Rabu, 20 November 2013

DONGENG ANAK; Putri Eugenie

Posted by nofi.hidayanti at November 20, 2013
Jutaan rasa syukur saya panjatkan atas penciptaan satu karya lagi. Ini adalah dongeng anak pertama yang saya tulis. Awalnya dongeng anak ini diciptakan dengan tujuan memenuhi tugas mata kuliah penulisan kreatif. Dan karena tugas ini pula saya mengenal satu jenis lagi karya sastra. Rasanya menarik untuk mendalami dongeng anak lebih dalam lagi :) Selamat membaca! Love, xoxo
Di sebuah kota kecil di bagian utara pulau terdapat sebuah istana besar dan megah. Istana dipimpin oleh Raja Edgardo yang gagah dan bijaksana, dan Ratu Queena yang cantik serta berbudi luhur. Sudah puluhan tahun raja dan ratu memimpin kota. Istananya indah dan tanahnya subur. Semua sayur, buah, dan bunga berwarna cantik tumbuh di sekitar istana. Ada sebuah sungai berwarna merah muda yang harum dan tak pernah kering. Di belakang istana ada sebuah pantai kecil berkarang yang indah. Rakyat istana hidup dengan bertani dan berdagang di sebuah pasar di pusat kota. Semua keluarga istana dan rakyat selalu bahagia setiap harinya
Raja dan ratu tidak hidup sendiri. Mereka memiliki seorang putri yang kecantikannya sudah dikenal hingga keluar kota. Putri Eugenie namanya. Ia adalah putri yang baik hati dan selalu membantu rakyatnya yang mengalami kesulitan. Putri Eugenie memiliki tubuh kecil dengan rambut hitam panjang terurai. Ia selalu memakai gaun berwarna merah muda dengan pita merah di punggungnya. Putri Eugenie selalu tampil cantik, anggun, dan mempesona. Tak heran bila setiap pangeran di berbagai kota dan istana ingin menjadi teman dekat Putri Eugenie.
Di tempat yang berbeda, di tengah hutan yang gelap yang ditumbuhi berbagai pohon besar dan tua, tinggal seorang nenek penyihir yang jahat dan kesepian. Penyihir diasingkan karena sering mengganggu para keluarga istana. Nenek penyihir tak suka melihat kebahagiaan keluarga Raja Edgardo, terutama kecantikan Putri Eugenie. Nenek penyihir memiliki rencana yang jahat kepada keluarga istana.
Suatu hari, saat Putri Eugenie mengadakan sebuah pesta atas usianya yang menginjak angka lima belas tahun, sang nenek penyihir datang dan mengacau. Nenek penyihir membuat rakyat istana ketakutan dan berlarian keluar istana. Nenek penyihir tertawa Hahahahaha dan mengutuk Putri Eugenie menjadi seorang duyung. Raja dan ratu marah dan mengusir nenek penyihir. Nenek penyihir pergi dengan sebuah sapu terbang yang usang dan kotor. Putri Eugenie menangis saat melihat kakinya berubah menjadi sebuah ekor berwarna merah muda. Ia seperti seekor ikan namun berwajah seorang putri. Putri duyung, Putri Eugenie. Ratu Queena memeluk Putri Eugenie yang terus menangis.
Berhari-hari, berminggu-berminggu, bahkan hingga hitungan bulan, sang Raja berusaha mencari seseorang yang bisa menghilangkan kutukan nenek penyihir. Dari berbagai peri, penyihir baik, dan tabib silih berganti datang ke istana. Namun tak ada satupun yang bisa menghilangkan kutukan nenek penyihir yang penuh kebencian. Putri Eugenie kini tinggal di sebuah pinggir pantai berkarang yang berada di belakang istana. Ada seorang lumba-lumba kecil yang setia menemaninya. Saat siang hari putri akan kembali menjadi manusia, namun ketika senja datang putri akan berubah menjadi duyung. Oleh karena itu, Putri Eugenie harus tinggal di pantai.
Putri Eugenie merasa sedih. Bukan karena ia berubah menjadi manusia setengah duyung, tapi karena ia melihat ayah dan ibunya yang terus bersedih. Hingga suatu hari ia pergi dari pantai ke lautan lepas bersama lumba-lumba. Putri Eugenie tak ingin melihat ayah dan ibunya sedih karena dirinya. Ia lebih memilih pergi dan mencari seseorang untuk menghilangkan kutukannya itu. Putri Eugenie terus berenang, berenang, entah sudah sejauh apa. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan peri bernama Luella. Luella adalah peri kecil yang baik hati. Putri Eugenie bercerita tentang dirinya dan kutukan yang diberikan oleh nenek penyihir. Luella merasa iba melihat Putri Eugenie dan berjanji akan menolongnya. Luella menceritakan sebuah legenda kuno yang mungkin bisa membantu Putri Euginie dari kutukan nenek penyihir.
“Aku pernah mendengar sebuah legenda yang sudah sangat kuno. Mereka bilang untuk mematahkan mantra jahat dari penyihir terkuat, kamu hanya perlu memiliki keberanian untuk melawan. Kamu harus datang menghadapi penyihir itu. Aku yakin kamu adalah putri yang tidak hanya cantik dan baik, tapi juga berani” kata Luella.
“Aku tak yakin, Luella. Tapi terimakasih telah mencerita legenda itu kepadaku”
Sampai disitulah pertemuan Putri Eugenie dan peri Luella. Mereka berpisah. Putri Eugenie terus terfikirkan tentang legenda kuno yang ia dengar dari peri Luella.
“Delphin, apa yang harus kulakukan? Apa aku cukup berani melawan nenek penyihir itu” Putri Eugenie memeluk lumba-lumbanya.
Hari itu matahari sudah mulai nampak. Putri Eugenie pun kembali menjadi manusia dan menepi sejenak di sebuah pantai tak berpenghuni. Putri Eugenie terus berfikir tentang apa yang harus ia lakukan sampai ia tertidur dibawah pepohonan. Putri Eugenie bermimpi tentang ayah dan ibunya yang juga dikutuk oleh nenek penyihir. Dalam mimpi itu pula ia tahu ia harus melawan sang penyihir dengan keberanian penuh. Bahwa setiap kebenaran akan selalu mengalahkan kejahatan. Putri Eugenie terbangun dari mimpinya.
“Delphin, kita harus kembali ke istana. Aku harus melawan nenek penyihir. Aku harus menyelamatkan ayah dan ibu, dan istana kita. Ayo kita pulang Delphin” Putri Eugenie kembali bersemangat.
Ia terus berenang untuk kembali ke istananya. Saat sampai di pantai di belakang istananya, ia tak melihat ada seorangpun disana. Ayah dan ibunya telah dikutuk menjadi batu oleh nenek penyihir. Selagi terang, Putri Eugenie pergi ke hutan untuk mencari nenek penyihir. Tak ada rasa takut dan ragu padanya.
“Kamu tak berhak merusak kebahagiaan istanaku. Aku tak akan takut pada penyihir seperti kamu. Kamu tak punya siapapun yang bisa dijadikan tempat berbagi. Kamu kesepian. Kamu tak sekuat itu. Aku akan mematahkan kutukanmu terhadapku dan semua keluarga istana”
“Tidak...kau tidak akan mampu mematahkan kutukanku hahahahahaha”
Tiba-tiba perlahan ada sebuah cahaya yang menyelimuti tubuh Putri Eugenie. Nenek penyihir pun merasakan kepanasan disekujur tubuhnya dan berubah menjadi sebuah nenek yang lemah dan tak memiliki sihir lagi. Keluarga istana pun ternyata telah kembali menjadi manusia kembali. Putri Eugenie merasa senang dan berlari kembali ke istana. Dipeluknya ayah dan ibunya tersebut. Tapi karena merasa iba kepada nenek, keluarga istana tidak menghukumnya dan menjadi nenek sebagai salah satu pelayan di istana.

Seluruh keluarga istana dan rakyat kini hidup damai dan bahagia. Mereka tidak lagi takut akan kutukan. Karena keberanian Putri Eugenie telah mengajarkan mereka bahwa tak ada satupun hal yang perlu ditakutkan selagi kita punya keberanian untuk melawannya.

0 comments:

Posting Komentar

 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos