Sabtu, 01 November 2014

Tubuh 31 Tahun

Posted by nofi.hidayanti at November 01, 2014
Mereka menyebut saya dengan nama Mira, kependekan dari “Mirror” katanya. Sepasang manusia yang hidup tanpa nama cinta itulah yang memberikan saya nama Mira. Kata mereka, kelak saya mencerminkan kecantikan  saya di ribuan cermin, membiarkan oranglain terpesona akan  saya. Konyol.
Mereka benar. Saya senang bercermin. Saya akan mengingat pandangan mereka yang menatap mesum ke arah saya setiap saya berjalan ke arah mereka. Mereka mungkin mengira saya masih dua puluhan. Padahal kini usia saya menginjak angka tiga puluh satu. Momok menakutkan bagi para wanita bila bertemu angka tersebut. Akankah saya tetap cantik? Bagaimana tubuh saya? Ah, manusia. Perempuan.

Mereka benar. Saya senang bercermin. Selepas membasuh seluruh tubuh saya, cermin besar di dekat lemari baju akan menjadi tujuan saya. Saya biarkan tubuh saya tanpa sehelai benang pun dihadapannya. Doa mereka akan nama saya sepertinya terwujud. Saya senang bercermin. Tubuh saya ada di sana, di cermin. Suci, bersih. Tinggi saya hanya 165 cm, tapi high heels selalu menjadi jurus jitu. Kulit saya putih mulus, tiada noda. Saya sentuh setiap inci bagian tubuh saya, mulai dari rambut. Rambut panjang dan hitam legam, saya selalu membiarkannya terurai dengan harum yang memikat. Saya sengaja melakukan ini karena rambut menjadi nilai lebih untuk sensualitas saya.
Tangan saya turun menyentuh sepasang alis dan kedua bola mata. Alis ini seperti bulan sabit, dan bola mata saya seperti ping pong. Warna hitam sekelam malam. Hitam tersebut yang akan semakin menghitam di tengahnya. Mata ini yang akan menarik mata-mata pria bersuami untuk menyetubuhi saya. Mata ini yang kata mereka tajam tapi menarik.
Tangan saya melanjutkan perjalanan ke hidung, pipi, dan bibir penuh ini. Haruskah saya mengingat berapa pria yang rela memberikan apa saja hanya untuk mengecup bibir saya ini? Bibir yang penuh, berwarna semerah darah. Ada yang pernah memberikan saya uang, emas, yang penting mereka bisa melakukan apa saja terhadap bibir saya ini. Ah, semakin bertambah bukan daya tarik saya?
Mari saya lanjutkan perjalanan sensual ini. Ada buah dada, perut, puncak kenikmatan di tengah tubuh saya, dan kedua kaki jenjang. Saya perhatikan lekat-lekat, perut saya rata padahal saya pernah mengandung janin. Saya mengelus perut tersebut. Di sini pernah tinggal bayi perempuan bernama Maria yang mati sebulan setelah lahir ke dunia. Kini Maria tinggal surga, katanya. Buah dada saya masih kencang, bulat, ukurannya 36 mungkin. Inikah yang pria tatap ketika saya melintas di hadapan mereka? Ah sungguh, mereka manusia dengan pikiran kotor. Lalu, lubang kenikmatan itu. Saya tak pernah merasa kenikmatan yang mereka rasakan ketika mereka menghujam penisnya ke lubang milikku. Saya belum pernah merasakannya. Saya lebih suka bersenang-senang seorang diri, karena saya sadar tidak ada pria yang mengenal diriku dengan baik. Mereka tidak cukup mahir memberikan kesenangan kepadaku.

Ah, kita sudahi saja semua ini. Saya tahu, kalian akan menelan ludah membayangkan semuanya. Tak apa, saya anggap ini sebagai penghargaan atas tubuh 31 tahun. Lagipula, saya harus berpakaian. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saya harus bekerja, memberikan kenikmatan kepada mereka, pria-pria yang datang dan bersedia membayarku dengan berlian dan kemewahan. Ah, terimakasih Ayah dan Ibu. Setidaknya kalian memberikan saya tubuh indah dan kepuasan dari arti nama. Mira, Mirror, Ah saya memang suka bercermin.

0 comments:

Posting Komentar

 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos