Ini adalah pengalaman pertama saya menulis sebuah cerita pendek sampai akhir. Sebelumnya memang pernah, tapi selalu berhenti dan gugur di tengah jalan hehehe cerita pendek saya ini merupakan tugas ujian tengah semester untuk mata kuliah Penulisan Kreatif di semester lima ini. Singkat cerita, Desember menceritakan pengalaman seorang gadis bernama Emilia yang memiliki masa lalu kelam bersama ayahnya. Ia diperkosa saat usianya menginjak angka sepuluh. Empat tahun kemudian ia hamil dan melahirkan gadis mungil bernama Luna. Cerita pendek bertema feminisme menjadi pilihan saya kali ini. Semoga saya diberikan inspiratif lebih untuk menulis cerita-cerita lainnya. Selamat menikmati my first short-story! 
Desember,
usia saya menginjak tahun ke tujuh belas.
Saya sedang duduk di depan sebuah laptop, jari-jari saya menari di antara
rangkaian tombol laptop. Sebuah cerita yang saya alami secara langsung tertulis
di sana, tentang ayah dan ibu. Karena kisah itu, mereka menyebut saya seorang
penulis. Tapi saya lebih suka
menyebutnya dengan berbagi pengalaman. Dan
saya bangga dengan pekerjaan saya. Luna,
anak semata wayang saya tumbuh dan makan makanan dari hasil tulisan saya. Ya, setidaknya diusia dia yang kedua ini dia
menjadi anak perempuan yang sehat dan bahagia, meski tanpa ayah.
Emilia.
Itu nama yang ibu
berikan untuk saya. Emilia
berarti cerah dan tangguh. Ibu
berharap kelak saya bisa membawa pencerahan kepada yang salah jalan dan mampu
menjadi perempuan yang tangguh. Saya
juga selalu teringat kepada nasihat
ibu. Dua nasihat yang menguatkan saya menjalani kehidupan yang
tidak adil ini, ketika lelaki diagung-agungkan dan menyakiti perempuan. Nasihat
yang membuat saya bisa tersenyum, meski hati saya menangis, berontak. Nasihat
pertama mengatakan untuk melakukan apapun yang kamu suka, yang membuat saya
bahagia. Dan nasihat kedua adalah untuk menghadapi semua hal yang
membuatmu takut. Semoga
saja saya telah mewujudkan ibu, semoga ibu bangga melihat saya saat ini.
Saya suka dengan diri saya yang seperti ini, kuat,
berani, mungkin sedikit keras kepala, disebut butchie (atau istilah apapun yang mereka gunakan untuk menyebut
spesies saya), feminis radikal, keputusan saya untuk (hanya) mencintai perempuan,
dan diam mengenai kekejamanan ayah selama beberapa tahun.
Tidak..tidak...ini bukan hanya sekedar keputusan. Tapi
saya rasa memang Tuhan menginginkan saya menjadi seperti ini. Tuhan
tidak sudi membiarkan saya mengikuti jejak langkah ayah. Saya masih bisa
mengingat dengan jelas wajah kasarnya, tangannya yang kekar, dan tatapan itu. Matanya sekelam malam. Setiap hari.
Setiap rasa ketakutan. Setiap rasa
berdosa. Setiap tangisan, sepanjang
malam hingga pagi menjemput. Saya
mengingatnya dalam setiap detik kehidupan saya.
Dia adalah manusia paling saya benci.
Tidak punya
pekerjaan---pengangguran. Pemabuk. Setidaknya
saya pernah
melihat ia membawa sebuah botol minuman yang belakangan
saya tahu itu adalah vodka, whiskey, ataupun brandy. Bau mulutnya benar-benar menjijikan, saya menjauh dan tak
pernah sudi dipeluk olehnya. Dan
ia gila. Saya bersumpah, hampir setiap malam ibu dipukuli olehnya.
Saya
mengintip dari balik pintu kamar, lalu ibu datang menghampiri, ia menangis,
tapi juga tersenyum. Ibu memeluk saya
erat, lebih erat, dan semakin erat setiap harinya.
***
Desember.
Tujuh tahun yang lalu,
tepatnya tahun 2005. Usia saya masih
sepuluh tahun. Saya bodoh dan polos. Saat
itu rumah sedang sepi (atau sebenarnya selalu sepi). Rumah
kami besar, terlalu besar untuk kami bertiga sebenarnya. Berada
di sebuah kompleks perumahan di Jakarta Utara, perumahan elite. Temboknya berwarna putih berpadu pastel
dengan marmer sebagai lantainya. Pilar-pilarnya
tumbuh tinggi menjulang dan atapnya serupa rumah-rumah modern. Ini
adalah rumah milik keluarga ibu. Bicara
soal ibu, dia sedang bekerja di kantornya dan menelepon akan pulang telat.
Saya mulai
ketakutan duduk di sofa panjang, di samping ayah yang sedang histeris menonton pertandingan sepak bola Indonesia vs Malaysia.
Ia mengajak saya
berbincang, mengatakan hal-hal yang tidak saya mengerti—politik, minuman keras,
kehidupan—dan semua hal yang tak ingin saya dengar. Ayah
bangkit, melangkah ke dapur. Saya
bergegas masuk ke kamar, berlarian kecil, dan bersembunyi di balik selimut.
Ayah dan saya selamanya tidak akan pernah menyatu.
Kami berbeda,
bagai air dan minyak. Saya
air, ayah minyak, atau sebaliknya. Bahkan sejujurnya
kami saling membenci. Saya
benci ayah karena ia selalu menyakiti ibu. Dan
ayah membenci saya karena saya adalah janin yang tidak diharapkan atas hubungan
tak resminya dengan ibu. Andai
saja ibu tak sebodoh itu mencintai lelaki parasit sepertinya.
Setengah jam kemudian, saya dengar ada yang mengetuk
pintu kamar. Saya meloncat ke
luar dari selimut dan membuka pintu. Mungkin
ibu sudah pulang. Ternyata pikiran saya meleset.
Ayah sudah berdiri
di sana,
memeluk anak kesayangannya-vodka-,
bicara kacau, bau mulutnya mengejutkan saya. Ayah
mabuk.
“Hei, kau, sayangku, temanilah ayah malam ini. Mari kita bercinta! Ibumu yang bodoh itu tak
akan tahu”
katanya seraya merayu.
Saya ketakutan, dengan panik berusaha menutup dan
mengunci pintu. Tapi ayah lebih kuat dan cepat. Usia
30 tahunan akhir, tubuhnya kekar berotot. Dengan
sejuta paksaan, ayah melucuti pakaian saya satu persatu. Terkadang
ia juga menampar pipi saya bila saya melawan atau berteriak. Entah
apa yang sedang ayah lakukan kepada saya saat itu. Ia
beralasan untuk menghangatkan tubuhnya yang dingin. Saya merasa kesakitan pada tempat yang biasa
saya gunakan untuk buang air kecil.
Pasti ada yang salah. Tidak beres.
Tapi saat itu saya memang
polos dan bodoh.
Desember.
Sepanjang bulan itu
ayah terus melakukan hal yang sama pada saya.
Ibu sama sekali
tak mencium perbuatan ayah. Ibu
tak curiga mengapa tiba-tiba ayah sangat baik dan manis ketika mengantarkannya
ke depan rumah untuk pergi bekerja. Ibu polos. Dan
bodoh. Saya hanya bisa menangis di setiap malam
setelah ayah puas dan tertawa keras. Saya menangis
untuk sesuatu yang belum saya mengerti. Dan belakangan
saya tahu, ayah memperkosa saya.
Desember.
Bulan Desember akan
menjadi bulan dimana hari perayaan membenci ayah diadakan besar-besaran.
Bulan Desember
akan mengingatkan saya betapa kejam, parasit, dan kotornya ayah saya. Bulan
Desember adalah momen terakhir saya bisa memeluk ibu, ibu bernyanyi untuk saya.
Dan di Desember
itu pula saya mengenang kematian ibu karena kecelakaan mobil (atau mungkin
konspirasi ayah untuk mendapatkan harta ibu?). Desember.
Bulan Desember. Saya
benci bulan Desember. Tapi
saya merindukan bulan Desember.
“Biarkan saya dan Desember menjadi sebuah cerita. Dimana saya dan Desember tidak akan pernah bergandengan
tangan, atau
saling menatap,
atau saling memeluk dan menjaga. Karena saya dan Desember adalah dua sisi yang
saling melangkah menjauhi masing-masing sisinya”
Kini
rumah bagaikan neraka bagi saya. Ayah
selalu ditemani botol minuman kesayangannya, menyetubuhi saya, dan melarang
saya untuk keluar rumah, berteman, sekolah, saya hanya boleh mengurus rumah dan
nafsu ayah. Memperkosa anak kandungnya
sudah menjadi kesenangan tersendiri baginya. Dan saya tak cukup kuasa untuk melawan (atau
mulai menikmati aksinya?). Nasihat ibu
belum bisa saya wujudkan. Saya tak tahu
bagaimana bila saya menolak ayah dan harus tinggal di jalanan. Meskipun mungkin itu adalah hal yang lebih
baik yang bisa saya pilih.
Hanya
ketika ayah pergi, Erin datang mengunjungi saya. Erin adalah teman saya sejak di bangku taman
kanak-kanak. Rumahnya hanya berbeda beberapa
blok dari rumah saya. Ia akan mengintip
dari kejauhan ketika ayah pergi lalu datang membawakan beberapa makanan. Hanya dia yang saya miliki, hanya dia yang
saya cintai saat ini.
***
Desember.
Tahun 2008. Di akhir tahun itu, saat siang mengagetkan
saya, saya merintih. Perut saya terasa
sakit sekali, tapi sepertinya bukan karena makanan yang ayah bawakan tadi pagi.
Saya mendapati diri saya mengeluarkan
cairan merah dari vagina saya. Erin
berkata itu adalah darah menstruasi. Saya datang bulan. Saya tak tahu persis, ibu belum pernah
mengatakan apapun tentang hal tersebut. Lalu
Erin mengajarkan saya cara menggunakan pembalut. Saya lebih menyukai menyebutnya popok untuk
perempuan yang beranjak dewasa.
Setiap
kali saya datang bulan saya akan kabur dari rumah untuk menghindari ayah. Menjijikan membayangkan ayah akan menyetubuhi
saya dengan darah menstruasi itu. Meskipun,
mungkin ayah tak akan terganggu sama sekali. Ia hanya memikirkan tentang seks.
Maret,
tahun 2009. Usia saya kini 14 tahun. Saya mulai merasakan ada yang aneh dari tubuh
saya, seperti ada yang tumbuh di dalam perut saya. Ketika saya bertanya, ayah justru marah. Ayah memaki saya, memukuli saya. Sepanjang malam. Lalu di malam kemudian, ayah membawakan saya
sesuatu. Ayah menyebutnya testpack. Dipaksanya saya untuk mengeluarkan air kencing
saya pada sebuah wadah kecil seperti gelas, lalu membawakannya kepada ayah. Mungkin ia ingin meminumnya. Parasit kotor.
Ayah
memasukkan sebuah benda ke air kencing saya yang sebelumnya. Benda tipis, panjang, kira-kira sepanjang
sebuah pulpen. Lalu ayah mengambil
kembali benda tersebut dan memperhatikannya secara seksama.
“Ah,
tidak mungkin!”
Ayah
berteriak, hampir meloncat dari tempat tidurnya. Ia memukuli saya lagi sambil mengumpat sendiri,
untuk suatu alasan yang saya tidak tahu. Beberapa hari kemudian saya mendengar bahwa
saya hamil.
Setiap
paginya ayah memaksa saya meminum segelas jamu yang rasanya sungguh pahit. Ayah bilang semua demi kesehatan saya. Saya
akan mendapatkan tenaga untuk melayaninya semalaman suntuk Tapi setelah meminum jamu tersebut, saya merasakan
sakit perut yang luar biasa lalu muntah-muntah. Hal itu terus saja terulang sampai ayah memutuskan
membawa saya ke klinik. Seorang dokter
pria berumur sepantaran ayah memeriksa perut saya dengan sebuah alat. Alat tersebut
kemudian disambungkan ke sebuah monitor.
Dari monitor itu saya melihat ada sesuatu yang bergerak-gerak. Itukah makhluk yang kini tumbuh di dalam perut
saya?
Rasanya
saya senang melihat makhluk itu di dalam perut saya. Ia menggerakkan tubuhnya dan aku seakan bisa
merasakannya. Tapi tidak dengan ayah, ia
nampak begitu cemas dan marah. Ia
membentak dokter itu beberapa kali. Bodoh
sekali, dokter itu hanya mengangguk dan menggangguk seperti hewan peliharaan.
Makhluk
di dalam perut saya terus tumbuh, semakin membesar, perut saya membuncit. Saya semakin bisa merasakan kaki-kaki kecil
itu rajin menendang-nendang. Ayah tak
lagi peduli. Mungkin ia lelah. Bahkan sudah beberapa bulan ayah tak
menganggu saya. Ia lebih senang
menghabiskan waktu di luar rumah, lalu pulang subuh dalam keadaan mabuk parah. Biasanya saya sudah tidur dan tak peduli. Saya sengaja mengunci pintu kamar saya supaya
ayah tak bisa menjamahi tubuh saya ketika saya terlelap.
Desember. Tahun 2009. Tubuh saya semakin berat, bulat perut saya. Menurut beberapa buku sains yang saya baca,
wanita hamil dalam kurun waktu sekitar sembilan bulan. Berarti seharusnya di bulan Desember ini
makhluk kecil di perut saya akan lahir. Saya senang, karena kelak saya tidak akan lagi
sendiri. Saya akan ditemani oleh anak saya,
anak kandung saya, anak yang lahir dari rahim kecil saya.
Hari
ini saya akan membeli beberapa perlengkapan bayi, sendiri. Rasanya lebih menyenangkan daripada seharian
di dalam kamar dan bertengkar dengan ayah. Meskipun sesungguhnya begitu melelahkan
belanja dengan membawa perut sebesar ini. Belum lagi mendengarkan cibiran sinis dan
pandangan jijik dari orang di sekitar saya. Biarkanlah, mereka pasti tak tahu bagaimana
kisah saya.
Ketika
saya kembali, rumah itu terasa janggal. Pintunya dibiarkan terbuka namun saya tak menemukan
ayah dimanapun, di tempat ia suka duduk dan tertawa keras. Di ruang tamu, ataupun di dapur. Mungkin ada seorang penjahat yang berusaha
mencuri dan menembak ayah. Saya harap
seperti itu. Lalu saya memberanikan diri
untuk melihat ke kamarnya. Saya
mendengar ada suara dari sana, suara perempuan berteriak.
“Tolong...hentikan...tolong....”
Kata-kata
itu terus berulang dan saya berlari membuka pintunya. Disana, saya melihat Erin tidak memakai
pakaian sehelai pun, sedang menangis memohon, dan ada ayah pula. Ayah di posisi
yang lebih tinggi dari Erin, tak pula berpakaian. Wajahnya sama seperti saat memperkosa saya di
bulan Desember itu. Amarah di hati saya
memuncak. Mata saya merah menahan
tangis. Saya juga menggertakkan gigi
saya. Saya teringat ibu. Sungguh, lelaki parasit macam apa yang ada di
hadapan saya. Ia tega mengotori belahan
jiwa saya, Erin. Ayah mendekati saya,
lalu menampar pipi kiri saya. Untuk
pertama kali, saya ingin melawan ayah. Hasrat
itu tumbuh secara kilat. Saya mencoba
memberanikan diri saya untuk menghadapi sesuatu yang membuat saya takut, saya
melawan ayah. Saya balik menampar ayah.
“Dasar
kau parasit! Lelaki kotor! Ayah macam apa kau ini?! Tak puaskah kau menyetubuhi
saya?” mata saya semakin nanar.
“Hahahaha!
Kau pikir kau perempuan baik? Suci? Kau itu sama kotornya dengan ayah! Kamu
adalah janin dari rahim ibumu yang tak ayah harapkan! Sama seperti anak di
kandunganmu itu” katanya sambil meringis.
“Tutup
mulut kotormu, bajingan!”
Pertengkaran
antara saya dan ayah semakin menjadi. Ayah mendorong saya. Saya terjatuh di lantai, perut saya terasa
sakit. Saya merasakan ada sesuatu yang
mengalir dari selangkangan saya. Namun
saya menahan sakit itu lalu berlari kecil ke dapur. Saya mengambil sebuah teko kaca yang
diletakkan di meja makan lalu dengan sadar memukulkannya ke kepala ayah. Ayah jatuh pingsan dengan darah yang mengalir
dari balik-balik rambut kelabunya. Saya
pingsan.
Saya
sudah berada di sebuah ruangan, sepertinya di rumah sakit. Perut saya tidak lagi membuncit. Saya dengar ada suara tangis bayi di dekat
saya. Itu adalah suara tangis Luna, anak
pertama saya. Anak dari ayah saya. Erin juga ada disana. Ia menceritakan apa yang telah terjadi. Ayah akhirnya di penjara, ia harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ini, entah untuk waktu berapa lama.
***
Saya
lega. Saya bisa mewujudkan nasihat ibu
untuk melawan yang saya takuti, yaitu ayah. Saya memejamkan mata dan
membayangkan ibu hidup bahagia dan tenang di surga, di samping Tuhan. Wajahnya putih bersinar, berbalut gaun
bersih. Rambutnya panjang terurai dengan
sepasang sayap di punggungnya. Ia
menatap saya dengan senyuman yang paling saya rindukan.
“Tetaplah
menjadi Emilia Ibu, yang paling tangguh dan berani. Ibu menyayangimu”, katanya sambil melambaikan
tangan lalu pergi mendekati surga, menjauhi bumi.
Desember. Saya akan selalu mengingat bulan ini. Desember akan tetap menjadi Desember bagi
saya. Bulan dimana ayah memperkosa saya,
ibu meninggalkan saya, Erin diperkosa ayah, ayah dipenjara, dan saya melahirkan
Luna. Tapi Emilia akan tetap menjadi
Emilia. Saya tidak lagi takut dengan
ayah, atau siapapun. Saya juga sudah
terlanjur membenci lelaki. Saya tidak
akan menikah. Saya akan membesarkan Luna
seorang diri. Tanpa seorang lelaki. Inilah ideologi yang saya genggam. Karena saya
adalah Emilia, gadis kecil ibu yang tangguh dan berani. Kini hidup saya hanya tentang Luna. Saya
memeluk Luna erat, lebih erat,
dan semakin erat setiap harinya. (N.H)


0 comments:
Posting Komentar