Mereka menyebut saya dengan nama Mira,
kependekan dari “Mirror” katanya. Sepasang manusia yang hidup tanpa nama cinta
itulah yang memberikan saya nama Mira. Kata mereka, kelak saya mencerminkan
kecantikan saya di ribuan cermin,
membiarkan oranglain terpesona akan saya.
Konyol.
Mereka benar. Saya senang bercermin.
Saya akan mengingat pandangan mereka yang menatap mesum ke arah saya setiap
saya berjalan ke arah mereka. Mereka mungkin mengira saya masih dua puluhan.
Padahal kini usia saya menginjak angka tiga puluh satu. Momok menakutkan bagi
para wanita bila bertemu angka tersebut. Akankah saya tetap cantik? Bagaimana
tubuh saya? Ah, manusia. Perempuan.
Mereka benar. Saya senang bercermin. Selepas
membasuh seluruh tubuh saya, cermin besar di dekat lemari baju akan menjadi
tujuan saya. Saya biarkan tubuh saya tanpa sehelai benang pun dihadapannya. Doa
mereka akan nama saya sepertinya terwujud. Saya senang bercermin. Tubuh saya
ada di sana, di cermin. Suci, bersih. Tinggi saya hanya 165 cm, tapi high heels selalu menjadi jurus jitu.
Kulit saya putih mulus, tiada noda. Saya sentuh setiap inci bagian tubuh saya,
mulai dari rambut. Rambut panjang dan hitam legam, saya selalu membiarkannya
terurai dengan harum yang memikat. Saya sengaja melakukan ini karena rambut menjadi
nilai lebih untuk sensualitas saya.
Tangan saya turun menyentuh sepasang
alis dan kedua bola mata. Alis ini seperti bulan sabit, dan bola mata saya
seperti ping pong. Warna hitam sekelam malam. Hitam tersebut yang akan semakin
menghitam di tengahnya. Mata ini yang akan menarik mata-mata pria bersuami
untuk menyetubuhi saya. Mata ini yang kata mereka tajam tapi menarik.
Tangan saya melanjutkan perjalanan ke
hidung, pipi, dan bibir penuh ini. Haruskah saya mengingat berapa pria yang
rela memberikan apa saja hanya untuk mengecup bibir saya ini? Bibir yang penuh,
berwarna semerah darah. Ada yang pernah memberikan saya uang, emas, yang
penting mereka bisa melakukan apa saja terhadap bibir saya ini. Ah, semakin
bertambah bukan daya tarik saya?
Mari saya lanjutkan perjalanan sensual
ini. Ada buah dada, perut, puncak kenikmatan di tengah tubuh saya, dan kedua
kaki jenjang. Saya perhatikan lekat-lekat, perut saya rata padahal saya pernah
mengandung janin. Saya mengelus perut tersebut. Di sini pernah tinggal bayi
perempuan bernama Maria yang mati sebulan setelah lahir ke dunia. Kini Maria
tinggal surga, katanya. Buah dada saya masih kencang, bulat, ukurannya 36
mungkin. Inikah yang pria tatap ketika saya melintas di hadapan mereka? Ah
sungguh, mereka manusia dengan pikiran kotor. Lalu, lubang kenikmatan itu. Saya
tak pernah merasa kenikmatan yang mereka rasakan ketika mereka menghujam
penisnya ke lubang milikku. Saya belum pernah merasakannya. Saya lebih suka bersenang-senang
seorang diri, karena saya sadar tidak ada pria yang mengenal diriku dengan
baik. Mereka tidak cukup mahir memberikan kesenangan kepadaku.
Ah, kita sudahi saja semua ini. Saya
tahu, kalian akan menelan ludah membayangkan semuanya. Tak apa, saya anggap ini
sebagai penghargaan atas tubuh 31 tahun. Lagipula, saya harus berpakaian. Jam
di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saya harus bekerja,
memberikan kenikmatan kepada mereka, pria-pria yang datang dan bersedia
membayarku dengan berlian dan kemewahan. Ah, terimakasih Ayah dan Ibu.
Setidaknya kalian memberikan saya tubuh indah dan kepuasan dari arti nama.
Mira, Mirror, Ah saya memang suka
bercermin.


0 comments:
Posting Komentar