Rabu, 23 Oktober 2013

Cerpen Pertama; DESEMBER!

Posted by nofi.hidayanti at Oktober 23, 2013
Ini adalah pengalaman pertama saya menulis sebuah cerita pendek sampai akhir. Sebelumnya memang pernah, tapi selalu berhenti dan gugur di tengah jalan hehehe cerita pendek saya ini merupakan tugas ujian tengah semester untuk mata kuliah Penulisan Kreatif di semester lima ini. Singkat cerita, Desember menceritakan pengalaman seorang gadis bernama Emilia yang memiliki masa lalu kelam bersama ayahnya. Ia diperkosa saat usianya menginjak angka sepuluh. Empat tahun kemudian ia hamil dan melahirkan gadis mungil bernama Luna. Cerita pendek bertema feminisme menjadi pilihan saya kali ini. Semoga saya diberikan inspiratif lebih untuk menulis cerita-cerita lainnya. Selamat menikmati my first short-story! 


Desember, usia saya menginjak tahun ke tujuh belas.  Saya sedang duduk di depan sebuah laptop, jari-jari saya menari di antara rangkaian tombol laptop. Sebuah cerita yang saya alami secara langsung tertulis di sana, tentang ayah dan ibu. Karena kisah itu, mereka menyebut saya seorang penulis.  Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan berbagi pengalaman.  Dan saya bangga dengan pekerjaan saya.  Luna, anak semata wayang saya tumbuh dan makan makanan dari hasil tulisan saya.  Ya, setidaknya diusia dia yang kedua ini dia menjadi anak perempuan yang sehat dan bahagia, meski tanpa ayah.
Emilia.  Itu nama yang ibu berikan untuk saya.  Emilia berarti cerah dan tangguh.  Ibu berharap kelak saya bisa membawa pencerahan kepada yang salah jalan dan mampu menjadi perempuan yang tangguh.  Saya juga selalu teringat kepada nasihat ibu.  Dua nasihat yang menguatkan saya menjalani kehidupan yang tidak adil ini, ketika lelaki diagung-agungkan dan menyakiti perempuan.  Nasihat yang membuat saya bisa tersenyum, meski hati saya menangis, berontak.  Nasihat pertama mengatakan untuk melakukan apapun yang kamu suka, yang membuat saya bahagia.  Dan nasihat kedua adalah untuk menghadapi semua hal yang membuatmu takut.  Semoga saja saya telah mewujudkan ibu, semoga ibu bangga melihat saya saat ini.
Saya suka dengan diri saya yang seperti ini, kuat, berani, mungkin sedikit keras kepala, disebut butchie (atau istilah apapun yang mereka gunakan untuk menyebut spesies saya), feminis radikal, keputusan saya untuk (hanya) mencintai perempuan, dan diam mengenai kekejamanan ayah selama beberapa tahun.
Tidak..tidak...ini bukan hanya sekedar keputusan.  Tapi saya rasa memang Tuhan menginginkan saya menjadi seperti ini.  Tuhan tidak sudi membiarkan saya mengikuti jejak langkah ayah.  Saya masih bisa mengingat dengan jelas wajah kasarnya, tangannya yang kekar, dan tatapan itu.  Matanya sekelam malam.  Setiap hari.  Setiap rasa ketakutan.  Setiap rasa berdosa.  Setiap tangisan, sepanjang malam hingga pagi menjemput.  Saya mengingatnya dalam setiap detik kehidupan saya.
Dia adalah manusia paling saya benci.  Tidak punya pekerjaan---pengangguran.  Pemabuk.  Setidaknya saya pernah melihat ia membawa sebuah botol minuman yang belakangan saya tahu itu adalah vodka, whiskey, ataupun brandy.  Bau mulutnya benar-benar menjijikan, saya menjauh dan tak pernah sudi dipeluk olehnya.  Dan ia gila.  Saya bersumpah, hampir setiap malam ibu dipukuli olehnya.  Saya mengintip dari balik pintu kamar, lalu ibu datang menghampiri, ia menangis, tapi juga tersenyum.  Ibu memeluk saya erat, lebih erat, dan semakin erat setiap harinya.
***
Desember.  Tujuh tahun yang lalu, tepatnya tahun 2005.  Usia saya masih sepuluh tahun.  Saya bodoh dan polos.  Saat itu rumah sedang sepi (atau sebenarnya selalu sepi).  Rumah kami besar, terlalu besar untuk kami bertiga sebenarnya.  Berada di sebuah kompleks perumahan di Jakarta Utara, perumahan elite. Temboknya berwarna putih berpadu pastel dengan marmer sebagai lantainya.  Pilar-pilarnya tumbuh tinggi menjulang dan atapnya serupa rumah-rumah modern.  Ini adalah rumah milik keluarga ibu.  Bicara soal ibu, dia sedang bekerja di kantornya dan menelepon akan pulang telat.  Saya mulai ketakutan duduk di sofa panjang, di samping ayah yang sedang histeris menonton pertandingan sepak bola Indonesia vs Malaysia.  Ia mengajak saya berbincang, mengatakan hal-hal yang tidak saya mengerti—politik, minuman keras, kehidupan—dan semua hal yang tak ingin saya dengar.  Ayah bangkit, melangkah ke dapur.  Saya bergegas masuk ke kamar, berlarian kecil, dan bersembunyi di balik selimut.
Ayah dan saya selamanya tidak akan pernah menyatu.  Kami berbeda, bagai air dan minyak.  Saya air, ayah minyak, atau sebaliknya.  Bahkan sejujurnya kami saling membenci.  Saya benci ayah karena ia selalu menyakiti ibu.  Dan ayah membenci saya karena saya adalah janin yang tidak diharapkan atas hubungan tak resminya dengan ibu.  Andai saja ibu tak sebodoh itu mencintai lelaki parasit sepertinya.
Setengah jam kemudian, saya dengar ada yang mengetuk pintu kamar.  Saya meloncat ke luar dari selimut dan membuka pintu.  Mungkin ibu sudah pulang.  Ternyata pikiran saya meleset.  Ayah sudah berdiri di sana, memeluk anak kesayangannya-vodka-, bicara kacau, bau mulutnya mengejutkan saya.  Ayah mabuk.
“Hei, kau, sayangku, temanilah ayah malam ini.  Mari kita bercinta! Ibumu yang bodoh itu tak akan tahu katanya seraya merayu.
Saya ketakutan, dengan panik berusaha menutup dan mengunci pintu.  Tapi ayah lebih kuat dan cepat.  Usia 30 tahunan akhir, tubuhnya kekar berotot.  Dengan sejuta paksaan, ayah melucuti pakaian saya satu persatu.  Terkadang ia juga menampar pipi saya bila saya melawan atau berteriak.  Entah apa yang sedang ayah lakukan kepada saya saat itu.  Ia beralasan untuk menghangatkan tubuhnya yang dingin.  Saya merasa kesakitan pada tempat yang biasa saya gunakan untuk buang air kecil.  Pasti ada yang salah.  Tidak beres.  Tapi saat itu saya memang polos dan bodoh.
Desember.  Sepanjang bulan itu ayah terus melakukan hal yang sama pada saya.  Ibu sama sekali tak mencium perbuatan ayah.  Ibu tak curiga mengapa tiba-tiba ayah sangat baik dan manis ketika mengantarkannya ke depan rumah untuk pergi bekerja.  Ibu polos.  Dan bodoh.  Saya hanya bisa menangis di setiap malam setelah ayah puas dan tertawa keras.  Saya menangis untuk sesuatu yang belum saya mengerti.  Dan belakangan saya tahu, ayah memperkosa saya.
Desember.  Bulan Desember akan menjadi bulan dimana hari perayaan membenci ayah diadakan besar-besaran.  Bulan Desember akan mengingatkan saya betapa kejam, parasit, dan kotornya ayah saya.  Bulan Desember adalah momen terakhir saya bisa memeluk ibu, ibu bernyanyi untuk saya.  Dan di Desember itu pula saya mengenang kematian ibu karena kecelakaan mobil (atau mungkin konspirasi ayah untuk mendapatkan harta ibu?).  Desember.  Bulan Desember.  Saya benci bulan Desember.  Tapi saya merindukan bulan Desember.
“Biarkan saya dan Desember menjadi sebuah cerita.  Dimana saya dan Desember tidak akan pernah bergandengan tangan, atau saling menatap, atau saling memeluk dan menjaga.  Karena saya dan Desember adalah dua sisi yang saling melangkah menjauhi masing-masing sisinya”
Kini rumah bagaikan neraka bagi saya.  Ayah selalu ditemani botol minuman kesayangannya, menyetubuhi saya, dan melarang saya untuk keluar rumah, berteman, sekolah, saya hanya boleh mengurus rumah dan nafsu ayah.  Memperkosa anak kandungnya sudah menjadi kesenangan tersendiri baginya.  Dan saya tak cukup kuasa untuk melawan (atau mulai menikmati aksinya?).  Nasihat ibu belum bisa saya wujudkan.  Saya tak tahu bagaimana bila saya menolak ayah dan harus tinggal di jalanan.  Meskipun mungkin itu adalah hal yang lebih baik yang bisa saya pilih.
Hanya ketika ayah pergi, Erin datang mengunjungi saya.  Erin adalah teman saya sejak di bangku taman kanak-kanak.  Rumahnya hanya berbeda beberapa blok dari rumah saya.  Ia akan mengintip dari kejauhan ketika ayah pergi lalu datang membawakan beberapa makanan.  Hanya dia yang saya miliki, hanya dia yang saya cintai saat ini.
***
Desember.  Tahun 2008.  Di akhir tahun itu, saat siang mengagetkan saya, saya merintih.  Perut saya terasa sakit sekali, tapi sepertinya bukan karena makanan yang ayah bawakan tadi pagi.  Saya mendapati diri saya mengeluarkan cairan merah dari vagina saya.  Erin berkata itu adalah darah menstruasi. Saya datang bulan.  Saya tak tahu persis, ibu belum pernah mengatakan apapun tentang hal tersebut.  Lalu Erin mengajarkan saya cara menggunakan pembalut.  Saya lebih menyukai menyebutnya popok untuk perempuan yang beranjak dewasa.
Setiap kali saya datang bulan saya akan kabur dari rumah untuk menghindari ayah.  Menjijikan membayangkan ayah akan menyetubuhi saya dengan darah menstruasi itu.  Meskipun, mungkin ayah tak akan terganggu sama sekali.  Ia hanya memikirkan tentang seks.
Maret, tahun 2009.  Usia saya kini 14 tahun.  Saya mulai merasakan ada yang aneh dari tubuh saya, seperti ada yang tumbuh di dalam perut saya.  Ketika saya bertanya, ayah justru marah.  Ayah memaki saya, memukuli saya.  Sepanjang malam.  Lalu di malam kemudian, ayah membawakan saya sesuatu.  Ayah menyebutnya testpack.  Dipaksanya saya untuk mengeluarkan air kencing saya pada sebuah wadah kecil seperti gelas, lalu membawakannya kepada ayah.  Mungkin ia ingin meminumnya.  Parasit kotor.
Ayah memasukkan sebuah benda ke air kencing saya yang sebelumnya.  Benda tipis, panjang, kira-kira sepanjang sebuah pulpen.  Lalu ayah mengambil kembali benda tersebut dan memperhatikannya secara seksama.
“Ah, tidak mungkin!”
Ayah berteriak, hampir meloncat dari tempat tidurnya.  Ia memukuli saya lagi sambil mengumpat sendiri, untuk suatu alasan yang saya tidak tahu.  Beberapa hari kemudian saya mendengar bahwa saya hamil.
Setiap paginya ayah memaksa saya meminum segelas jamu yang rasanya sungguh pahit.  Ayah bilang semua demi kesehatan saya. Saya akan mendapatkan tenaga untuk melayaninya semalaman suntuk  Tapi setelah meminum jamu tersebut, saya merasakan sakit perut yang luar biasa lalu muntah-muntah.  Hal itu terus saja terulang sampai ayah memutuskan membawa saya ke klinik.  Seorang dokter pria berumur sepantaran ayah memeriksa perut saya dengan sebuah alat.  Alat tersebut  kemudian disambungkan ke sebuah monitor.  Dari monitor itu saya melihat ada sesuatu yang bergerak-gerak.  Itukah makhluk yang kini tumbuh di dalam perut saya?
Rasanya saya senang melihat makhluk itu di dalam perut saya.  Ia menggerakkan tubuhnya dan aku seakan bisa merasakannya.  Tapi tidak dengan ayah, ia nampak begitu cemas dan marah.  Ia membentak dokter itu beberapa kali.  Bodoh sekali, dokter itu hanya mengangguk dan menggangguk seperti hewan peliharaan.
Makhluk di dalam perut saya terus tumbuh, semakin membesar, perut saya membuncit.  Saya semakin bisa merasakan kaki-kaki kecil itu rajin menendang-nendang.  Ayah tak lagi peduli.  Mungkin ia lelah.  Bahkan sudah beberapa bulan ayah tak menganggu saya.  Ia lebih senang menghabiskan waktu di luar rumah, lalu pulang subuh dalam keadaan mabuk parah.  Biasanya saya sudah tidur dan tak peduli.  Saya sengaja mengunci pintu kamar saya supaya ayah tak bisa menjamahi tubuh saya ketika saya terlelap.
Desember.  Tahun 2009.  Tubuh saya semakin berat, bulat perut saya.  Menurut beberapa buku sains yang saya baca, wanita hamil dalam kurun waktu sekitar sembilan bulan.  Berarti seharusnya di bulan Desember ini makhluk kecil di perut saya akan lahir.  Saya senang, karena kelak saya tidak akan lagi sendiri.  Saya akan ditemani oleh anak saya, anak kandung saya, anak yang lahir dari rahim kecil saya.
Hari ini saya akan membeli beberapa perlengkapan bayi, sendiri.  Rasanya lebih menyenangkan daripada seharian di dalam kamar dan bertengkar dengan ayah.  Meskipun sesungguhnya begitu melelahkan belanja dengan membawa perut sebesar ini.  Belum lagi mendengarkan cibiran sinis dan pandangan jijik dari orang di sekitar saya.  Biarkanlah, mereka pasti tak tahu bagaimana kisah saya.
Ketika saya kembali, rumah itu terasa janggal.  Pintunya dibiarkan terbuka namun saya tak menemukan ayah dimanapun, di tempat ia suka duduk dan tertawa keras.  Di ruang tamu, ataupun di dapur.  Mungkin ada seorang penjahat yang berusaha mencuri dan menembak ayah.  Saya harap seperti itu.  Lalu saya memberanikan diri untuk melihat ke kamarnya.  Saya mendengar ada suara dari sana, suara perempuan berteriak.
“Tolong...hentikan...tolong....”
Kata-kata itu terus berulang dan saya berlari membuka pintunya.  Disana, saya melihat Erin tidak memakai pakaian sehelai pun, sedang menangis memohon, dan ada ayah pula. Ayah di posisi yang lebih tinggi dari Erin, tak pula berpakaian.  Wajahnya sama seperti saat memperkosa saya di bulan Desember itu.  Amarah di hati saya memuncak.  Mata saya merah menahan tangis.  Saya juga menggertakkan gigi saya.  Saya teringat ibu.  Sungguh, lelaki parasit macam apa yang ada di hadapan saya.  Ia tega mengotori belahan jiwa saya, Erin.  Ayah mendekati saya, lalu menampar pipi kiri saya.  Untuk pertama kali, saya ingin melawan ayah.  Hasrat itu tumbuh secara kilat.  Saya mencoba memberanikan diri saya untuk menghadapi sesuatu yang membuat saya takut, saya melawan ayah.  Saya balik menampar ayah.
“Dasar kau parasit! Lelaki kotor! Ayah macam apa kau ini?! Tak puaskah kau menyetubuhi saya?” mata saya semakin nanar.
“Hahahaha! Kau pikir kau perempuan baik? Suci? Kau itu sama kotornya dengan ayah! Kamu adalah janin dari rahim ibumu yang tak ayah harapkan! Sama seperti anak di kandunganmu itu” katanya sambil meringis.
“Tutup mulut kotormu, bajingan!”
Pertengkaran antara saya dan ayah semakin menjadi.  Ayah mendorong saya.  Saya terjatuh di lantai, perut saya terasa sakit.  Saya merasakan ada sesuatu yang mengalir dari selangkangan saya.  Namun saya menahan sakit itu lalu berlari kecil ke dapur.  Saya mengambil sebuah teko kaca yang diletakkan di meja makan lalu dengan sadar memukulkannya ke kepala ayah.  Ayah jatuh pingsan dengan darah yang mengalir dari balik-balik rambut kelabunya.  Saya pingsan.
Saya sudah berada di sebuah ruangan, sepertinya di rumah sakit.  Perut saya tidak lagi membuncit.  Saya dengar ada suara tangis bayi di dekat saya.  Itu adalah suara tangis Luna, anak pertama saya.  Anak dari ayah saya.  Erin juga ada disana.  Ia menceritakan apa yang telah terjadi.  Ayah akhirnya di penjara, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ini, entah untuk waktu berapa lama.
***
Saya lega.  Saya bisa mewujudkan nasihat ibu untuk melawan yang saya takuti, yaitu ayah. Saya memejamkan mata dan membayangkan ibu hidup bahagia dan tenang di surga, di samping Tuhan.  Wajahnya putih bersinar, berbalut gaun bersih.  Rambutnya panjang terurai dengan sepasang sayap di punggungnya.  Ia menatap saya dengan senyuman yang paling saya rindukan.
“Tetaplah menjadi Emilia Ibu, yang paling tangguh dan berani.  Ibu menyayangimu”, katanya sambil melambaikan tangan lalu pergi mendekati surga, menjauhi bumi.


Desember.  Saya akan selalu mengingat bulan ini.  Desember akan tetap menjadi Desember bagi saya.  Bulan dimana ayah memperkosa saya, ibu meninggalkan saya, Erin diperkosa ayah, ayah dipenjara, dan saya melahirkan Luna.  Tapi Emilia akan tetap menjadi Emilia.  Saya tidak lagi takut dengan ayah, atau siapapun.  Saya juga sudah terlanjur membenci lelaki.  Saya tidak akan menikah.  Saya akan membesarkan Luna seorang diri.  Tanpa seorang lelaki.  Inilah ideologi yang saya genggam. Karena saya adalah Emilia, gadis kecil ibu yang tangguh dan berani.  Kini hidup saya hanya tentang Luna. Saya memeluk Luna erat, lebih erat, dan semakin erat setiap harinya. (N.H)

0 comments:

Posting Komentar

 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos