Ya Tuhan... Haruskah aku yang memulai semua ini pertama? Haruskah aku katakan betapa rindunya aku bika sehari tak melihatnya? Haruskah aku katakan betapa gelisahnya aku menunggu balasan pesannya?
Aku yang selalu tersenyum bila melihat ia bahagia. Aku yang selalu menangis bila melihat ia terluka. Aku yang selalu ketakutan setiap melihat wajahnya merah memarah.
Tuhan... Aku cinta padanya. Sangat. Teramat sangat.
Cinta ku padanya tak bersyarat. Cinta ku padanya tak mengharapkan balasan. Aku hanya ingin jurjur tentang semua rasa ini.
Tapi Tuhan.... Terkadang semua kesabaran ada batasannya. Aku lelah menunggu ia bergerak maju menghampiriku. Aku lelah mengikuti langkah cepatnya. Aku lelah mengejar besar impiannya.
Yang aku ingin berjalan bersama dengannya. Ia berdiri disampingku, menggenggam tanganku, lalu berkata,
"Aku selalu ada untukmu. Aku selalu disampingmu. Aku ada disetaip hela napasmu. Aku adalah malaikat penjaga tidurmu. Aku akan berdoa untukmu disetiap panjatku. Aku takkan menangis didepanmu. Aku hanya akan tersenyum untukmu. Dan aku mau kau jadi alasan terbesar senyumkui". Lali ia memelekku erat.
Tuhan... Aku cinta padanya.
Aku selalu menangis sambil tersenyum setiap mengingat wajahnya. Aku tak kuasa menahan rasa ini. Sungguh. Rasa yang membakar jiwa. Rasa yang memakan hati.
Aku ingin memeluknya Tuhan...
Aku ingin selalu bersamanya. Aku ingin dia jadi jodohku. Meski tak semua hal baik ada padanya.
Dia sibuk. Dia angkuh. Dia munafik. Dia dingin. Dia egois. Dia pemarah. Dia sensitif. Dia licik. Dia tertutup. Dia menyebalkan.
Tapi............ Ada sifat menyejukkan pada dirinya........
Dia idealis. Dia manis. Dia bertanggung jawab. Dia berkharisma. Dia konsisten. Dia fokus. Dia baik hati. Dia jujur. Dia serius. Dia menyenangkan.
Dan................
Dia selalu membuatku merasa rindu setengah mati.
Dia TOM.
Dia kakak kelas.
Dialah cinta ideal............
Tapi Tuhan..............
Aku benar-benar tak suka kekurangannya itu. Bukan maksudku tak menerima kekurangannya. Tapi... Ini persoalan prinsip. Dan HATI.
Ia terlalu angkuh mengakui dan memperjuangkan perasaannya. Aku merasa ini sudah melebihi hubungan senior dengan junior. Atau seorang teman. Atau persahabatan.
Apa dia sudah menganggapku sebagai seorang kekasih? Bisa ku ingat dengan jelas, sudah beberapa kali ia memanggilku dengan sebutan "SAYANG".
Aku menaruh hati. Dan aku menaruh harapan.
Apakah ini hanya harapan kosong ya Tuhan? Apakah cintaku akan bertepuk sebelah tangan? Apa disini hanya aku yang merasa getaran hebat setiap kali kedua mata kami bertemu?????
Oh Tuhan........ Tolonglah aku. Katakan padanya betapa aku ingin dia mengutarakan isi hatinya. Aku ingin ia jujur. Sekali saja. Tak membuatku menunggu terlalu lama, berhenti berharap, lalu pergi meninggalkan kenangan manis bersamanya.
Aku belum mau menggantinya ya Tuhan..........
Dia yang ku ingin. Dia yang ku cinta. Dia yang ku butuhkan. Dan rasa ingin bersamanya terlalu besar.
Tuhan........ Kini hanya satu pintaku tentang dirinya. Aku ingin ada perjanjian diantara kita. Dekatkan kami bila memang kau menjodohkan kami. Dan jauhkan lah saja kami seperti langit dan bumi bila pada akhirnya hanya berakhir dengan tangisan.
Tapi.............. Nofi dan TOM tidak akan pernah menjadi Nofi dan TOM seperti pada awalnya sebelum kami akrab. Akan ada perbedaan yang menyangkut sikap, pola, dan HATI. Karena pada dasarnya, dihatiku pernah terukir namanya. Dan dihati TOM pernah ada namaku.


0 comments:
Posting Komentar