Kehidupan saya sebelumnya normal dan bahagia, seperti remaja 18 tahun yang lainnya. Keluarga saya kecil, hanya ada ayah, ibu, dan adik perempuan saya Dee. Kehidupan yang sungguh indah. Paling-indah. Tiada hari yang saya lewatkan tanpa kehadiran mereka. Bersama mereka, saya merasakan kehidupan yang lengkap dan seutuhnya. Ayah dan ibu selalu bersujud untuk kesuksesan saya, mengorbankan seluruh hidup melelahkan mereka demi saya. Puji syukur karena Tuhan telah memberikanku kebahagian lain lewat ibu dan ayah. The best parent ever. Dan tak perlu kau tanyakan besar rasa cinta saya kepada mereka.
Alicia, itu nama saya. Saya teramat mencintai hujan. Bagi saya aroma hujan adalah aroma termewah dari surga. Saya sudah menggilai rasa itu, entah sejak kapan. Saya juga tergolong gadis yang manja dan senang bila mendapat perhatian berlebih dari orang-orang disekitarnya. Rasanya wajar dan normal-normal saja, saya masih 18 tahun. Tapi kecintaan saya akan hujan berubah sejak saya dihadapkan kepada keputusan untuk menyelesaikan pendidikan S1 saya di kota yang jauh dari keluarga dan sahabat. Kota perantau mengantarkan saya kepada pintu kehidupan yang lain, yang belum pernah saya jalani sebelumnya. Kota perantau lah yang merubah saya. Saya tak lagi menyukai hujan. Atau lebih tepatnya saya membenci hujan di kota perantau.
Pagi ini kamar saya terasa beberapa kali lebih sejuk dari biasanya. Hujan dari semalam membawa saya kepada romantisme kota perantau, sekaligus pilu yang tak mampu diucapkan secara lisan. Di kota ini, untuk beberapa hari atau bulan (sebenarnya hitungan tahun), saya akan menuntut ilmu. Satu keputusan besar yang berdampak pada kehidupan saya. Ya benar, kehidupan saya dalam arti sempit dan luas. Bisa dibayangkan bagaimana pilunya jauh dari Jakarta dimana kedua orangtua serta kedua sahabat saya tinggal, Gischa dan Cindy. Mereka sudah seperti belahan jiwa saya. Benar-benar belahan jiwa saya.
Kota ini tak begitu besar. Kota kelahiran saya puluhan kali lebih besar, megah, ricuh, ramai, dan padat, bila kamu mau membandingkan keduanya. Kota ini cukup tenang, atau terlalu tenang bagi saya. Saya sedikit merindukan semua hal tentang Jakarta. Bagaimanapun, saya akan tetap tinggal disini untuk sementara waktu. Saya membohongi diri bahwa saya akan nyaman dan menyukai tempat ini.
Saya berteman dekat dengan beberapa teman wanita disini, mereka baik dan cukup menyenangkan. Setidaknya kota perantau ini tak seburuk dugaanku. Mel adalah yang pertama saya kenal dan berlanjut hingga detik ini. Ia seperti gadis-gadis yang akan kamu temui di sebuah kelompok agama tertentu atau sebuah masjid. Mel gadis yang kuat dan berhijab. Lalu ada Cris dan Nensi. Mereka memang memang baik dan sopan, tapi tak sekedar baik dan sopan yang bisa menjadi sahabat saya.
Di kota kecil ini, hujan turun lebih sering dari kota Jakarta. Bisa kau rasakan betapa angkuh dan dinginnya kota ini setiap kali hujan datang. Hujan di kota perantau mengantarkan saya pada rasa benci yang mendalam. Tak pernah saya membenci hujan, tidak di kota ini. Hujan tak lagi mengingatkan saya pada romantisme kota Jakarta, atau tenangnya ibu kota di kala hujan, atau hangatnya sebuah pelukan dari kasih saya, dan segelas coklat hangat yang selalu disediakan ibu. Hujan di kota perantau justru mengingatkan saya akan kesendirian, kesunyian yang menusuk, dingin, sepi, mati lampu, suara gemuruh dari hujan, dan kelaparan. Duh! Saya benci hujan di kota perantauan.


0 comments:
Posting Komentar