibu ke pasar di ujung kota. Atau mengantar salah seorang dari kita yang sakit. Itu jauh lebih irit daripada menghabiskan setiap receh untuk naik angkot ke kota”.
“Ibu dan Bapak sudah memikirkan hal ini beberapa malam. Dan Ibu rasa ini adalah jalan terbaik yang bisa kita ambil. Ibu memutuskan untuk memilih salah seorang dari kalian berhenti sekolah tahun ini. Tidak ada lagi hal yang bisa Ibu lakukan”, Ibu terlihat sedikit emosional kali ini.
“Nani, maafkan Ibu. Kamu harus mengalah dari kakakmu, Mas Andi. Biarkanlah Mas mu menyelesaikan sekolahnya lalu bekerja membantu Bapak. Doakan saja rejeki mereka berdua bagus. Kalau kita punya uang yang cukup, kamu bisa sekolah lagi”, sambung Ibu.
“Tapi mengapa harus Nani yang putus sekolah, Bu? Bukankah prestasi Nani cukup baik? Nani juga bisa lulus, kerja di kota, penghasilan Nani akan mencukupi kebutuhan sehari-hari, Bu”. Saya tak kalah emosional dari Ibu. Rasanya semua keluh itu pecah dari setiap kalimat yang saya keluarkan. Ada rasa kekesalan dan kekecewaan diantaranya yang dialirkan lewat butir-butir air mata.
“Maafkan Ibu, Nani. Lagipula buat apa kamu capek-capek sekolah lalu kerja di kota? Tugasmu adalah mengurus rumah. Kamu tahu betapa tuanya Ibumu ini. Kamu tahu, tidak ada yang mengurus rumah bila kamu pergi. Kamu lebih baik belajar di rumah bersama Ibu, belajar mengurus rumah dan memasak. Ibu akan mencarikanmu jodoh yang layak sehingga kehidupan kita membaik.”
Kekesalan saya semakin memuncak. Air mata ini keluar, membanjiri wajah polos saya. Seisi rumah rasanya semakin tegang. Saya melirik, Ibu dan Bapak sangat putus asa. Saya melirik, Mas Andi hanya bisa diam terpaku karena tidak tahu harus membela siapa. Saya melirik, tidak ada lagi yang ingin berbicara lebih. Saya melirik, keputusan itu sudah disepakati oleh tiga dari empat orang di rumah ini.
Tangis saya semakin kencang. Saya bangun dari duduk saya lalu sedikit berlari masuk ke kamar. Saya tutup rapat pintu kamar yang terbuat dari triplek berwarna coklat tua itu lalu tenggelam dalam pelukan bantal hijau muda. Bayangan lulus dengan hasil membanggakan membayangi fikiran saya. Bayangan bekerja di kota besar ikut membayangi fikiran saya. Kedua bayangan itu lalu buyar dengan semua percakapan singkat dengan Ibu. Tangis saya semakin kencang.
   
Dua bulan kemudian, Mas Andi dinyatakan lulus dari SMA. Bapak langsung membantu Mas Andi mencari kerja sebagai buruh di kebun teh yang tidak jauh dari rumah. Tanpa fikir panjang, pemilik kebun teh itu setuju memperkerjakan Mas Andi. Dua bulan kemudian itu pula, nasib saya tak banyak berubah. Saya tetap menjadi asisten pribadi Ibu untuk mengurus rumah. Sekolah pun saya harus banyak bersabar sampai Mas Andi punya cukup uang membiayai sekolah saya lagi. Melihat ke arah Mas Andi yang semakin riang tawanya, saya tak tahu harus merasa senang atau iri.
Dua bulan kemudian pula, seorang pria pemilik kebun teh datang ke rumah melamar. Ibu dan Bapak terlihat sangat senang dengan kedatangan pesohor desa itu. Wajahnya tidak tua, mungkin angka tigapuluh awal. Tapi tetap saja dia terlalu tua untuk saya. Akhirnya saya tahu alasan dibalik diterimanya Mas Andi di kebun teh tersebut. Pria itu berpakain rapih, dengan kemeja berwarna biru muda dan setelan celana bahan. Di sampingnya, berdiri perempuan dan laki-laki lebih tua dengan pakaian yang tidak kalah necis.
Bapak mempersilahkan mereka bertiga duduk lalu Ibu datang membawa beragam jamuan khas orang desa. Tanpa basa-basi berlebihan, pria itu menyampaikan maksud hatinya datang ke rumah. Tanpa basa-basi berlebihan, Ibu mengiyakan semua maksud hati pria itu.
Saya menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya. Kekecewaan di hati ini semakin memuncak. Mau menangis pun rasanya sudah tidak mampu. Ketika mendengar semua jawaban dari Ibu, rasanya saya ingin lari dan menenggalamkan diri ke dalam pelukan bantal, sama seperti yang pernah saya lakukan dulu. Bayangan lulus dengan hasil membanggakan membayangi fikiran saya. Bayangan bekerja di kota besar ikut membayangi fikiran saya. Kedua bayangan itu lalu buyar dengan semua jawaban singkat Ibu. Tangis saya semakin kencang di dalam hati.


0 comments:

Posting Komentar

 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos