Senin, 22 Agustus 2016

Bae

Posted by nofi.hidayanti at Agustus 22, 2016 0 comments
Sebab, ada perasaan yang tak bisa kusampaikan lewat lisan, kuingin sampaikan lewat sedikit tulisan ini. Jangan disanggah dulu, cukup baca dan simpan saja. Lalu terserah padamu, mau diingat dalam memori atau anggap ini tak pernah terjadi.
Kutegaskan. Ini bukan tentang aku, pun kamu. Ini tentang jalan yang sudah Tuhan tuliskan untuk umatnya. Tentang bagaimana rasanya jatuh dan mencinta. Tentang belajar keikhlasan terluka dan bahagia.

Tuhan pasti sudah memikirkan nasib kita untuk bertemu. Dia tahu kamu akan mengajarkanku banyak hal tentang dunia. Salah satu dari jutaan insan yang tak kusadari hadirnya. Lalu berubah berarti dalam beberapa bulan ini. Bahkan dengan memikirkanmu saja rasanya jantung ini jadi semakin cepat berdegup. Kamu manusia atau wahana adrenalin di tengah ibukota? Jangan khawatir, aku tak akan mati karena serangan jantung memikirkanmu. Sepertinya bukan dengan cara manis seperti itu Tuhan ingin memanggilku.
Kusimpulkan, kehadiranmu banyak mengajarkanku. Aku jadi tahu bagaimana rasanya merindu kala rindu itu saja takut menyapamu. Aku jadi mahir mengubah rindu jadi alasan untuk menutupi luka dan tangisku. Dan rindu itu semakin hari semakin membuatku merindukamu. Salahkah rindu ini? Atau, salahkah aku ini?
Kutebak, kamu pernah menyimpan rasa itu. Merindu. Entah pada rinduku, atau pada diriku. Kutebak, kamu pernah memikirkannya juga. Entah memikirkan rinduku, atau memikirkan diriku. Kutebak kamu pun menyimpan rindu yang sama pada diriku? Bolehkah aku berharap begitu?
Perempuan memang dimana-mana sama, ya. Pun dengan diriku. Rela dimabukkan oleh rasa rindu yang bisa saja semu. Lalu menunggu. Berharap dewa cinta menghampiri yang dirindukan olehnya, dan datang membisikkan bahwa lelaki itu juga rindu padaku. Berharap setidaknya Tuhan mengalbukan harapannya kali ini, dan menjaga hati lelaki itu untukku saja. Aku naif atau terlalu naif? 
Lalu aku jadi rajin bicara pada Tuhanku. Yang semakin rajin setiap waktunya. Tentang bagaimana rasanya merindu itu. Memohon padanya, berikan saja aku satu kesempatan baru. Memulai semua dari titik yang lelaki itu mau. 
Hey, aku hampir malas menggantungkan harapan pada ketidakmungkinan yang ada. Yang datang selalu pergi. Yang merindu selalu jadi kelabu. Yang dipelukkan selalu hilang dalam hitungan. Tapi, bolehkah kali ini aku sedikit berharap? Menggantungkan doa pada ketidakmungkinan bernama kamu? Adakah sedikit saja kesempatan bagiku? Memulai semua dari awal, berjuang lagi, belajar lagi, terluka lalu bangun, bangun lalu terluka, merindu dirindukan, menangis lalu ditangisi, melihatmu jatuh, melihatmu bangkit, melihatmu berlari, melihatmu sakit, jatuh cinta, jatuh karena cinta, jatuh cinta lagi, jatuh karena cinta lagi? Aku siap memulainya, aku siap duduk di sampingmu. Menjadi apapun yang kamu mau. Sampai bulan bintang muak pada kita berdua. Sampai Tuhan tertawa melihat kita bersama. Sampai matahari enggan datang karena yang ia lihat hanya kita berdua.
Lalu, kutegaskan lagi. Ini bukan tentang aku. Pun kamu. Berhenti mempertanyakan kenapa aku tetap ada di belakangmu. Karena aku tak akan lagi lari. Cukupkan membohongi diri sendiri. Malam saja lelah melihatku berusaha melupakanmu. Maka jangan paksa aku. Biar sesal kutanggung seorang diri. Jangan tanyakan lagi apa yang akan menghadang di depan. Karena Tuhan ada menuntunmu. Dia siap membentak semua ragu kalau perlu. Bila luka yang kamu lihat, tak perlu cemas. Luka telah menjadi kawanku bahkan sebelum bintang sadar aku selalu merindu padamu. Luka akan tetap menjadi luka, tanpa kamu. Lalu, bila memang tak ada ruang yang tersisa disana, ajarkan aku bagaimana cara melupakan yang tak mudah dilupakan. Ajarkan aku bagaimana cara membuang rindu yang menumpuk di ladang bernama hatiku? Ajarkan aku bagaimana cara ikhlas melepas yang hampir digenggam?
Lalu....begini saja. Terima kasih. Terima kasih pernah hadir. Terima kasih pernah datang lalu memutuskan untuk pergi. Kuharap kamu kembali hadir. Mengunjungi rindu yang tak tahu kemana Tuan nya pergi. Aku akan memulai permainan ini, berpura-pura tak takut apa yang akan terjadi ke depannya. Berpura-pura tak takut kehilangan segalanya.
Lalu...Jangan tanyakan apa aku sanggup ungkapkan semua secara langsung. Sebab, ada perasaan yang tak bisa kusampaikan lewat lisan, kuingin sampaikan saja lewat tulisan ini. Sekali lagi. Jangan disanggah dulu, cukup baca dan simpan saja. Lalu terserah padamu, mau diingat dalam memori atau anggap ini tak pernah terjadi.

Jumat, 22 Juli 2016

Stiletto Tinggi

Posted by nofi.hidayanti at Juli 22, 2016 0 comments
Bulan belum juga puas menunjukkan pesonanya. Sinar, juga cantiknya dalam gelap. Tapi matahari telah sombong menggantikan sosoknya. Dia tersenyum ketika melihat gadis-gadis kecil itu dengan matanya yang masih mengantuk, harus berlomba mendapatnya kursinya. Ada yang sedikit berlari masuk ke peron-peron stasiun kota dengan kaki yang terasa begitu berat. Telapak mereka memerah, merekah, kemudia membiru dan membengkak. Bekas-bekas stiletto berhak 7 senti, mungkin 12 senti, tertinggal dalam di telapak mereka. Yang semakin dalam setiap kali kaki mereka bergerak. Yang semakin dalam setiap kali kaki mereka menahan tubuhnya. Yang semakin dalam dan dalam dan dalam setiap detiknya.

Teng!!! Jam dinding sebesar rembulan itu menujukkan pukul 7. Terlalu pagi untuk gadis pemuja malam  ini bergegas bangun. Mandi, mandi, ritual bersetubuh dengan air yang rasa dinginnya menusuk sampe dia ingin tidur lagi saja. Solek, bersolek, mengambil peran sebagai perempuan manis dan menawan untuk menyenangkan hati bos besar. Semprot parfumnya di sana, di sini, tutupi semua bau busuk sisa-sisa minum semalam. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Dia sedikit berlari masuk ke peron-peron stasiun kota dengan kaki, dan tubuh, yang terasa begitu berat. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Telapak kakinya memerah, merekah, kemudian membiru dan membengkak. Lalu terulang lagi, dia sudah seperti perempuan kota lainnya. Bekas-bekas stiletto berhak 7 centi, mungkin 12 senti, tertinggal dalam di telapaknya. Yang semakin dalam setiap kali kakinya bergerak. Yang semakin dalam setiap kali kakinya menahan tubuhnya. Yang semakin dalam dan dalam dan dalam setiap detiknya.

Gadis pemuja malam itu akhirnya menang dalam pertempuran. Ia duduk lesu diantara pemenang lainnya sambil memejamkan matanya lelap. Semakin lelap hingga ia terbawa dalam mimpinya. Ia sedang berdiri tegap di depan sebuah meja besar. Berbentuk setengah lingkaran, yang mampu menutup setengah tubuhnya. Kakinya sudah kepalang gemetar menahan setiap piluh yang ingin teriak kalau mereka bisa. Garis biru dikedua telapak kakinya seakan berkata, "Bebaskan aku dari sini". Stiletto 12 senti berwarna merah mawar itu seakan bergigi runcing dan siap menelan sesenti dua senti garis biru dikedua telapak kakinya. Lalu gadis pemuja malam itu hanya bisa memasang senyum pada satu, dua, tiga, empat, mungkin sepuluh bos yang duduk dengan santai di hadapannya. Sepatu mereka datar. Tidak beruncing. Tidak 12 centi. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kaki sepuluh bos. Sedetik kemudian, ketika para bos keluar dari ruangan itu, atau lebih seperti neraka baginya, ia bisa bernafas panjang. Dilepaskannya stiletto 12 senti itu, berharap ia bisa bebas dan menjauh selamanya dari pembunuh garis kakinya. Lalu melompat bebas, bebas karena kaki-kakinya bisa kembali menyentuh bumi.
Ia kembali dibawa kepada mimpi buruk lainnya. Sekarang ia ada di sebuah ujung tangga. Di tangannya ada satu tumbuk file yang harus di tanda tangani satu, dua, tiga, mungkin sepuluh bos. Lift kantornya mati di saat yang tepat. Ia kembali menarik nafas panjang dan memulai mengangkat kakinya. Stiletto 7 senti berwarna maroon sudah menampakkan gigi runcingnya lalu tertawa kencang sambil menatapnya. Ia teriak dan dibangunkan di mimpi lainnya. Kini ia sedang berdansa dengan seorang teman lelaki yang ia kenal lewat pesta. Stiletto 7 senti berwarna merah muda sudah berada di kedua kakinya. Ini adalah pesta pernikahan teman baiknya, atau harus ia anggap seperti itu. Ia mengenakan gaun berwarna senada dengan pilihan tampilan wajah super hits khas perempuan kota. Disebarkannya senyum itu, sambil menahan pegal di kakinya. Ia harus tampil sempurna, semua melihatnya. Ia berdansa, semakin dalam hingga lupa kakinya tak lagi mengingat bumi. Kakinya telah lupa, pada siapa ia harus bersama. Lalu yang ia ingat kemudian, tubuhnya sudah di bumi. Stiletto itu tidak menelan kakinya, tapi melempar kakinya keluar hingga jauh darinya.
"Teng!!!" ia terbangun dari perjalanan mimpi panjangnya. Tapi itu seperti kenyataa buruk yang ingin ia buang jauh-jauh. Sepatu flat rata sudah manis di kakinya. Ia tidak beruncing. Tidak 12 senti. Tidak bergigi. Dan tidak berencana menelan sesenti demi senti garis biru di kedua telapak kakinya. Sepatu flat itu tersenyum lalu menemani langkahnya keluar dari gerbong kereta. Stiletto yang telah melempar kakinya keluar hingga jauh darinya, terjauh, terpuruk, telah ia lupakan semenjak ia terbangun dari mimpinya. Ah, itu bukan sekedar mimpi. Itu benar-benar kenyataan buruk yang ingin ia buang jauh-jauh.

Selasa, 24 Februari 2015

Yudisium

Posted by nofi.hidayanti at Februari 24, 2015 0 comments
Oh, Tuhan. Sejuta terima kasih tak akan henti saya serukan untuk keagungan kuasamu. Saya benar-benar bahagia saat ini Tuhan. Saya bahagia atas setiap detik yang saya rasakan saat ini. Saya telah resmi dinyatakan menjadi seorang Sarjana Sastra. Oh, Tuhan.. Saya benar-benar bahagia. Saya bahagia sampai ingin mati rasanya. Sungguh Maha Romantisnya diriMu memberikan sejuta nikmat kebahagiaan ini. Tak ada lagi yang perlu aku dustakan. Momen ini benar-benar membuat saya ingin mencurahkan semua tangis bahagia. Saya berhasi; lulus dari tahapan kehidupan ini, bersama keempat sahabat saya yang lainnya. Oh, Tuhan. Saya benar-benar bahagia. NikmatMu benar-benar membuatku bahagia.
Oh, Tuhan, betapa inginnya saya menangis terharus dipelukMu ketika kaki saya perlahan bergerak maju ke arah Pak Dekan itu. Ia tersenyum, tanda kemenangan. Saya tak kalah tersenyum. Senyum saya berdiri antara senyum bahagia dan haru. Saya raih tangannya lalu mencium pundak tangan itu. Surat Keterangan Lulus dan Piagam Cumlaude itu sudah berada di tangan saya. Diucapkannya selamat kepada saya. Oh, Tuhan, saya benar-benar bahagia. Saya tak kalah terharu ketika Pak Dekan itu berpidato. Mungkinkah ini pidato terakhir darinya yang akan saya dengar? Akankah saya merindukan tawa renyah dan menggoda darinya itu? Juga setiap lelucon nyeleneh darinya? Oh, Tuhan, saya ingin menangis. Dia dengan bangga bercerita tentang mahasiswanya yang berhasil lulus tiga setengah tahun. Diantara mahasiswanya ada sekelompok mahasiswa yang sering ia panggil "The Bacin". Sekelompok mahasiswa gokil yang jadi mahasiswa bimbingannya. Ah, saya benar-benar ingin menangis saat itu. Inikah pertanda saya akan lekas pergi?
Oh, Tuhan, saya merasa benar terharu dengan semua nikmat bahagiaMu. Saya semakin terharu ketika menyadari, betapa dekat dan akrabnya kami dengan para dosen. Mereka sudah tidak asing lagi dengan nama genk kami "The Bacin". Mungkin yang lain akan tertawa mendengarnya. Tapi, saya justru merasa terharu, Tuhan. Akankah saya merindukan sapaan dari mereka dengan menggunakan nama itu? Adakah pertemuan selanjutnya untuk kami dengan mereka? Oh, Tuhan, saya merasa benar-benar bahagia saat ini.

Senin, 01 Desember 2014

Kisah Klasik Perempuan

Posted by nofi.hidayanti at Desember 01, 2014 0 comments
Saya baru saja meletakkan tas gendong penuh milik saya ke dipan ketika Ibu masuk terburu-buru. Ia sedikit berteriak ketika menyebut nama saya. Saya menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengiyakan semua celotehannya.
“Kenapa kamu suka sekali pulang terlambat? Cepat ganti bajumu. Makan habis sisa makanan di meja makan, lalu pergi cuci semua piring kotor. Ibu sudah tua, tak sanggup lagi mengurus rumah ini seorang diri. Satu bakul pakaian sudah ibu cuci. Tugasmu melanjutkan menjemurnya di halaman belakang”.
“Baik, bu.”
Tak lama kemudian, kakak tertua saya, Mas Andi, datang dengan pakaian lusuhnya. Wajahnya tampak ceria. Saya menduga-duga, dia baru saja bermain bola sepak di lapangan yang tak jauh dari sekolah. Apalagi seragam kotor karena tanah.
“Andi...Andi...Ayo lekas makan. Setelah ini bantu Bapak di ladang.”
“Baik bu.” Wajahnya terlalu ceria.

Sabtu, 01 November 2014

Tubuh 31 Tahun

Posted by nofi.hidayanti at November 01, 2014 0 comments
Mereka menyebut saya dengan nama Mira, kependekan dari “Mirror” katanya. Sepasang manusia yang hidup tanpa nama cinta itulah yang memberikan saya nama Mira. Kata mereka, kelak saya mencerminkan kecantikan  saya di ribuan cermin, membiarkan oranglain terpesona akan  saya. Konyol.
Mereka benar. Saya senang bercermin. Saya akan mengingat pandangan mereka yang menatap mesum ke arah saya setiap saya berjalan ke arah mereka. Mereka mungkin mengira saya masih dua puluhan. Padahal kini usia saya menginjak angka tiga puluh satu. Momok menakutkan bagi para wanita bila bertemu angka tersebut. Akankah saya tetap cantik? Bagaimana tubuh saya? Ah, manusia. Perempuan.
 

Nofi's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos