Sabtu, 17 Desember 2011

Gubuk Kenangan

Posted by nofi.hidayanti at Desember 17, 2011
Gubuk kenangan itu terus berdiri tak pernah tergerus oleh zaman. Letaknya masih di pusat kota Jakarta, kota yang kata banyak orang sekejam ibu tiri. Gubuk itu tetap ada. Bangunannya tak banyak perubahan, masih berlantaikan ubin dingin dan dinding yang rapuh. Aku bisa melihat kondisi di dalamnya lewat celah-celah yang dibuat oleh waktu dan serangga nakal. 
Di ruang tamu, ku saksikan sebuah meja besar dari kayu jati. Di sekelilingnya berdiri reyot beberapa kursi yang terbuat dari anyaman kayu. Dan terpajang lukisan hitam putih sesosok ibu muda yang menawan, ibuku. Sungguh klasik. Memasuki gubuk lebih dalam, ada sebuah ruangan yang sempit, tempat beristirahat kedua orangtuaku saat datangnya malam. Tempat tidurnya yang tidak terlalu besar dengan kasur dan sprei yang tampaknya sudah termakan oleh zaman. Adapula lemari kayu di sudut kanan ruangan ini.


Langkahku semakin penasaran, ku laju lebih cepat kakiku menuju kamar di sebelahnya. Inilah ruangan yang menjadi saksi bisu perjalanan masa kecilku. Sebuah kasur kapuk mungil bercat merah marun dengan beberapa boneka lusuh yang tertata cantik di dekat bantal. Beberapa lukisan masa kecilku pun masih terpajang di dinding kayu itu. Aku merindukan setiap sudut di gubuk ini. Itulah alasannya mengapa aku enggan merobohkan gubuk kenangan ini. Aku membiarkan gubuk ini tetap berdiri tegak di tengah perumahan kota Jakarta yang padat dan bertingkat menyentuh langit.

0 comments:

Posting Komentar

 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos