Ketika kamu mulai menjaga jarak, aku menyesuaikan langkahku. Memperlambat kecepatan dan kadang berhenti sejenak di tempatku. Diam, menangis, terus menyalahkan diri sendiri. Ketika kamu akhirnya berhenti memanggil sebutan sayang, aku pun melakukan kebodohan yang sama. Membuang jauh-jauh kenangan tentang suaramu memanggilku sayang. Kebahagiaan yang tak bisa diganti dengan apapun. Dan entah dimana semua kenangan manis itu sekarang berada. Di antara baris puisi rindu padamu. Atau titik titik kesal pada sikapmu. Ketika kamu mulai bersikap acuh dan angkuh, lagi dan lagi aku melaraskan sikapku. Dulu seminggu tak bertemu, aku akan merajuk mati-matian untuk berjumpa. Meski itu hanya sekedar percakapan ringan di depan kantor. Jarak berapapun, seterik matahari kala itu, aku tak pernah peduli. Rindu ya rindu. Harus bertemu. Kini, aku malah belajar mati-matian untuk tidak merajuk bertemu. Menahan semua gejolak sedih yang ada. Mengalihkan semuanya kepada hal-hal kecil yang tidak ada hubungannya denganmu. Belajar melupakan rindu. Sebodoh itu langkahku. Dan sedingin itu sikapmu.
Lalu, bagaimana jadinya bila kamu memilih tak lagi peduli? Benar-benar berhenti peduli? Apa aku harus tetap mengikuti? Apa aku harus tetap selaras? Berhenti di tempatku yang sekarang saja sudah cukup membuatku patah setengah mati. Melupakan dan melepas yang pernah terjadi saja sudah membuatku hancur setengah mati. Apa aku bisa berhenti peduli tentangmu? Bila itu artinya kematian bagiku?


0 comments:
Posting Komentar