Rabu, 23 Oktober 2013

Tentang Komunitas; HTKP

Posted by nofi.hidayanti at Oktober 23, 2013
KOMUNITAS HUJAN TAK KUNJUNG PADAM;
Tempat
Kreatif yang Tak Pernah Mati

  

Berada di sebuah perumahan di daerah Kedungwringin Blok A no. 25 berdirilah sebuah komunitas, tempat kreatif yang tak pernah mati. Dari pintu masuknya, siapapun akan merasakan sesuatu yang berbeda dan menyenangkan. Anak tangga dan taman kecil mengantarkan kami kepada komunitas ini.
Di sebuah ruangan yang mereka sebut ruang tamu, kami dijamu olehnya. Dindingnya yang dibiarkan polos bersemen, tanpa cat. Di salah satu temboknya berisi coretan kasar dari kuas-kuas penuh warna. Di sisi lainnya terpajang lukisan-lukisan berbagai ukuran, patung realis berukuran manusia, sebuah sepeda tua, kayu-kayu, dan sepuluh lampu pentas yang sengaja digantungkan.

Komunitas Hujan Tak Kunjung Padam namanya, atau sebut saja HTKP. HTKP bisa dikatakan sebagai salah satu tonggak lahirnya komunitas sastra di Banyumas pada tahun 2000an. Didirikan oleh lima orang sekawan, seperjuangan di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Aliv V Esesi, Agustav Triono, Ari Purnomo, Muhamad Ayatullah, dan Yudhistira Jati. HTKP resmi berdiri pada tanggal 3 April 2005, atau mereka lebih suka menyebutnya dengan 03-04-05. Tidak ada hirarki disini, tidak ada struktur organisasi. HTKP adalah komunitas pengecualian. Mereka bisa tumbuh dan berkembang hanya seorang koordinator tidak tetap, diciptakan pada saat tertentu, saat-saat dibutuhkan saja.
Nama Hujan Tak Kunjung Padam dipilih oleh lima sekawan ini saat sedang berkumpul dan berdiskusi tentang seni. Saat itu hujan turun dengan deras di sekretariat kampus biologi. Hujan Tak Kunjung Padam, nama yang menyimbolkan cita-cita, dan semangat. Ada harapan di sini. Kelak kreativitas mereka terus menerus mengalir tak pernah berhenti, seperti hujan.
HTKP lahir karena adanya kegelisahan mengenai komunitas sastra. Pada awal tahun 2000-an dunia sastra di Purwokerto mengalami kekeringan, tak ada komunitas, tak ada sastra. Banyak diantaranya mereka yang mengabdikan dirinya hanya pada seni pertunjukkan teater. Di mana komunitas tulis menulis? Komunitas penulis? Sulit rasanya untuk menemukan mereka. Para pendiri HTKP pun sepakat mengibarkan bendera, berikrar untuk membangkitkan dan mengembangkan roh sastra di Kota Satria dan segala kemungkinan penjelajahannya.
Bicara soal apa yang telah HTKP lakukan untuk mencapai tujuannya, tentu tidak sedikit. Ada banyak upaya yang mereka tempuh untuk menggerakkan sastra, seperti bertukar pikiran dengan Ahmad Tohari dan Darmadi, berdiskusi dan berbagi dengan komunitas lain dan mencoba menggunakan media radio ataupun auditorium RRI. Semuanya dilakukan demi membuat gebrakan dari komunitas teater yang sedang menjamur saat itu. HTKP ingin mengapresiasikan sisi lain dari teater, yaitu tulisan. Ketika menginjak tahun 2003, lahirlah fakultas sastra di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Hal ini menjadi batu lompatan lagi untuk tumbuhnya beragam komunitas sastra, seperti Komunitas Wedang Kendhi yang sepakat berikrar pada 2005 pasca HTKP.
HTKP mulai menampakkan taring dengan sebuah penerbitan buku antologi cerita pendek dan puisi “Jejak Tapak Langkah Calon Sastrawan Purwokerto” pada Februari 2005. Kemudian di tahun yang sama, tepatnya 8 Mei 2005, buku tersebut  di bedah oleh budayawan Ahmad Tohari di RRI Pro I Purwokerto.  Buku lain yang berhasil mereka cetak lahirnya pada rentang tahun 2005-2008.
Selain menerbitkan karya sastra cetak, HTKP juga mengadakan beberapa pementasan, seperti pementasan monolog Prita Istri Kita bekerjasama dengan Sambel Terasi RRI Purwokerto (September 2005) dan pementasan sastra lainnya.
Di balik setiap karya dan kreatifitas yang telah ditampilkan, HTKP juga pernah mengalami hibernasi seperti komunitas lainnya. Tidak ada komunitas yang sempurna. Setidaknya 3 sampai 4 tahun terakhir, masing-masing pendiri HTKP mulai memiliki agenda diluar komunitas dan lebih berpikir realistis. Bahkan salah satu di antaranya, Agustav Triono, sudah memiliki keluarga. Namun bagi mereka hal tersebut bukanlah masalah yang berarti karena ketika berkomunitas, setiap anggota sudah saling memahami, melengkapi, dan menutupi kekurangannya masing-masing. HTKP berprinsip untuk memberikan kebebasan pribadi dan tetap bertanggungjawab dalam kelompok. Begitulah HTKP tumbuh dan berkembang dalam kesederhaan dan kehangatannya.

HTKP masih memiliki banyak mimpi dan ide gila yang ingin mereka wujudkan, seperti membuat buku antologi novel dan menampilkan pementasan dengan durasi yang lebih lama lagi. Selain itu, HTKP berharap di usianya yang sudah menginjak tahun ke-8 ini, mereka masih bisa berpegang teguh pada filosofi nama komunitas, Hujan Tak Kunjung Padam. Mereka akan tetap berkarya dengan kreativitas yang tak akan pernah mati. HTKP akan tetap menjadi tempat kreatif yang tak pernah mati, hingga beberapa tahun ke depan, hingga sastra semakin dikenal dan dicintai. (N.H)

0 comments:

Posting Komentar

 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos