KOMUNITAS
HUJAN TAK KUNJUNG PADAM;
Tempat Kreatif yang Tak Pernah Mati
Tempat Kreatif yang Tak Pernah Mati
Berada di sebuah
perumahan di daerah Kedungwringin Blok A no. 25 berdirilah sebuah komunitas,
tempat kreatif yang tak pernah mati. Dari pintu masuknya, siapapun akan merasakan
sesuatu yang berbeda dan menyenangkan. Anak tangga dan taman kecil mengantarkan
kami kepada komunitas ini.
Di
sebuah ruangan yang mereka sebut ruang tamu, kami dijamu olehnya. Dindingnya
yang dibiarkan polos bersemen, tanpa cat. Di salah satu temboknya berisi coretan
kasar dari kuas-kuas penuh warna. Di sisi lainnya terpajang lukisan-lukisan
berbagai ukuran, patung realis berukuran manusia, sebuah sepeda tua, kayu-kayu,
dan sepuluh lampu pentas yang sengaja digantungkan.
Komunitas Hujan Tak Kunjung Padam
namanya, atau sebut saja
HTKP.
HTKP bisa dikatakan sebagai salah
satu tonggak lahirnya komunitas sastra di Banyumas pada tahun 2000an. Didirikan
oleh lima
orang sekawan, seperjuangan di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman,
Aliv V Esesi, Agustav Triono, Ari Purnomo, Muhamad
Ayatullah,
dan Yudhistira Jati. HTKP resmi berdiri pada tanggal 3 April 2005,
atau mereka lebih suka menyebutnya dengan 03-04-05. Tidak ada hirarki disini, tidak ada struktur
organisasi. HTKP adalah komunitas pengecualian. Mereka bisa tumbuh dan
berkembang hanya seorang koordinator tidak tetap, diciptakan pada saat
tertentu, saat-saat dibutuhkan saja.
Nama Hujan Tak Kunjung Padam
dipilih oleh lima sekawan ini saat sedang berkumpul dan berdiskusi tentang seni.
Saat itu
hujan turun dengan deras di sekretariat kampus biologi. Hujan
Tak Kunjung Padam, nama yang
menyimbolkan cita-cita, dan semangat. Ada harapan di sini. Kelak kreativitas mereka terus menerus mengalir tak pernah berhenti, seperti
hujan.
HTKP lahir karena adanya kegelisahan mengenai komunitas
sastra. Pada awal tahun 2000-an dunia sastra di Purwokerto mengalami kekeringan, tak
ada komunitas, tak ada sastra. Banyak diantaranya mereka yang mengabdikan dirinya hanya
pada seni pertunjukkan teater. Di mana komunitas tulis menulis? Komunitas
penulis? Sulit rasanya untuk menemukan mereka. Para pendiri HTKP pun sepakat mengibarkan
bendera, berikrar untuk
membangkitkan dan mengembangkan roh sastra di Kota Satria dan segala kemungkinan penjelajahannya.
Bicara
soal apa yang telah HTKP lakukan untuk mencapai tujuannya, tentu tidak sedikit.
Ada banyak upaya yang mereka tempuh
untuk menggerakkan sastra, seperti bertukar pikiran dengan Ahmad Tohari dan
Darmadi, berdiskusi dan berbagi dengan komunitas lain dan mencoba menggunakan
media radio ataupun auditorium RRI. Semuanya dilakukan demi membuat gebrakan
dari komunitas teater yang sedang menjamur saat itu. HTKP ingin mengapresiasikan sisi lain dari teater, yaitu tulisan. Ketika
menginjak tahun 2003,
lahirlah fakultas sastra di Universitas Jenderal
Soedirman Purwokerto. Hal
ini menjadi batu lompatan lagi untuk tumbuhnya beragam komunitas sastra,
seperti Komunitas Wedang Kendhi yang sepakat berikrar pada 2005 pasca HTKP.
HTKP
mulai menampakkan taring dengan
sebuah penerbitan buku antologi cerita pendek dan puisi “Jejak Tapak Langkah Calon Sastrawan
Purwokerto” pada Februari 2005. Kemudian di tahun yang sama, tepatnya 8 Mei
2005, buku tersebut di bedah oleh
budayawan Ahmad Tohari di
RRI Pro I Purwokerto. Buku lain yang
berhasil mereka cetak lahirnya pada rentang tahun 2005-2008.
Selain
menerbitkan karya sastra cetak, HTKP juga mengadakan beberapa pementasan,
seperti pementasan monolog Prita Istri Kita bekerjasama dengan Sambel Terasi RRI
Purwokerto (September 2005) dan pementasan sastra lainnya.
Di
balik setiap karya dan kreatifitas yang telah
ditampilkan, HTKP juga pernah mengalami hibernasi seperti komunitas lainnya. Tidak
ada komunitas yang sempurna. Setidaknya
3 sampai 4 tahun terakhir, masing-masing pendiri HTKP mulai memiliki agenda
diluar komunitas dan lebih berpikir realistis. Bahkan salah satu di
antaranya, Agustav Triono, sudah memiliki keluarga. Namun
bagi mereka hal tersebut bukanlah masalah yang berarti
karena ketika berkomunitas,
setiap anggota sudah saling memahami, melengkapi, dan menutupi kekurangannya masing-masing. HTKP
berprinsip untuk memberikan kebebasan pribadi dan tetap bertanggungjawab dalam
kelompok. Begitulah HTKP tumbuh dan berkembang dalam
kesederhaan dan kehangatannya.
HTKP masih memiliki
banyak mimpi dan ide gila yang ingin mereka wujudkan, seperti membuat buku
antologi novel dan menampilkan pementasan dengan durasi yang lebih lama lagi.
Selain itu, HTKP berharap di usianya yang sudah menginjak tahun ke-8 ini,
mereka masih bisa berpegang teguh pada filosofi nama komunitas, Hujan Tak
Kunjung Padam. Mereka akan tetap berkarya dengan kreativitas yang tak akan pernah mati.
HTKP akan tetap menjadi tempat kreatif yang tak pernah mati, hingga beberapa
tahun ke depan, hingga sastra semakin dikenal dan dicintai. (N.H)


0 comments:
Posting Komentar