Blog, bolehkah sebentar saja aku menulis? Mencurahkan perasaan yang sudah sesak di ujung detak jantung ini. Mencurahkan perasaan yang tak sanggup lagi kusimpan seorang diri. Hanya dengamu, maka dengarkan saja kumohon. Karena dimana lagi aku bisa menulis panjang lebar tanpa peduli apa kata orang lain?
Blog, sesakit inikah rasanya patah hati? Bagai semua luka yang pernah ada kembali mengingatkan sakitku. Mereka saling dorong mendorong menusuk satu-satunya harapan yang aku miliki. Harapan mencinta lalu dibalas mencinta. Harapan merindu juga dibalas dengan rindu. Harapan yang kini entah kemana lagi larinya. Hingga tak ada lagi selembar pun yang tersisa. Sesakit inikah rasanya patah hati? Entah aku yang bodoh, atau aku yang angkuh. Atau setengah bodoh, lalu setengah angkuh. Terus saja aku bertahan menyukainya dan menutup mata akan luka yang bisa saja hadir. Percaya bahwa bersabar mungkin adalah kunci untuk membuka hatinya. Terus bertahan menyayanginya dan menutup mata bahwa ternyata bukan aku isi doanya. Percaya bahwa rasa tulusku mungkin suatu saat dilirik olehnya. Tersenyum untuknya, meski ribuan pertanyaan terus menghantuiku.
Lalu, blog, benarkah sesakit ini rasanya patah hati? Bolehkah aku menangis juga, sebentar? Karena tak tahu lagi pada harapan mana aku harus bergantung. Karena tak tahu lagi ke arah mana aku harus bersembunyi. Karena aku tak tahu lagi bagaimana belajar menyudahi perasaan yang berkurang saja tidak, justru bertambah. Haruskah aku melepaskannya? Haruskah kusudahi saja? Haruskah kuikhlasan kisahnya? Karena menyukupkan semua tentangnya, satu hal yang paling kubenci. Sudah kucoba sebisaku, tapi tak jua kumampu melakukannya. Haruskah aku bertanya, adakah ku dihatinya? Di ujung benaknya saja? Oh Tuhan. Bolehkah aku menangis dalam satu purnama, sedikit lebih lama?


0 comments:
Posting Komentar