Ada banyak pesan yang akhirnya tidak pernah terkirim ke pemiliknya. Tak cukup banyak keberanianku yang tersisa. Maka kubiarkan habis pada saru pesan yang ada. Satu pesan itu, kira-kira seperti ini bunyinya:
Pada suatu senja, ingin kuajak kamu duduk di suatu taman. Hanya duduk. Benar-benar cukup dengan duduk. Diam. Mendengarmu bernafas. Melihatmu terpejam. Lalu ketika akhirnya kamu bangun, aku akan bacakan satu puisi.
"Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu menelponku manja, bilang cinta, ingin cepat berjumpa. Lalu merajuk bila aku tinggal di balik gagang telepon. Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu mengirim pesan mesra, sekedar bertanya kopi apa yang aku suka, atau bagaimana kabar hari Selasa. Juga menjadi yang pertama dan terakhir memelukku dari jauh dengan satu kata. Menjadi yang paling suka cerita dari siapa yang kamu temui di kereta, hingga makan siangmu yang banyak nasinya. Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu dengan bahagia menggenggam kedua tanganku ketika kita berjalan di pinggir ibukota. Benar-benar berhenti berbagi tawa dengan wanita, dan memutuskan tertawa gila hanya berdua. Menjadi yang paling hangat hanya untuk satu wanita saja. Tentu saja. Tentu saja menantikan semuanya."
Aku kembali diam sejenak. Kulihat wajah senjanya dalam-dalam. Menunggu jawabannya. Dia hanya tersenyum. Kubayar lagi dengan sebuah kecupan manis di pipi kanannya, sambil berbisik.
"Tentu saja. Diantara semuanya, tetap kamu yang paling kunantikan. Cukup dengan kamu. Tak mengapa tak ada telepon suka cita. Tak mengapa tak ada pesan mesra. Tak mengapa ada wanita yang membuatmu juga ceria. Tentu saja. Kamu paling yang kunantikan."
Setelah membaca satu pesan di draft itu, aku benar-benar tersenyum gila. Kuputuskan mengirimnya. Lalu membuang nomor ponselku. Setidaknya kini, pesan itu telah diterima oleh pemiliknya.
0 comments:
Posting Komentar