Senin, 22 April 2019

KETIKA KAMU

Posted by nofi.hidayanti at April 22, 2019 0 comments
Ketika kamu mulai menjaga jarak, aku menyesuaikan langkahku. Memperlambat kecepatan dan kadang berhenti sejenak di tempatku. Diam, menangis, terus menyalahkan diri sendiri. Ketika kamu akhirnya berhenti memanggil sebutan sayang, aku pun melakukan kebodohan yang sama. Membuang jauh-jauh kenangan tentang suaramu memanggilku sayang. Kebahagiaan yang tak bisa diganti dengan apapun. Dan entah dimana semua kenangan manis itu sekarang berada. Di antara baris puisi rindu padamu. Atau titik titik kesal pada sikapmu. Ketika kamu mulai bersikap acuh dan angkuh, lagi dan lagi aku melaraskan sikapku. Dulu seminggu tak bertemu, aku akan merajuk mati-matian untuk berjumpa. Meski itu hanya sekedar percakapan ringan di depan kantor. Jarak berapapun, seterik matahari kala itu, aku tak pernah peduli. Rindu ya rindu. Harus bertemu. Kini, aku malah belajar mati-matian untuk tidak merajuk bertemu. Menahan semua gejolak sedih yang ada. Mengalihkan semuanya kepada hal-hal kecil yang tidak ada hubungannya denganmu. Belajar melupakan rindu. Sebodoh itu langkahku. Dan sedingin itu sikapmu.
Lalu, bagaimana jadinya bila kamu memilih tak lagi peduli? Benar-benar berhenti peduli? Apa aku harus tetap mengikuti? Apa aku harus tetap selaras? Berhenti di tempatku yang sekarang saja sudah cukup membuatku patah setengah mati. Melupakan dan melepas yang pernah terjadi saja sudah membuatku hancur setengah mati. Apa aku bisa berhenti peduli tentangmu? Bila itu artinya kematian bagiku?

Rabu, 13 Maret 2019

Good Night...Good Bye

Posted by nofi.hidayanti at Maret 13, 2019 0 comments
You and I had enough hard times,
we fought with each other enough,
 we made up with each other so many times.
We don't have to worry in the early morning anymore,
now relax and good night.

I might get tired a lot. And I know you too.
I don't want to think about you.
The coffee you taught me, I'll avoid it.
I always waited for you. You waited for me.
Now we don't have to.


We did our best obviously.
No one would blame us.
So we were not meant to be, I just know this way.
I think we can believe so.
You and I were happy enough.
 And love like crazy.
We don't have to painfully worry in the early morning anymore,
now really Good bye.

Rabu, 20 Februari 2019

That Little Things

Posted by nofi.hidayanti at Februari 20, 2019 0 comments
Ternyata tidak selamanya punya pasangan yang cuek itu adalah hal buruk. Karena tanpa disadari, sifat acuh tak acuhnya jadi sebuah tanda syukur dengan cara yang berbeda. Hal-hal kecil yang terlihat sepele, menjadi lebih bermakna ketika dilakukan olehnya. Hari ini, entah hanya perasaku saja, atau memang begitu adanya, hal-hal kecil yang ia lakukan menjadi terasa begitu manis berjuta kali lipat. Membelikanku eskrim, tanpa harus aku meminta dan merajuk untuk dibelikan. Mencuri-curi waktu sekedar menciumku, atau mengenggam erat tanganku. Mengelus lembut kepalaku. Memakaikan helm di kepalaku. Atau sekedar memastikan resleting jaketku sudah sampai ujung barisnya. Terlihat sepele bukan. Tapi aku jadi mengucap banyak syukur dan tersenyum karenanya.
Ternyata, tidak selamanya punya pasangan yang cuek adalah hal yang buruk. Karena bagaimanapun dia, entah si perhatian garis keras, atau si acuh tak acuh, kalau kamu menyayanginya, kamu akan tulus menerima buruk dan baiknya. Dan untuk hari ini, terima kasih untuk hal-hal kecil yang telah kamu lakukan untukku :) terima kasih, aku banyak tersenyum mengingatmu :) 

Kamis, 15 November 2018

Selamat Ulang Tahun

Posted by nofi.hidayanti at November 15, 2018 0 comments
Selamat bertambah usia. 
Sedikit gugup aku mengungkapkannya. 

Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan pada tanggal 15 November ketigapuluhtigamu ini. 
Tiap hurufnya kuambil dari rasaku padamu yang masih tersisa dalam hati. 

Kesatu, kau harus tahu, tulisan ini kubuat tepat sebulan sebelum hari jadimu. 
Semata-mata hanya ingin menjadi yang pertama dan terakhir mengucap selamat padamu. 
Meski mungkin bukan hadirku yang kau tunggu dan kau rindu. 

Kedua, ku ingin kau terus sentosa. 
Menikmati hari-hari indah setelah banyak hal yang pernah terjadi padamu, pada kita. Entah itu baik. Dan juga buruk. 

Ketiga, walau aku pernah mati-mati untuk meninggalkan atau melupakan, nyatanya kamu tetap yang pertama dan satu-satunya. 

Meski begitu, sampai tulisan ini telah usai dirangkai pun masih banyak pertanyaan bagiku. 

Terakhir, meski kisah kita tak selalu bahagia, kuharap kenangan manis yang pernah kau torehkan takkan habis terurai. 
Segala tutur manismu yang membuatku leleh dan tersenyum tanpa alasan akan selalu menjadi bogeman yang pukulannya tak pernah santai. 

Jangan risau pekat rasaku akan terbaca oleh banyak mata. 
Biarkan seluruh semesta tahu bahwa kita pernah saling mencinta. 

Sekali lagi, selamat bertambah usia. 
Titip salam buat keluarga. 
Kuharap di masa mendatang kita selalu berjumpa. 


— ,

 buat 🦖

Jumat, 13 April 2018

Pesan di Kotak Draft

Posted by nofi.hidayanti at April 13, 2018 0 comments
Ada banyak pesan yang akhirnya tidak pernah terkirim ke pemiliknya. Tak cukup banyak keberanianku yang tersisa. Maka kubiarkan habis pada saru pesan yang ada. Satu pesan itu, kira-kira seperti ini bunyinya:
Pada suatu senja, ingin kuajak kamu duduk di suatu taman. Hanya duduk. Benar-benar cukup dengan duduk. Diam. Mendengarmu bernafas. Melihatmu terpejam. Lalu ketika akhirnya kamu bangun, aku akan bacakan satu puisi.
"Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu menelponku manja, bilang cinta, ingin cepat berjumpa. Lalu merajuk bila aku tinggal di balik gagang telepon. Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu mengirim pesan mesra, sekedar bertanya kopi apa yang aku suka, atau bagaimana kabar hari Selasa. Juga menjadi yang pertama dan terakhir memelukku dari jauh dengan satu kata.  Menjadi yang paling suka cerita dari siapa yang kamu temui di kereta, hingga makan siangmu yang banyak nasinya. Tentu saja. Tentu saja aku masih menantikannya. Kamu dengan bahagia menggenggam kedua tanganku ketika kita berjalan di pinggir ibukota. Benar-benar berhenti berbagi tawa dengan wanita, dan memutuskan tertawa gila hanya berdua. Menjadi yang paling hangat hanya untuk satu wanita saja. Tentu saja. Tentu saja menantikan semuanya."
Aku kembali diam sejenak. Kulihat wajah senjanya dalam-dalam. Menunggu jawabannya. Dia hanya tersenyum. Kubayar lagi dengan sebuah kecupan manis di pipi kanannya, sambil berbisik.
"Tentu saja. Diantara semuanya, tetap kamu yang paling kunantikan. Cukup dengan kamu. Tak mengapa tak ada telepon suka cita. Tak mengapa tak ada pesan mesra. Tak mengapa ada wanita yang membuatmu juga ceria. Tentu saja. Kamu paling yang kunantikan."
Setelah membaca satu pesan di draft itu, aku benar-benar tersenyum gila.  Kuputuskan mengirimnya. Lalu membuang nomor ponselku. Setidaknya kini, pesan itu telah diterima oleh pemiliknya.

Selasa, 10 April 2018

Short Trip: Semarang

Posted by nofi.hidayanti at April 10, 2018 0 comments
Hai! Long time no see its been a long day gak nulis post apapun di sini. Untuk kali ini mau ngepost yang agak beda dikit, biar isinya gak cuma sajak atau tentang dia mulu hehehe (tetep sih selalu dia). Kali ini aku akan ngepost tentang rutin trip aku selama setahun. Ada dua kota yang selalu disempetin dikunjungi, meskipun lagi sibuk, cuma berkunjung sehari dua hari, pasti aku selalu kesitu. Yang pertama kota Purwokerto dan yang kedua itu adalah Semarang. Masing-masing kota ini udah seperti rumah kedua bagiku. Purwokerto, which is adalah kota tempat ku menimba ilmu selama jadi mahasiwa. Dan Semarang adalah kota tempat menimba ilmu untuk adikku. And alasan lain yang terpenting karena di kedua kota ini, gak perlu mikirin tempat nginep dimana hehehe
Tapi untuk post sekarang, aku bakal bahas tempat-tempat yang pernah aku kunjungi selama di Semarang dengan low price, cocok untuk yang muda-muda kalau mau backpacker-an dan liburan murah hehe Siapa tau bisa jadi referensi ya

Akomodasi

Aku sering banget naik kereta malem. Biasanya hari Jumat, pulang ngantor. Bisa tidur di kereta, tau-tau pagi udah sampe Semarang. Itu adalah best time banget sih karena gak buang-buang waktu dan besoknya bisa langsung pilih mau jalan kemana. Sedangkan untuk kereta pulangnya suka berangkat yang siang. Sampe Jakarta sekitar jam 8an, gak terlalu malem, dan kita masih bisa istirahat yang cukup biar besok paginya bisa beraktivitas kembali.
Kereta Tawang Jaya
St.Pasar Senen Jakarta - St.Poncol Semarang
jam 23:00 sampai jam 06:15
Rp120.000
Kereta Tawang Jaya 
St.Poncol Semarang - St.Pasar Senen Jakarta
jam 13:15 sampe jam 20:10
Rp120.000
sampe stasiun pagi banget. bare face mode on
Baru banget sampe stasiun pagi. Bare face.

tapi kalau kalian mau coba naik kereta dari jam dan stasiun yang berbeda, bisa banget kok! Ada cukup banyak jadwal ke Semarang dari stasiun Senen sampai stasiun Gambir. Kalian cukup cocokin dengan waktu dan dompet kita hehe untuk info bisa liat di link tiket kereta api ini.

Ngopi-ngopi cantik

"Pondok Kopi Umbul Sidomukti Ungaran"
Semarang emang terkenal panas luar biasa sih. Tapi kalau kita mau nyoba suasana yang beda dari Semarang kota, boleh lah naik dikit ke arah Jogja. Di daerah UNGARAN, banyak banget tempat ngopi yang asik. Udara di daerah Ungaran ini asli sejuk banget. Puncak kedua gitu hehe naik motor atau mobil tinggal lurus aja naik, lewatin patung kuda kampus Undip, arah ke Jogja. Bantu liat di Maps atau Waze ya untuk arahnya. Perjalanan sekitar 30-45 menit kalau naik motor. Kalau santai bisa sejam. Salah satu favoritku, yang wajib banget didatengin itu "Pondok Kopi Umbul Sidomukti".

 Asli ya view nya badai banget. Minum kopi item di sini jadi berasa nikmat banget. Cuma track ke sini menurutku agak ekstrem sih ya. Apalagi kalau naik motor. Aku naik motor matic dan itu harus ngegas sampai pol dan terpaksa adekku harus turun karena gak kuat. Pas turun pun harus hati-hati banget. Jadi pastiin motor kalian kondisi aman ya. Naik mobil pun harus bawa orang yang udah selow.
Ada 2 loket untuk ticketing ya. Ini kisaran harganya, aku lupa karena gak terlalu merhatiin nominal. Yang terpenting murah banget hihi
padahal gak suka ngopi panas. tapi pas di sini rasanya asik banget ngopi
Tiket masuk pertama
Weekday mobil Rp.5.000,- Sepeda Motor Rp2000
Weekend mobil Rp.8.000,- Sepeda Motor Rp5000
Setelah lewat loket yang pertama, kita bisa milih mau lanjut ke Pondok Kopi (which is kita harus naik lagi lanjut kira-kira 15 menit dengan track lebih dasyat. Atau mau stay di situ aja. Ada kawasan Panorama Sidomukti yang juga gak kalau asiknya. Disitu tersedia penginapan, dan aktivitas alam kaya Kolam Renang dengan background gunung, main sama burung merpati, camping, outbond, paralayang, flying fox, naik kuda, main ATV, naik sepeda, dan masih banyak lagi. Masuk kesini lagi bayar Rp13.000/orang.
Tiket masuk kedua: kayanya sekitar Rp2000 atau Rp5000/orang
Harga makanan/minuman: Rp10.000-50.000

"Warung Kopi Daerah Kampus Undip"
Di daerah kampus dan hunian kosan mahasiswa UNDIP ada banyak banget warung kopi untuk sekedar nongkrong dan ngobrol sama temen kamu. Kebanyakan dari warung kopi ini bakal buka sampe malem dan tetep rame sama mahasiswa di sana. Harga lumayan ekonomis. Sekitar 20ribuan aja.
Atau kalau mau coba sensasi jadi anak kosan, bisa mampir ke warung bubur kacang ijo (BURJO) yang gak kalah ekonomis hehe cuma pake duit 10ribu kamu udah kenyang!!
Ngopi di JENDELA Coffee Brewers & Kitchen, Tembalang

History Place

Sebagai generasi muda jangan pernah ngelupain sejarah bangsa juga yaaa... di Semarang juga ada beberapa tempat wisata yang ikonik banget dan harus kita kunjungi. Seperti Lawang Sewu, Klenteng Sam Poo Kong, Kota Lama Semarang, Komplek Pecinan Semarang,

"Lawang Sewu"
At least, sekali aja, kalian pasti pernah denger Lawang Sewu. Di tempat bersejarah ini kita bisa mampir dan lihat-lihat di sini. Lokasinya di Komplek Tugu Muda, dulunya itu adalah kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Jadi gaya bangunannya rada Belanda gitu. Ikonik banget karena punya banyak banget pintu, makanya disebut Lawang Sewu=seribu pintu. Wajib banget sih, foto di sini.
Tiket masuk: Rp10.000 untuk dewasa
Kaca Patri di Lawang Sewu

"Kota Lama Semarang"
Di kota lama Semarang ada beberapa spot asik buat sekedar nongkrong-nongkrong sore nunggu malem datang. Desain bangunan-bangunan lama yang cantik banget buat jadi background foto kita. Little Netherland banget! Lokasinya deket stasiun Tawang. Di wilayah ini ada beberapa tempat yang udah familiar banget sama wisatawan, seperti Gereja Blenduk, Taman Srigunting, 3D Trick Art Museum (htm : Rp40.000), Kafe Spiegel, Semarang Contemporary Art Gallery (htm : Rp10.000), Gedung Marba, dan masih banyak tempat lainnya!

Semarang Contemporary Art Gallery

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Tempat "Selfie" Favorit di Kota Lama Semarang", https://travel.kompas.com/read/2016/07/04/110700927/5.Tempat.Selfie.Favorit.di.Kota.Lama.Semarang.
Penulis : Muhammad Irzal Adikurnia
Semarang Contemporary Art Gallery

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Tempat "Selfie" Favorit di Kota Lama Semarang", https://travel.kompas.com/read/2016/07/04/110700927/5.Tempat.Selfie.Favorit.di.Kota.Lama.Semarang.
Penulis : Muhammad Irzal Adikurnia
3D Trick Art Museum,

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Tempat "Selfie" Favorit di Kota Lama Semarang", https://travel.kompas.com/read/2016/07/04/110700927/5.Tempat.Selfie.Favorit.di.Kota.Lama.Semarang.
Penulis : Muhammad Irzal Adikurnia
3D Trick Art Museum,

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Tempat "Selfie" Favorit di Kota Lama Semarang", https://travel.kompas.com/read/2016/07/04/110700927/5.Tempat.Selfie.Favorit.di.Kota.Lama.Semarang.
Penulis : Muhammad Irzal Adikurnia

"Klenteng Sam Poo Kong"
Setelah googling-googling, Sam Poo Kong merupakan tempat bersejarah untuk mengenang Laksamana Cheng Ho yang berlabuh di utara Jawa. Enaknya kesini pas sore-sore, karena tempatnya lumayan terbuka jadi adem kena angin sore. Dominasi warna merah bakal bikin foto kita kece banget. Selain itu kalian bisa coba pake baju khas Cina gitu, terus foto dengan latar belakang klenteng. Dijamin keren banget! Harga untuk sewa baju sekitar Rp100.000. Sedangkan tiket masuknya Rp5000 untuk weekdays, Rp8000 untuk weekends.

Another Iconic Place

"Kampung Pelangi"
Ini sebenarnya perumahan warga yang lokasinya emang agak nanjak gitu. Setiap perumahan di cat berwarna-warni yang bikin komplek perumahan ini jadi cantik banget. Ada yang bilang ini program untuk memajukan desa. Waktu itu aku dateng siang hari, dimana Semarang lagi panas-panasnya. Tapi gak nyesel sih main kesini. Kita tinggal masuk aja dari jalan yang ada di samping-samping toko kembang. Parkir di belakang lokasi toko kembang dan tinggal jalan kaki aja masuk ke perumahannya. Di sana beberapa warga juga jualan makanan dan cemilan buat kita. Dan asli warganya ramah banget. Kita jadi nyaman jalan keliling liat tempat ini. Cantikkkkkk bangetttt!!!

Sam Poo Kong merupakan sebuah tempat bersejarah untuk mengenang Laksamana Cheng Ho yang sempat berlabuh di Utara Jawa.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "3 Hal yang Wajib Dilakukan Bila Berkunjung ke Sam Poo Kong Semarang", https://travel.kompas.com/read/2017/05/06/091700727/3.hal.yang.wajib.dilakukan.bila.berkunjung.ke.sam.poo.kong.semarang.
Penulis : Alek Kurniawan

Segitu dulu yaa bagi-bagi informasinya hehe post berikutnya aku bakal ngeshare wisata kuliner di Semarang dan tempat wisata lainnya. Stay tuned!

















Kamis, 07 September 2017

Senyum Teduh

Posted by nofi.hidayanti at September 07, 2017 0 comments
Teruntuk, pemilik senyum terteduh di sana.
Bagaimana harimu? Bagaimana pagi dinginmu? Bagaimana malam panjangmu? Apakah cukup bahagia dirimu? Apakah cukup kenyang sarapanmu hari ini? Adakah kopi yang tersisa di cangkir-cangkir bekasmu? Adakah yang membuatmu kesal dan sedih? Hari ini aku berjalan di rindu yang sama. Masih berlanjut, entah dimana ujung jalan ini. Semakin merindukanmu, karena tak lagi kudapat senyum terteduh itu di barisan chat milikku. Semakin merindukanmu, karena tak bisa lagi kudengar tawa darimu. Semakin merindukanmu, meski ribuan kali aku katakan semua baik-baik saja. Semakin merindukanmu, meski sejuta kali aku katakan telah melepasmu.
Hai, pemilik senyum terteduh di sana.

Kurasa

Posted by nofi.hidayanti at September 07, 2017 0 comments
Kurasa, bila kita telah memutuskan untuk menyukai seseorang, kita juga harus belajar untuk melepaskannya. Kelak. Entah kapan. Seminggu sesudah menyukainya. Atau sehari sebelumnya. Seperti hujan. Menyukainya seperti hujan di sore hari. Kadang terasa begitu meneduhkan. Kadang terasa begitu menyesakkan. Aku tahu tak bisa lama-lama larut dalam dinginnya. Aku tahu, entah kapan, seminggu setelahnya, atau setahun sesudahnya, aku harus pergi darinya. Karena akhirnya kamu tahu, bukan kamu yang menjadi rumah tempat kembali untuknya. Tidak lagi. Jadi kuputuskan untuk segera melepaskannya.

Kamis, 06 Oktober 2016

Ini Tentangku.

Posted by nofi.hidayanti at Oktober 06, 2016 0 comments
Selepas semua yang terjadi, kuharap sementara tak lagi bertemu denganmu.
Bukannya aku membencimu, atau berhasil meninggalkanmu.
Aku tak ingin kau tahu, masih sama rasaku padamu.
Ini bukan tentangmu.
Bukan pula salahmu.

Minggu, 25 September 2016

Sesakit Inikah?

Posted by nofi.hidayanti at September 25, 2016 0 comments
Blog, bolehkah sebentar saja aku menulis? Mencurahkan perasaan yang sudah sesak di ujung detak jantung ini. Mencurahkan perasaan yang tak sanggup lagi kusimpan seorang diri. Hanya dengamu, maka dengarkan saja kumohon. Karena dimana lagi aku bisa menulis panjang lebar tanpa peduli apa kata orang lain?
Blog, sesakit inikah rasanya patah hati? Bagai semua luka yang pernah ada kembali mengingatkan sakitku. Mereka saling dorong mendorong menusuk satu-satunya harapan yang aku miliki. Harapan mencinta lalu dibalas mencinta. Harapan merindu juga dibalas dengan rindu. Harapan yang kini entah kemana lagi larinya. Hingga tak ada lagi selembar pun yang tersisa. Sesakit inikah rasanya patah hati? Entah aku yang bodoh, atau aku yang angkuh. Atau setengah bodoh, lalu setengah angkuh. Terus saja aku bertahan menyukainya dan menutup mata akan luka yang bisa saja hadir. Percaya bahwa bersabar mungkin adalah kunci untuk membuka hatinya. Terus bertahan menyayanginya dan menutup mata bahwa ternyata bukan aku isi doanya. Percaya bahwa rasa tulusku mungkin suatu saat dilirik olehnya. Tersenyum untuknya, meski ribuan pertanyaan terus menghantuiku.

Sabtu, 24 September 2016

Tetaplah Di Situ

Posted by nofi.hidayanti at September 24, 2016 0 comments
Tunggu sebentar, diam di situ. Aku sedang menulis kalimat pertama yang harus kusampaikan. Haruskah tentang kisah betapa ku menyukaimu? Atau tentang sulitnya berpisah? Tunggu sebentar, diam di situ. Aku akan menulis kalimat pertama, yang tak bisa kulakukan.....
Cukupkan tentang kamu. 
Itu kata-kata yang selalu otakku teriakkan kepada hatiku. Karena nyatanya kita tidak pernah lebih dari teman. Tapi mengapa rasanya berat sekali baginya? Untuk sekedar mendengar nasehat otak. Untuk sekedar meredakan kecemasannya. Untuk sekedar melupakan sedikit ketakutannya.
Cukupkan tentang kamu. Sederhana, tapi mengapa rasanya tak bisa kulakukan? Sulit ku berhenti. Sulit ku membenci. Sulit ku melupakan.

Jumat, 23 September 2016

Lensa Kotak (Konsep)

Posted by nofi.hidayanti at September 23, 2016 0 comments
Lensa Kontak

Apakah kenyamanan perlu dilihat? Tak bisakah kita merasakannya dengan hati saja; jangan biarkan ada tatapan tajam di antara kita. Jangan pernah biarkan. Cukupkan saja dengan hati. Jangan biarkan matamu yang berbicara.

Saya hampir meloncat ketika alarm mengelus telingaku kasar. Kapan ia akan berhenti melakukan hal itu? Saya muak mendengarnya celoteh tentang sudah jam berapa ini, sampai kapan saya akan bermimpi dan menelenjangi guling kumel di kasur ini? Dan saya sumpel mulutnya lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Cermin besar yang kokoh di tembok itu seakan meledek si mata sayu. Ia berkata lantang, pria kaya mana yang mau menatap mata sayu seperti itu? Lalu mata itu membalas, "kau tunggu saja, cermin sejelek dirimu akan kuganti dengan cermin bertatahkan emas hasil jerih payah malam ini". Saya biarkan air dingin itu membasahi seluruh wajah, lalu berlanjut hingga seluruh tubuh. Tak bisa saya buang waktu lebih banyak. Itu adalah sisa-sisa harta yang saya miliki. Semenit kemudian saya bergegas berpakaian. Duduk, menyapa kotak makeup besar berwarna merah maroon itu. Saya siapkan sepasang lensa kontak berwarna cokelat tua itu. Yang semakin cokelat di tengahnya. Yang semakin tua dipinggirnya. Yang semakin perih, perih, dan perih ketika saya gunakan. Oh Tuhan, tak bisakah kau berikan saja saya mata normal? Muak aku dengan sepasang alat penyiksa ini. Atau... Oh Tuhan, tak bisakah kau berikan saja saya segepok uang? Biar saya suntik kedua mata minus ini. Saya mencoba menahan nafas dalam hingga hilang semua pedih itu. Lalu bergegas pergi.
Malam ini, saya harus tahan nafas lebih dalam. Asap rokok juga dinginnya hembusan pendingin ruangan, secara bersamaan telah menjadi racun bagi kedua mata saya. Seperti tak ada gunanya lagi sepasang kontak lensa ini. Tak ada yang bisa saya lihat. Tak ada yang bisa saya saksikan. Hanya asap yang semakin membuat ruangan itu sesak. Ah, benar-benar tak ada gunanya lagi sepasang kontak lensa ini.

Rabu, 07 September 2016

Jatuh Sejatuh Jatuhnya

Posted by nofi.hidayanti at September 07, 2016 0 comments
Kita semua pernah dibuat jatuh karena cinta, mencinta, dan dicinta oleh seseorang yang tak pernah diduga. Rasanya bagai jutaan doa dijawab Tuhan dalam satu kata. Cinta. Kita semua pernah dibuat jatuh sejatuhnya dan rela semakin jauh jatuh karenanya. Hingga tak lagi kau lihat luka. Bagimu hanya ada dia. Kita semua pernah dibuat lepas tertawa dan tersenyum bahagia, tak memandang lagi derita. Bagimu benar-benar hanya ada dia.
Jatuh karena cintanya, adalah jatuh sejatuhnya yang tak melukaiku. Karena tak lagi kutemukan dimana kesedihan di musim lalu. Karena tak ingin lagi kubuka kisah yang telah melaluiku. Jatuh karena mencintainya, adalah jatuh sejatuhnya yang ingin terus kualami. Karena tak mampu aku menahan ribuan kupu-kupu memenuhi dada ini. Sesak karena mereka terus menahanku untuk tidak pergi.

Sabtu, 03 September 2016

Secangkir Kopi

Posted by nofi.hidayanti at September 03, 2016 0 comments
"Baiklah, secangkir saja. Kopi tanpa gula. Biar kurasakan sepahit apa rasanya. Biar tak mampu lagi kurasakan luka."
Kataku pada pelayan laki-laki yang terus berdiri di sampingku.
Ia hampir limabelas menit di sana, hanya memandangku melihat buku menu. Yang terus kubolak balik. Lihat buku menu sebentar, memandangnya terkadang. Tapi ia tetap tak bersuara. Hanya pandangan kosong berharap aku segera memesan sesuatu.
Kumohon katakanlah sesuatu. Ku lemparkan senyum sembari memandangnya.
"Bukankah hidup memang sepahit kopi?". Dia tak juga bersuara. Tak menjawab. Hanya tersenyum, lalu permisi dan berlalu ke dalam bar nya.
Sepuluh menit aku menunggunya kembali. Tapi serasa satu musim telah melaluiku. Aku melihat kesekitar. Mencari sesuatu. Nanar. Atau berusaha menemukan sesuatu? Kesempatan kedua misalnya?
Pelayan pria itu kembali lagi padaku. Serasa satu musim telah menghampiriku.
"Hidup memang pahit. Tapi ada banyak yang mampu membuatnya lebih manis. Seperti kopi, kau tambahkan gula bila kau suka. Kau berikan susu bila kau mau. Sekotak es batu pula bila kau ingin. Jadi saya setuju hidup seperti kopi."
"Begitu kah?"
"Ya."
"Jadi menurutmu, hidupku adalah kopi yang seperti apa?"
"Kopi yang terlalu manis hingga menjadi pahit. Kau harus tahu kapan harus mengurangi kadar manismu. Atau berhenti menambahkan bubuk kopiku."
Aku hanya tersenyum sambil memalihkan pandanganku ke secangkir kopi di mejaku.
Hitam. Kuseruput pelan-pelan. Dia dengan cepat berjalan ke arah meja bartender di belakangku. Memandangku. Sedikit tersenyum. Atau sinis melihatku? Lalu berlalu, serasa satu musim telah meninggalkanku.
Hampir setiap sore aku berkunjung ke bar ini. Di jam dan detik yang sama. Satu tempat kosong selalu ia siapkan untukku. Atau mungkin itu hanya kata egoku saja. Dan pria tinggi bertubuh putih sedingin pualam itu, adalah orang yang sama yang selalu memberikan kopi kepadaku. Rasanya tak pernah berubah. Masih hitam. Pahit. Kelam. Aku masih menantikan kopinya berubah manis. Aku masih menantikannya, serasa satu musim yang aku harapkan.
Kuseruput kembali kopi buatannya. Yang semakin kelam setiap seruputannya. Antara aku dan si pembuat kopi; Tak perlu banyak bicara. Kata seperti tak mampu lagi mewakili rasaku padanya. Dan kata seperti tak mampu lagi mewakili dingin dan kelam dendamnya padaku. Keseruput kembali kopi buatannya, hingga tak ada lagi yang tersisa. Kubangkit dari tempatku lalu berjalan ke arah bartender. Secarik kertas kuberikan padanya.
"Ini pesanku yang terakhir untuknya, kumohon, kali ini saja biarkan dia membacanya". 
Kubangkit dari tempat bartender lalu berjalan ke arah pintu.  Dalam setiap langkahku ke luar dari bar itu, kulantunkan doa untuk kesempatan kedua. Setidaknya memperbaiki kesalahan yang terlanjur kebuat padanya. Tiap rintihan doaku itu akhirnya yang mengantarkanku ke depan bar. Lalu, Aku masih menantikan kopinya berubah manis. Aku masih menantikannya jatuh mencintaku untuk yang kedua kalinya, serasa satu musim yang aku harapkan.
"Untuk pembuat kopi setiaku.
Sudah satu musim aku menyeruput kopimu. Yang semakin kelam setiap kali aku seruput. Hitam. Penuh luka juga amarah. Aku jadi bertanya-tanya, lalu berfikir. Apakah bubuk kopi yang kupesan terlalu banyak? Tak bisakah gula menghilangkan pahitnya? Tak bisakah sekotak esbatu mencairkan lukanya?
Sudah banyak musim kita lalui sebelumnya. Kadang secangkir kopi pahit yang semakin hitam. Kadang secangkir susu yang semakin manis ujungnya. Lalu, tak bisakah aku pesan secangkir kopi manis kali ini? Untuk mengobati luka juga amarahmu pada gagalnya cinta kita. Maafkan aku untuk bubuk kopi yang terlalu banyak kupesan di kehidupan sebelumnya.
Untuk pembuat kopi setiaku, aku merindukanmu, aku masih mencintaimu. Aku akan tetap di sini, menantikan secangkir kopimu. Penuh dengan gula, penuh dengan sekotak esbatu. Jangan biarkan ada hitam. Jangan biarkan ada kelam."

Senin, 22 Agustus 2016

Bae

Posted by nofi.hidayanti at Agustus 22, 2016 0 comments
Sebab, ada perasaan yang tak bisa kusampaikan lewat lisan, kuingin sampaikan lewat sedikit tulisan ini. Jangan disanggah dulu, cukup baca dan simpan saja. Lalu terserah padamu, mau diingat dalam memori atau anggap ini tak pernah terjadi.
Kutegaskan. Ini bukan tentang aku, pun kamu. Ini tentang jalan yang sudah Tuhan tuliskan untuk umatnya. Tentang bagaimana rasanya jatuh dan mencinta. Tentang belajar keikhlasan terluka dan bahagia.

Tuhan pasti sudah memikirkan nasib kita untuk bertemu. Dia tahu kamu akan mengajarkanku banyak hal tentang dunia. Salah satu dari jutaan insan yang tak kusadari hadirnya. Lalu berubah berarti dalam beberapa bulan ini. Bahkan dengan memikirkanmu saja rasanya jantung ini jadi semakin cepat berdegup. Kamu manusia atau wahana adrenalin di tengah ibukota? Jangan khawatir, aku tak akan mati karena serangan jantung memikirkanmu. Sepertinya bukan dengan cara manis seperti itu Tuhan ingin memanggilku.
Kusimpulkan, kehadiranmu banyak mengajarkanku. Aku jadi tahu bagaimana rasanya merindu kala rindu itu saja takut menyapamu. Aku jadi mahir mengubah rindu jadi alasan untuk menutupi luka dan tangisku. Dan rindu itu semakin hari semakin membuatku merindukamu. Salahkah rindu ini? Atau, salahkah aku ini?
Kutebak, kamu pernah menyimpan rasa itu. Merindu. Entah pada rinduku, atau pada diriku. Kutebak, kamu pernah memikirkannya juga. Entah memikirkan rinduku, atau memikirkan diriku. Kutebak kamu pun menyimpan rindu yang sama pada diriku? Bolehkah aku berharap begitu?
Perempuan memang dimana-mana sama, ya. Pun dengan diriku. Rela dimabukkan oleh rasa rindu yang bisa saja semu. Lalu menunggu. Berharap dewa cinta menghampiri yang dirindukan olehnya, dan datang membisikkan bahwa lelaki itu juga rindu padaku. Berharap setidaknya Tuhan mengalbukan harapannya kali ini, dan menjaga hati lelaki itu untukku saja. Aku naif atau terlalu naif? 
Lalu aku jadi rajin bicara pada Tuhanku. Yang semakin rajin setiap waktunya. Tentang bagaimana rasanya merindu itu. Memohon padanya, berikan saja aku satu kesempatan baru. Memulai semua dari titik yang lelaki itu mau. 
Hey, aku hampir malas menggantungkan harapan pada ketidakmungkinan yang ada. Yang datang selalu pergi. Yang merindu selalu jadi kelabu. Yang dipelukkan selalu hilang dalam hitungan. Tapi, bolehkah kali ini aku sedikit berharap? Menggantungkan doa pada ketidakmungkinan bernama kamu? Adakah sedikit saja kesempatan bagiku? Memulai semua dari awal, berjuang lagi, belajar lagi, terluka lalu bangun, bangun lalu terluka, merindu dirindukan, menangis lalu ditangisi, melihatmu jatuh, melihatmu bangkit, melihatmu berlari, melihatmu sakit, jatuh cinta, jatuh karena cinta, jatuh cinta lagi, jatuh karena cinta lagi? Aku siap memulainya, aku siap duduk di sampingmu. Menjadi apapun yang kamu mau. Sampai bulan bintang muak pada kita berdua. Sampai Tuhan tertawa melihat kita bersama. Sampai matahari enggan datang karena yang ia lihat hanya kita berdua.
Lalu, kutegaskan lagi. Ini bukan tentang aku. Pun kamu. Berhenti mempertanyakan kenapa aku tetap ada di belakangmu. Karena aku tak akan lagi lari. Cukupkan membohongi diri sendiri. Malam saja lelah melihatku berusaha melupakanmu. Maka jangan paksa aku. Biar sesal kutanggung seorang diri. Jangan tanyakan lagi apa yang akan menghadang di depan. Karena Tuhan ada menuntunmu. Dia siap membentak semua ragu kalau perlu. Bila luka yang kamu lihat, tak perlu cemas. Luka telah menjadi kawanku bahkan sebelum bintang sadar aku selalu merindu padamu. Luka akan tetap menjadi luka, tanpa kamu. Lalu, bila memang tak ada ruang yang tersisa disana, ajarkan aku bagaimana cara melupakan yang tak mudah dilupakan. Ajarkan aku bagaimana cara membuang rindu yang menumpuk di ladang bernama hatiku? Ajarkan aku bagaimana cara ikhlas melepas yang hampir digenggam?
Lalu....begini saja. Terima kasih. Terima kasih pernah hadir. Terima kasih pernah datang lalu memutuskan untuk pergi. Kuharap kamu kembali hadir. Mengunjungi rindu yang tak tahu kemana Tuan nya pergi. Aku akan memulai permainan ini, berpura-pura tak takut apa yang akan terjadi ke depannya. Berpura-pura tak takut kehilangan segalanya.
Lalu...Jangan tanyakan apa aku sanggup ungkapkan semua secara langsung. Sebab, ada perasaan yang tak bisa kusampaikan lewat lisan, kuingin sampaikan saja lewat tulisan ini. Sekali lagi. Jangan disanggah dulu, cukup baca dan simpan saja. Lalu terserah padamu, mau diingat dalam memori atau anggap ini tak pernah terjadi.

Jumat, 22 Juli 2016

Stiletto Tinggi

Posted by nofi.hidayanti at Juli 22, 2016 0 comments
Bulan belum juga puas menunjukkan pesonanya. Sinar, juga cantiknya dalam gelap. Tapi matahari telah sombong menggantikan sosoknya. Dia tersenyum ketika melihat gadis-gadis kecil itu dengan matanya yang masih mengantuk, harus berlomba mendapatnya kursinya. Ada yang sedikit berlari masuk ke peron-peron stasiun kota dengan kaki yang terasa begitu berat. Telapak mereka memerah, merekah, kemudia membiru dan membengkak. Bekas-bekas stiletto berhak 7 senti, mungkin 12 senti, tertinggal dalam di telapak mereka. Yang semakin dalam setiap kali kaki mereka bergerak. Yang semakin dalam setiap kali kaki mereka menahan tubuhnya. Yang semakin dalam dan dalam dan dalam setiap detiknya.

Teng!!! Jam dinding sebesar rembulan itu menujukkan pukul 7. Terlalu pagi untuk gadis pemuja malam  ini bergegas bangun. Mandi, mandi, ritual bersetubuh dengan air yang rasa dinginnya menusuk sampe dia ingin tidur lagi saja. Solek, bersolek, mengambil peran sebagai perempuan manis dan menawan untuk menyenangkan hati bos besar. Semprot parfumnya di sana, di sini, tutupi semua bau busuk sisa-sisa minum semalam. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Dia sedikit berlari masuk ke peron-peron stasiun kota dengan kaki, dan tubuh, yang terasa begitu berat. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Telapak kakinya memerah, merekah, kemudian membiru dan membengkak. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Bekas-bekas stiletto berhak 7 centi, mungkin 12 senti, tertinggal dalam di telapaknya. Yang semakin dalam setiap kali kakinya bergerak. Yang semakin dalam setiap kali kakinya menahan tubuhnya. Yang semakin dalam dan dalam dan dalam setiap detiknya.

Gadis pemuja malam itu akhirnya menang dalam pertempuran. Ia duduk lesu diantara pemenang lainnya sambil memejamkan matanya lelap. Semakin lelap hingga ia terbawa dalam mimpinya. Ia sedang berdiri tegap di depan sebuah meja besar. Berbentuk setengah lingkaran, yang mampu menutup setengah tubuhnya. Kakinya sudah kepalang gemetar menahan setiap piluh yang ingin teriak kalau mereka bisa. Garis biru dikedua telapak kakinya seakan berkata, "Bebaskan aku dari sini". Stiletto 12 senti berwarna merah mawar itu seakan bergigi runcing dan siap menelan sesenti dua senti garis biru dikedua telapak kakinya. Lalu gadis pemuja malam itu hanya bisa memasang senyum pada satu, dua, tiga, empat, mungkin sepuluh bos yang duduk dengan santai di hadapannya. Sepatu mereka datar. Tidak beruncing. Tidak 12 centi. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kaki sepuluh bos. Sedetik kemudian, ketika para bos keluar dari ruangan itu, atau lebih seperti neraka baginya, ia bisa bernafas panjang. Dilepaskannya stiletto 12 senti itu, berharap ia bisa bebas dan menjauh selamanya dari pembunuh garis kakinya. Lalu melompat bebas, bebas karena kaki-kakinya bisa kembali menyentuh bumi.
Ia kembali dibawa kepada mimpi buruk lainnya. Sekarang ia ada di sebuah ujung tangga. Di tangannya ada satu tumbuk file yang harus di tanda tangani satu, dua, tiga, mungkin sepuluh bos. Lift kantornya mati di saat yang tepat. Ia kembali menarik nafas panjang dan memulai mengangkat kakinya. Stiletto 7 senti berwarna maroon sudah menampakkan gigi runcingnya lalu tertawa kencang sambil menatapnya. Ia teriak dan dibangunkan di mimpi lainnya. Kini ia sedang berdansa dengan seorang teman lelaki yang ia kenal lewat pesta. Stiletto 7 senti berwarna merah muda sudah berada di kedua kakinya. Ini adalah pesta pernikahan teman baiknya, atau harus ia anggap seperti itu. Ia mengenakan gaun berwarna senada dengan pilihan tampilan wajah super hits khas perempuan kota. Disebarkannya senyum itu, sambil menahan pegal di kakinya. Ia harus tampil sempurna, semua melihatnya. Ia berdansa, semakin dalam hingga lupa kakinya tak lagi mengingat bumi. Kakinya telah lupa, pada siapa ia harus bersama. Lalu yang ia ingat kemudian, tubuhnya sudah di bumi. Stiletto itu tidak menelan kakinya, tapi melempar kakinya keluar hingga jauh darinya.
"Teng!!!" ia terbangun dari perjalanan mimpi panjangnya. Tapi itu seperti kenyataa buruk yang ingin ia buang jauh-jauh. Sepatu flat rata sudah manis di kakinya. Ia tidak beruncing. Tidak 12 senti. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kakinya. Sepatu flat itu tersenyum lalu menemani langkahnya keluar dari gerbong kereta. Stiletto yang telah melempar kakinya keluar hingga jauh darinya, terjauh, terpuruk, telah ia lupakan semenjak ia terbangun dari mimpinya. Ah, itu bukan sekedar mimpi. Itu benar-benar kenyataan buruk yang ingin ia buang jauh-jauh.

Selasa, 24 Februari 2015

Yudisium

Posted by nofi.hidayanti at Februari 24, 2015 0 comments
Oh, Tuhan. Sejuta terima kasih tak akan henti saya serukan untuk keagungan kuasamu. Saya benar-benar bahagia saat ini Tuhan. Saya bahagia atas setiap detik yang saya rasakan saat ini. Saya telah resmi dinyatakan menjadi seorang Sarjana Sastra. Oh, Tuhan.. Saya benar-benar bahagia. Saya bahagia sampai ingin mati rasanya. Sungguh Maha Romantisnya diriMu memberikan sejuta nikmat kebahagiaan ini. Tak ada lagi yang perlu aku dustakan. Momen ini benar-benar membuat saya ingin mencurahkan semua tangis bahagia. Saya berhasi; lulus dari tahapan kehidupan ini, bersama keempat sahabat saya yang lainnya. Oh, Tuhan. Saya benar-benar bahagia. NikmatMu benar-benar membuatku bahagia.
Oh, Tuhan, betapa inginnya saya menangis terharus dipelukMu ketika kaki saya perlahan bergerak maju ke arah Pak Dekan itu. Ia tersenyum, tanda kemenangan. Saya tak kalah tersenyum. Senyum saya berdiri antara senyum bahagia dan haru. Saya raih tangannya lalu mencium pundak tangan itu. Surat Keterangan Lulus dan Piagam Cumlaude itu sudah berada di tangan saya. Diucapkannya selamat kepada saya. Oh, Tuhan, saya benar-benar bahagia. Saya tak kalah terharu ketika Pak Dekan itu berpidato. Mungkinkah ini pidato terakhir darinya yang akan saya dengar? Akankah saya merindukan tawa renyah dan menggoda darinya itu? Juga setiap lelucon nyeleneh darinya? Oh, Tuhan, saya ingin menangis. Dia dengan bangga bercerita tentang mahasiswanya yang berhasil lulus tiga setengah tahun. Diantara mahasiswanya ada sekelompok mahasiswa yang sering ia panggil "The Bacin". Sekelompok mahasiswa gokil yang jadi mahasiswa bimbingannya. Ah, saya benar-benar ingin menangis saat itu. Inikah pertanda saya akan lekas pergi?
Oh, Tuhan, saya merasa benar terharu dengan semua nikmat bahagiaMu. Saya semakin terharu ketika menyadari, betapa dekat dan akrabnya kami dengan para dosen. Mereka sudah tidak asing lagi dengan nama genk kami "The Bacin". Mungkin yang lain akan tertawa mendengarnya. Tapi, saya justru merasa terharu, Tuhan. Akankah saya merindukan sapaan dari mereka dengan menggunakan nama itu? Adakah pertemuan selanjutnya untuk kami dengan mereka? Oh, Tuhan, saya merasa benar-benar bahagia saat ini.

Senin, 01 Desember 2014

Kisah Klasik Perempuan

Posted by nofi.hidayanti at Desember 01, 2014 0 comments
Saya baru saja meletakkan tas gendong penuh milik saya ke dipan ketika Ibu masuk terburu-buru. Ia sedikit berteriak ketika menyebut nama saya. Saya menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengiyakan semua celotehannya.
“Kenapa kamu suka sekali pulang terlambat? Cepat ganti bajumu. Makan habis sisa makanan di meja makan, lalu pergi cuci semua piring kotor. Ibu sudah tua, tak sanggup lagi mengurus rumah ini seorang diri. Satu bakul pakaian sudah ibu cuci. Tugasmu melanjutkan menjemurnya di halaman belakang”.
“Baik, bu.”
Tak lama kemudian, kakak tertua saya, Mas Andi, datang dengan pakaian lusuhnya. Wajahnya tampak ceria. Saya menduga-duga, dia baru saja bermain bola sepak di lapangan yang tak jauh dari sekolah. Apalagi seragam kotor karena tanah.
“Andi...Andi...Ayo lekas makan. Setelah ini bantu Bapak di ladang.”
“Baik bu.” Wajahnya terlalu ceria.

Sabtu, 01 November 2014

Tubuh 31 Tahun

Posted by nofi.hidayanti at November 01, 2014 0 comments
Mereka menyebut saya dengan nama Mira, kependekan dari “Mirror” katanya. Sepasang manusia yang hidup tanpa nama cinta itulah yang memberikan saya nama Mira. Kata mereka, kelak saya mencerminkan kecantikan  saya di ribuan cermin, membiarkan oranglain terpesona akan  saya. Konyol.
Mereka benar. Saya senang bercermin. Saya akan mengingat pandangan mereka yang menatap mesum ke arah saya setiap saya berjalan ke arah mereka. Mereka mungkin mengira saya masih dua puluhan. Padahal kini usia saya menginjak angka tiga puluh satu. Momok menakutkan bagi para wanita bila bertemu angka tersebut. Akankah saya tetap cantik? Bagaimana tubuh saya? Ah, manusia. Perempuan.

Jumat, 10 Oktober 2014

HIM

Posted by nofi.hidayanti at Oktober 10, 2014 0 comments
Post ini saya dedikasikan untuk seorang pria yang jauh di sana, namun selalu ada untuk saya....


Pada akhirnya, yang setia dan selalu ada di sampingmu akan mengalahkan segala hal yang datang merajuk padamu. Mungkin dia tidak sempurna. Mungkin dia tidak seperti yang kau harapkan. Ada banyak kekurangan pada dirinya, yang justru ternyata dimiliki dan disempurnakan oleh yang lainnya.
Mungkin sampai detik ini dia masih sering membuatmu kesal dan menangis sampai setengah malam. Tapi, dia tidak pernah pergi. Tidak benar-benar menyerah padamu. He keep trying. He does. And the other one, doesnt make the some thing. Belum tentu mau melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan. Belum tentu kuat berjuang untukmu.Mungkin, dia jauh lebih sempurna. Dia memenuhi hampir semua kriteriamu sebagai seorang Prince Charming yang pintar dan dewasa. Tapi, he doesnt good enough for me. Aku tidak membutuhkan pria seperti itu sebenarnya. Dia.... kuharap hanya sekedar tamu yang tidak diundang. 
Bersyukurlah karena pada akhirnya kamu mengambil keputusan yang terbaik untuk hidupmu. Karena, apa dan siapa yang kamu butuhkan hanya seseorang yang tidak akan menyerah pada kondisi seperti apapun. Seseorang yang akan terus untukmu, bersamamu. Bukanlah seseorang yang terlalu pengecut untuk sekedar jujur. Bersyukurlah, karena kamu memiliki seseorang rela membuatmu bahagia. Bersyukurlah, karena semua keputusanmu membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Karena, benar, tidak selalu yang kamu inginkan menjadi sesuatu yang kamu butuhkan. Bersyukurlah atas apa yang telah kamu miliki saat ini. And, the last, I hope he will be the last. Love you, By.
 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos