Jutaan rasa syukur saya panjatkan atas penciptaan satu karya lagi. Ini adalah dongeng anak pertama yang saya tulis. Awalnya dongeng anak ini diciptakan dengan tujuan memenuhi tugas mata kuliah penulisan kreatif. Dan karena tugas ini pula saya mengenal satu jenis lagi karya sastra. Rasanya menarik untuk mendalami dongeng anak lebih dalam lagi :) Selamat membaca! Love, xoxo
Di sebuah kota kecil di bagian utara
pulau terdapat sebuah istana besar dan megah. Istana dipimpin oleh Raja Edgardo
yang gagah dan bijaksana, dan Ratu Queena yang cantik serta berbudi luhur. Sudah
puluhan tahun raja dan ratu memimpin kota. Istananya indah dan tanahnya subur. Semua
sayur, buah, dan bunga berwarna cantik tumbuh di sekitar istana. Ada sebuah
sungai berwarna merah muda yang harum dan tak pernah kering. Di belakang istana
ada sebuah pantai kecil berkarang yang indah. Rakyat istana hidup dengan
bertani dan berdagang di sebuah pasar di pusat kota. Semua keluarga istana dan
rakyat selalu bahagia setiap harinya
Raja dan ratu tidak hidup sendiri.
Mereka memiliki seorang putri yang kecantikannya sudah dikenal hingga keluar
kota. Putri Eugenie namanya. Ia adalah putri yang baik hati dan selalu membantu
rakyatnya yang mengalami kesulitan. Putri Eugenie memiliki tubuh kecil dengan
rambut hitam panjang terurai. Ia selalu memakai gaun berwarna merah muda dengan
pita merah di punggungnya. Putri Eugenie selalu tampil cantik, anggun, dan
mempesona. Tak heran bila setiap pangeran di berbagai kota dan istana ingin
menjadi teman dekat Putri Eugenie.
Di tempat yang berbeda, di tengah hutan
yang gelap yang ditumbuhi berbagai pohon besar dan tua, tinggal seorang nenek penyihir
yang jahat dan kesepian. Penyihir diasingkan karena sering mengganggu para
keluarga istana. Nenek penyihir tak suka melihat kebahagiaan keluarga Raja Edgardo,
terutama kecantikan Putri Eugenie. Nenek penyihir memiliki rencana yang jahat
kepada keluarga istana.
Suatu hari, saat Putri Eugenie
mengadakan sebuah pesta atas usianya yang menginjak angka lima belas tahun,
sang nenek penyihir datang dan mengacau. Nenek penyihir membuat rakyat istana
ketakutan dan berlarian keluar istana. Nenek penyihir tertawa Hahahahaha dan
mengutuk Putri Eugenie menjadi seorang duyung. Raja dan ratu marah dan mengusir
nenek penyihir. Nenek penyihir pergi dengan sebuah sapu terbang yang usang dan
kotor. Putri Eugenie menangis saat melihat kakinya berubah menjadi sebuah ekor
berwarna merah muda. Ia seperti seekor ikan namun berwajah seorang putri. Putri
duyung, Putri Eugenie. Ratu Queena memeluk Putri Eugenie yang terus menangis.
Berhari-hari, berminggu-berminggu,
bahkan hingga hitungan bulan, sang Raja berusaha mencari seseorang yang bisa
menghilangkan kutukan nenek penyihir. Dari berbagai peri, penyihir baik, dan
tabib silih berganti datang ke istana. Namun tak ada satupun yang bisa
menghilangkan kutukan nenek penyihir yang penuh kebencian. Putri Eugenie kini
tinggal di sebuah pinggir pantai berkarang yang berada di belakang istana. Ada
seorang lumba-lumba kecil yang setia menemaninya. Saat siang hari putri akan
kembali menjadi manusia, namun ketika senja datang putri akan berubah menjadi
duyung. Oleh karena itu, Putri Eugenie harus tinggal di pantai.
Putri Eugenie merasa sedih. Bukan karena
ia berubah menjadi manusia setengah duyung, tapi karena ia melihat ayah dan
ibunya yang terus bersedih. Hingga suatu hari ia pergi dari pantai ke lautan
lepas bersama lumba-lumba. Putri Eugenie tak ingin melihat ayah dan ibunya
sedih karena dirinya. Ia lebih memilih pergi dan mencari seseorang untuk
menghilangkan kutukannya itu. Putri Eugenie terus berenang, berenang, entah
sudah sejauh apa. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan peri bernama Luella.
Luella adalah peri kecil yang baik hati. Putri Eugenie bercerita tentang
dirinya dan kutukan yang diberikan oleh nenek penyihir. Luella merasa iba
melihat Putri Eugenie dan berjanji akan menolongnya. Luella menceritakan sebuah
legenda kuno yang mungkin bisa membantu Putri Euginie dari kutukan nenek
penyihir.
“Aku pernah mendengar sebuah legenda
yang sudah sangat kuno. Mereka bilang untuk mematahkan mantra jahat dari
penyihir terkuat, kamu hanya perlu memiliki keberanian untuk melawan. Kamu
harus datang menghadapi penyihir itu. Aku yakin kamu adalah putri yang tidak
hanya cantik dan baik, tapi juga berani” kata Luella.
“Aku tak yakin, Luella. Tapi terimakasih
telah mencerita legenda itu kepadaku”
Sampai disitulah pertemuan Putri Eugenie
dan peri Luella. Mereka berpisah. Putri Eugenie terus terfikirkan tentang
legenda kuno yang ia dengar dari peri Luella.
“Delphin, apa yang harus kulakukan? Apa
aku cukup berani melawan nenek penyihir itu” Putri Eugenie memeluk
lumba-lumbanya.
Hari itu matahari sudah mulai nampak.
Putri Eugenie pun kembali menjadi manusia dan menepi sejenak di sebuah pantai
tak berpenghuni. Putri Eugenie terus berfikir tentang apa yang harus ia lakukan
sampai ia tertidur dibawah pepohonan. Putri Eugenie bermimpi tentang ayah dan
ibunya yang juga dikutuk oleh nenek penyihir. Dalam mimpi itu pula ia tahu ia
harus melawan sang penyihir dengan keberanian penuh. Bahwa setiap kebenaran
akan selalu mengalahkan kejahatan. Putri Eugenie terbangun dari mimpinya.
“Delphin, kita harus kembali ke istana.
Aku harus melawan nenek penyihir. Aku harus menyelamatkan ayah dan ibu, dan
istana kita. Ayo kita pulang Delphin” Putri Eugenie kembali bersemangat.
Ia terus berenang untuk kembali ke
istananya. Saat sampai di pantai di belakang istananya, ia tak melihat ada
seorangpun disana. Ayah dan ibunya telah dikutuk menjadi batu oleh nenek
penyihir. Selagi terang, Putri Eugenie pergi ke hutan untuk mencari nenek
penyihir. Tak ada rasa takut dan ragu padanya.
“Kamu tak berhak merusak kebahagiaan
istanaku. Aku tak akan takut pada penyihir seperti kamu. Kamu tak punya
siapapun yang bisa dijadikan tempat berbagi. Kamu kesepian. Kamu tak sekuat
itu. Aku akan mematahkan kutukanmu terhadapku dan semua keluarga istana”
“Tidak...kau tidak akan mampu mematahkan
kutukanku hahahahahaha”
Tiba-tiba perlahan ada sebuah cahaya
yang menyelimuti tubuh Putri Eugenie. Nenek penyihir pun merasakan kepanasan
disekujur tubuhnya dan berubah menjadi sebuah nenek yang lemah dan tak memiliki
sihir lagi. Keluarga istana pun ternyata telah kembali menjadi manusia kembali.
Putri Eugenie merasa senang dan berlari kembali ke istana. Dipeluknya ayah dan
ibunya tersebut. Tapi karena merasa iba kepada nenek, keluarga istana tidak
menghukumnya dan menjadi nenek sebagai salah satu pelayan di istana.
Seluruh keluarga istana dan rakyat kini
hidup damai dan bahagia. Mereka tidak lagi takut akan kutukan. Karena
keberanian Putri Eugenie telah mengajarkan mereka bahwa tak ada satupun hal
yang perlu ditakutkan selagi kita punya keberanian untuk melawannya.


0 comments:
Posting Komentar