Hari itu matahari datang seperti biasanya. Seperti ini yang biasanya dipanggil pagi hari. Ketika ayam jantan mulai berkokok dan sinar mulai menyinari dunia. Mata seakan tertusuk menatap kearahnya.
Gabriel berangkat sekolah dengan sepeda usangnya. Ia pamit kepada kedua orangtua yang ia cintai itu. Dengan wajah haru, ibunya berkata, “Jagoanku, belajar yang benar ya disekolah. Buat ibu dan bapakmu bangga”. Gabriel tersenyum seperti malaikat. tidak seperti anak lain, ia tidak pernah mendapatkan jatah uang saku. Ia sudah membawa bekal berupa air putih dan makanan ala kadarnya.
Sampai sekolah, ia memarkirkan sepedanya disisi belakang sekolah. Dengan hati-hati ia berjalan menuju ruang kelas di lantai satu. Sepatu yang sudah usang, tidak menjadi halangan untuk dirinya melangkah.Tapi justru ulah teman-temannya yang menghalangi langkahnya.
“Ah… kamu anak miskin aja blagu mau sekolah segala! lebih baik kamu bekerja membantu bapak dan ibu mencari uang!!!” ketus Vega berulang kali.
Tapi Gabriel hanya tersenyum menatap wajah keras Vega. Ia tidak pernah berniat untuk membalas semua ucapan ataupun perbuatan Vega serta teman-temannya. Ia tahu diri. Ia hanya anak yang memiliki latar belakang ekonomi yang berbeda dengan teman-temannya disekolah. Tapi Tiara, anak kota yang baru beberapa hari pindah itu justru bersikap baik dengannya.
“Gabriel, kamu tidak usah memikirkan perkataan Vega dan Satria! mereka jahat!” kata Tiara yang tiba-tiba datang.
Vega yang menyukai gadis tersebut, semakin sebal dengan Gabriel yang dibela oleh gadis pujannya. Sedangkan Satria hanya tertawa sinis melihat adegan ini.
Tiara menggandeng tangan kanan Gabriel dan mengajaknya masuk kedalam kelas. Mereka duduk dibangku paling depan. Tiara mengeluarkan buku pelajarannya dan mulai membaca. Sedangkan Gabriel menatap Tiara dengan sikap heran.
“Tiara, kenapa kamu baik sekali denganku? kamu gak usah terlalu baik sama aku! aku gak pantes berteman sama kamu” kata Gabriel merendah. Tiara membalikan badannya dan menatap sahabatnya tersebut.
“Kenapa kamu berfikir seperti itu?”.
“Aku hanya bersikap sopan”.
Tiara terdiam. Tampaknya Tiara sedang memikirkan sesuatu. Dan Gabriel dibuatnya bingung. Untuk pertama kalinya, Gabriel banyak berbicara dengan orang lain. Biasanya, ia hanya tersenyum dan tidak banyak omong. Baginya, lidah adalah pedang. Ia tidak mau melukai siapapun dengan pedangnya tersebut.
“Tiara, kamu itu orang pertama yang membuat aku banyak bicara”.
“Apa? kenapa bisa begitu ya?
Sekarang giliran Gabriel yang terdiam. Gabriel langsung mencodongkan badannya kearah depan kelas. Suara bel yang menandakan jam pelajaran dimulai pun telah berbunyi. Para murid mulai masuk dan duduk ditempatnya masing-masing. Tak lama, Pak Soleh juga masuk. Pak Soleh adalah guru matematika.
Pak Soleh memberikan tugas kepada para murid. Dan seperti biasanya, Gabriel mampu menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu. Vega dan Satria iri melihat kepandaian Gabriel. Apalagi, Gabriel selalu dipuji oleh guru-guru.
Sebulan lagi, Gabriel dan teman-temannya akan menghadapi ujian akhir sekolah. Mereka sudah kelas dua belas. Vega dan Satria mengikuti kursus dengan guru dari kota. Tiara juga mendapatkan pelajaran tambahan dari pamannya yang seorang dosen di kota. Tapi lain dengan Gabriel. Ia hanya belajar sendiri dirumah tanpa bimbingan siapapun.
“Heh, Gabriel! Mana mungkin kamu lulus!” tuduh Vega.
“Iya benar! Kamu kan gak ikut kursus ataupun pelajaran tambahan” tambah Satria.
Lagi-lagi ia hanya tersenyum. Tiara yang melihat perlakuan Vega dan Satria terhadap Gabriel tidak habis fikir. Mengapa Gabriel begitu sabar menghadapi orang-orang seperti Vega dan Satria. Apalagi, ini bukanlah ulah mereka yang pertama kalinya. Mereka sudah hampir tiga tahun menghina Gabriel seperti itu. Tiara semakin kagum melihat Gabriel.
Detik-detik menjelang ujian akhir sekolah, Vega dan Satria tak ada bosannya mengerjai Gabriel. Sampai suatu hari, mereka berdua mengambil buku milik Gabriel sehingga ia mendapatkan hukuman dari pak Soleh.
Hari ini hari Senin. Semua murid kelas dua belas di SMA Sukamandi merasakan hal yang sama. Mereka gugup menjawab soal. Tapi Gabriel Nampak tenang. Sebelum berangkat seperti biasanya ia pamit kepada bapak dan ibu dan meminta didoakan agar diberikan kemudahan menjawab soal. Dengan senang hati, bapak dan ibu pasti mendoakan anaknya, apalagi bila anaknya seperti Gabriel ini. Gabriel juga sempat mencium kedua telapak kaki ibunya. Ibunya menangis dan memeluk anak laki-lakinya tersebut.
“Allah akan memberikan kebahagian untuk anak sepertimu nak ..” kata ibunya lirih.
“Amin ya bu”
Disekolah, semua murid sudah bersiap, mencoba memantapkan diri untuk menjawab soal. Semua perlengkapan pun sudah dimiliki masing-masing siswa. Gabriel hanya memakai sebuah pensil yang sudah pendek milik adiknya, sebuah rautan using, dan penghapus yang ukurannya sudah tidak layak.
Ia membaca basmalah sebelum mengisi lembar jawaban.
“Bismilahirohmannirohim”
Dalam waktu tiga puluh menit, Gabriel berhasil mengisi lembar jawaban. Ia pun berdiri dan memberikan lembar jawaban serta lembar soal kepada pengawas. Ia berjalan keluar kelas lalu duduk disebuah bangku using di depan kelas. Ia buka tasnya yang sudah robek-robek dengan penuh jahitan tersebut. Diambilnya sebuah buku tebal, dan dibukanya.
Ia membaca buku!! Sungguh hal luas biasa. Disaat murid-murid lainnya memilih makan ke kantin atau memainkan ponsel canggihnya. Pak Soleh yang melintas depannya hanya tersenyum lalu menyapa Gabriel.
“Tetap seperti itu yaaa nak” kata pak Soleh halus.
“Iya pak” jawab Gabriel sambil menunduk, malu.
Selama lima hari, Gabriel melakukan hal yang sama. Pamit kepada kedua orangtuanya, mencium kedua telapak kaki ibunya dan mengerjakan soal ujian dengan sangat baik. Dan sebulan kemudian, saat pengumuman kelulusan, Gabriel didampingi ibu dan bapaknya serta pak Soleh yang sudah menganggap Gabriel seperti anaknya.
“Aku lulus pak, bu!!” kata Gabriel senang.
Ibu, bapak, dan pak Soleh pun juga senang tiada tara. Mereka sedari awal memang yakin bahwa Gabriel mampu mendapatkan kelulusan dengan nilai yang sangat baik. Ya, memang benar. Hasil ujian Gabriel, jauh diatas hasil milik siswa lainnya dengan nilai rata-rata 9,80.
Gabriel langsung sujud syukur. Saat itu juga Tiara menghampirinya. Tiara juga lulus. Begitu pun Satria. Namun berbeda kisah dengan Vega. Vega mendekati Tiara dan Gabriel ditemani ayahnya, pak Kades.
“Selamat yah Gabriel. Kamu lulus dengan nilai yang sangat baik” ujar pak Kades.
“Terimkasih pak Kades! Bagaimana dengan Vega?”.
Pak Kades hanya tersenyum.
“Vega harus belajar sedikit lagi supaya lulus”.
Raut wajah Gabriel langsung murung. Ia merasa sedih melihat salah satu temannya mengalami kegagalan yang tertunda.
“Gabriel, aku mau minta maaf sama kamu. Aku sudah berlaku tidak baik kepada kamu. Aku sadar, pendidikan itu untuk semua. Gak memandang status dan derajatnya. Kamu membuktikan kalau ternyata orang dengan latar belakang yang berbeda, mampu menjadi sukses. Aku mendapatkan banyak pelajaran dari kamu”.
Itu adalah kalimat terpanjang dan paling bijak yang pernah diucapkan oleh Vega. Gabriel, Tiara, ibu, bapak, pak Kades dan pak Soleh tersenyum bangga mendengarnya.
“Kamu tidak perlu khawatir, aku akan membantu kamu belajar untuk ujian remedial”. kata Gabriel.
Akhirnya, Gabriel, Vega, Satria, dan Tiara pun berteman baik. Vega lulus berkat usahanya. Vega, Satria dan Tiara melanjutkan ke sekolah di kota. Sedangkan Gabriel mendapatkan beasiswa ke Amerika. Beberapa tahun kemudian, keluarga Gabriel menjadi keluar dengan ekonomi yang lebih baik.


0 comments:
Posting Komentar