Kamis, 06 Oktober 2011

Super Freak Man's Love

Posted by nofi.hidayanti at Oktober 06, 2011

Pagi ini terasa berbeda. Matahari tak menampak dirinya seperti biasa. Udara dingin menyelimuti tubuhku yang tinggi, dan sekumpulan awan hitam mengelilingi si mentari. Menambah suasana yang kelam. Tampaknya akan didera hujan. Ah tak peduli…. Aku tetap saja berlari kecil menuju kampus. Aku ada kelas jam 7, kuliah filsafat. Jam di tanganku menunjukkan pukul 6. Memang masih terlalu pagi. Tapi sudah menjadi kebiasaanku datang lebih awal, meskipun kostanku hanya berjarak puluhan meter.

 Ku percepat langkahku. Tak ingin rasanya buku-buku tebal yang kubawa hancur karena rintikan hujan. Sudah susah payah aku menyisihkan setiap uang jajanku untuk sekedar membeli ilmu. Jangan sampai hilang sia-sia dibawa air.
 
Tak kenal maka tak sayang. Aku Adam Fajar Ramadhan, mahasiswa Sastra Indonesia semester 5.  Biasa dipanggil Adam, si cupu, si kutu buku, dan berbagai julukan lain yang diberikan oleh mahasiswa-mahasiswa disini. Sebenarnya aku tidak merasa kuper (kurang pergaulan) atau cupu. Aku cukup tau bagaimana bergaul ala mahasiswa jaman sekarang. Datang ke kampus, nongkrong, ngopi, cabut saat kelas kosong, balapan, atau hal-hal lain yang menurut mereka keren. Tapi bagi ku sama sekali tidak keren. Apa itu yang namanya mahasiswa? MAHAsiswa? Di mataku, mereka adalah sekelompok anak burung yang sedang mencari jati diri. Seperti kapal di lautan ombak, mereka terombang-ambing ke kiri dan kanan. Dan aku adalah batu karang yang berdiri tegar saat ombak menerjang. Itulah bedanya aku dan mereka……. Ya kami jelas berbeda.
 
Kali ini aku berpakaian agak berbeda dari biasanya. Lebih ‘modis’…. Aku ingin mencoba bagaimana berpakaian kaos lengan pendek seperti teman-temanku yang lain. Sepertinya nyaman.  Biasanya aku mengenakan kemeja rapih dan setelan celana jeans dengan potongan lurus dan sepatu kets hitam. Aku harap teman-temanku akan menerimaku sebagai bagian dari mereka. Ku harap….. sekali saja…..

Selain pakaian yang berbeda, dikampus juga ada hal yang berbeda. Hari ini adalah hari pertama para mahasiswa baru ikut belajar bersama seniornya. Tidak terlalu spesial bagiku. Karena itu artinya, yang meledek dan menjadikan aku sebagai “the freak man” akan bertambah personil. Biasanya, aku hanya mempersiapkan mentalku saja. 

Aku tarik napas dalam-dalam saat memasuki area kampus. Ternyata sudah ramai. Ya mungkin yang ramai itu adalah para mahasiswa baru yang sengaja datang pagi-pagi. Calon penerus bangsa, ya kata kebanyakan orang….. 

Mereka berpakaian rapih. Aku melirik ke arah pakaianku sendiri. Kaos lengan pendek???? Oh thanks God, salah kostum sepertinya. Biarlah. 

Ku percepat langkahku. Kini mataku hanya tertuju pada satu pintu. Perpustakaan yang berada di samping kanan kelas ruang 3. Aku siap-siap menggenggam pegangan pintu, dan tiba-tiba ada tangan lain disana. Tangan putih dan lembut. Seorang gadis.

“Maaf kak….” Ucapnya singkat sambil menatapku dengan rasa tidak enak.
Aku tidak berkedip. Gadis yang didepanku tampak asing. Dan dia cantik. Teramat cantik bagiku yang super aneh ini. 

“I…i….iya…..” jawabku gugup. Aku bergegas masuk perpustakaan dan ikutin oleh gadis itu.
Hem.. kurasa ia adalah mahasiswa baru. Aku belum pernah melihatnya. Aku ambil sebuah buku filsafat dan duduk di bangku paling pojok. Di sela-sela waktu, aku perhatikan gadis itu. Ia hanya berputar di lemari pertama. Melihat buku, terkadang mengambil dan membacanya sedikit, lalu mengembalikannya, begitu seterusnya. Sampai saat ia mengambil buku tentang langkah-langkah menulis puisi yang baik lalu ia duduk disampingku.

Aku ingin bertanya….”Kamu mahasiswa baru?” tapi mulutku sulit sekali bicara. Akhirnya aku memilih diam dan fokus pada buku didepanku. Aku bervisualisasi….. “Kau hanya imajinasiku, kau tak mungkin nyata….” Lalu aku merasa benar-benar focus terhadap buku filsafat. 

Hari ini semua berjalan dengan lancar dan sama seperti hari-hari biasanya. Bahkan teman-teman satu kampus tak ada yang memperhatikan tampilan ku yang berbeda. Mereka tetap berfikiran sama, bahwa aku ini adalah anak aneh. Baik lah, biarkan saja mereka berfikir semaunya….

Di kostan pun, aku bukan tipe anak yang dikenal. Sebagian mengenalku hanya sebatas nama. Dan sisanya hanya say hay bila bertemu. Tak ada satupun yang ku rasa bisa dibilang sahabat. Hanya seorang gadis yang ku kenal melalui Yahoo! Messanger. Namanya Amanda. Aku tak tau bagaimana rupanya seperti apa. Begitu juga sebaliknya. Dan mungkin ini yang dinamakan cinta buta. Aku merasa nyaman senyamannya bila berbicara banyak hal dengan Amanda. Dia baik. Berbeda dengan yang lain. Ku harap dia adalah cinta sejatiku.

Aku berusaha pulang ke kostan secepat yang ku bisa. Berlari hingga ke kamar dan membuka laptopku. Sudah ada beberapa message dari Amanda.

“Hai Adam... Bagaimana kabarmu hari ini? Ini adalah hari dimana tepat setahun kita berbagi semua hal. Apa kau tidak ingin bertemu denganku secara langsung? Ada banyak cerita yang ingin bagi denganmu. Aku fikir minggu adalah hari yang baik. Bagaimana? Di café Libero jam 3? Aku tunggu kabar darimu segera….”

Jlebb….. rasanya jantungku berhenti berdetak saat itu juga. Ini yang selalu aku takutkan. Aku tak siap. Ada beberapa alas an aku tak ingin terjadi.

Pertama, aku bukan tipe pria yang dengan jantan menghampiri seorang wanita yang duduk manis di café sendirian lalu mengatakan dengan lantang sambil mengajukan tangan, “Hai, aku Adam….”.

Kedua, aku tidak percaya diri dengan penampilanku yang apa adanya seperti ini. Amanda pasti gadis yang amat cantik. Dan aku? Pria yang sangat aneh.

Ketiga, aku trauma dengan kegagalan cintaku selama ini. Sudah sepuluh kali lebih semenjak SMP aku gagal dalam percintaan. Dari dimanfaatkan, dikerjai, sampai dijadikan bahan taruhan. Pahit…. 

Keempat, ribuan alasan lain yang melayang-layang dibenakku saat ini juga.

Ku rangkai kata-kata terbaik untuk meyakinkan Amanda bila pertemuan itu tidaklah penting.

“Hai Amanda… Kabarku cukup baik. Hari ini banyak mahasiswa baru dikampus. Mereka cukup menyenangkan. Ya, aku tau ini tepat setahun kita saling mengenal. Tidak terasa ya... aku ingin sekali bertemu, tapi Minggu ini aku ada hal penting yang harus aku lakukan. Bagaimana bila lain waktu? Aku sangat bersedih untuk hal ini….”

Sending……

Sambil berharap-harap cemas menunggu balasan dari Amanda, aku terus berfikir. Merangkai kata, bila saja Amanda tetap memaksa mengajak bertemu.


0 comments:

Posting Komentar

 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos