Kutitipkan lembaran surat ini kepada Mama, sebagai bentuk kerinduan yang teramat sangat....
Dear
Mama,
Di
siang hari, si ibu akan selalu menemani putrinya bercerita. Apa saja yang ingin
putrinya ceritakan, ia akan mendengarkan. Ia tak pernah berkata “Cukup”. Ia selalu
bertanya “Kenapa”, “Mengapa, “Ada apa”, dan deretan kalimat tanya lain. Kalaupun
ia tak bertanya dan diam, tak berarti ia tak apa-apa. Ia bisa merasakan
bagaimana perasaan putrinya. Apakah sedih dan terluka. Atau bahagia. Ia tahu
itu. Hanya saja dia memilih tak bertanya lebih lanjut. Ketika putrinya jauh, ia
kesepian. Di siang hari ia kesepian. Tak ada putrinya yang menemaninya. Putrinya
juga kesepian. Tak ada mama yang menemaninya.
Ketika
mendekati waktu berbuka, si ibu dan putrinya akan menyiapkan segala apa yang
diinginkan untuk membatalkan puasa mereka. Mungkin secangkir cocktail kesukaan
putrinya. Ah, tentu saja. Si ibu selalu menyiapkan es buah campuran nanas dan
pepaya semangkok besar di lemari es. Semuanya untuk putrinya. Kalau ini tidak
ada, putrinya akan mengaduh seharian dan mengolok-olok si ibu. Putrinya tak
menyukai gorengan. Mie goreng dengan bumbu kacang favoritnya untuk berbuka. Si ibu
akan bertanya mana yang lebih disuka putrinya? Bukannya ia tak tahu, ia hanya
bertanya-tanya dari semua makanan yang disukai putrinya, manakah yang ingin
dimakannya hari itu? Maka deretan makanan manis seperti pisang molen atau bubur
sumsun tersusun rapih di dekat putrinya. Untuk makanan utama pun dari semenjak
siang, si ibu akan bertanya. “Hari ini kamu ingin makan apa?”.
Peristiwa
ini terus berulang selama duapuluh satu tahun usia anaknya. Seharusnya sudah
sampai di usia dewasa, tapi bagi si ibu, putrinya tetap gadis kecilnya yang
dulu. Tetap dimanjakan. Tetap diutamakan.
Dan
bila akhirnya si ibu berada di posisi menyakitkan, jauh dari putrinya ketika
bulan Ramadhan, bagaiamana seharusnya perasaan si ibu? Sedih? Khawatir? Gusar? Duapuluh
satu tahun si ibu menemani dan melakukan semuanya untuk putrinya. Kini, mungkin
si ibu akan selalu bertanya-tanya, “Apakah ia sudah bangun?”, “Sahur dengan apa
anakku?”, “Dengan siapa ia makan?”, “Ia sudah berbuka atau belum?”, “Ia berbuka
dengan apa, dengan siapa?”, “Apakah ia makan dengan baik”. Pertanyaan itu pasti
selalu melintas dibenaknya. Rasa khawatir itu selalu menghantuinya. Hingga rasanya,
semua hidangan yang lezat tak lengkap tanpa putrinya.
Mungkin
ini yang engkau rasakan, Mama. Kau selalu mengirimiku pesan setiap sahur dan
berbuka. Kau tak lelah bertanya apa aku sudah makan. Kau tak lelah
mengingatkanku tentang vitamin dan istirahat. Juga sholat. Mama, aku
merindukanmu. Seperti cara manusia merindukan Ramadhan. Mama, kuharap kau
baik-baik saja di sana. Jaga makananmu ma, aku di sini akan baik-baik saja.
Berdoa saja Allah selalu bersama kita. Berdoa saja Ia segera mempertemukan
kita. Aku rindu tawamu. Aku rindu peluk eratmu. Seperti saat kau memelukku di
hari perjumpaan kita. Sampaikan salamku pula untuk Bapak dan Adik. Selamat berpuasa
ma.... Aku sayang mama....


0 comments:
Posting Komentar