Selepas semua yang terjadi, kuharap sementara tak lagi bertemu denganmu.
Bukannya aku membencimu, atau berhasil meninggalkanmu.
Aku tak ingin kau tahu, masih sama rasaku padamu.
Ini bukan tentangmu.
Bukan pula salahmu.
Kamis, 06 Oktober 2016
Minggu, 25 September 2016
Sesakit Inikah?
Blog, bolehkah sebentar saja aku menulis? Mencurahkan perasaan yang sudah sesak di ujung detak jantung ini. Mencurahkan perasaan yang tak sanggup lagi kusimpan seorang diri. Hanya dengamu, maka dengarkan saja kumohon. Karena dimana lagi aku bisa menulis panjang lebar tanpa peduli apa kata orang lain?
Blog, sesakit inikah rasanya patah hati? Bagai semua luka yang pernah ada kembali mengingatkan sakitku. Mereka saling dorong mendorong menusuk satu-satunya harapan yang aku miliki. Harapan mencinta lalu dibalas mencinta. Harapan merindu juga dibalas dengan rindu. Harapan yang kini entah kemana lagi larinya. Hingga tak ada lagi selembar pun yang tersisa. Sesakit inikah rasanya patah hati? Entah aku yang bodoh, atau aku yang angkuh. Atau setengah bodoh, lalu setengah angkuh. Terus saja aku bertahan menyukainya dan menutup mata akan luka yang bisa saja hadir. Percaya bahwa bersabar mungkin adalah kunci untuk membuka hatinya. Terus bertahan menyayanginya dan menutup mata bahwa ternyata bukan aku isi doanya. Percaya bahwa rasa tulusku mungkin suatu saat dilirik olehnya. Tersenyum untuknya, meski ribuan pertanyaan terus menghantuiku.
Categories
Sajak-sajak
Sabtu, 24 September 2016
Tetaplah Di Situ
Tunggu sebentar, diam di situ. Aku sedang menulis kalimat pertama yang harus kusampaikan. Haruskah tentang kisah betapa ku menyukaimu? Atau tentang sulitnya berpisah? Tunggu sebentar, diam di situ. Aku akan menulis kalimat pertama, yang tak bisa kulakukan.....
Cukupkan tentang kamu.
Itu kata-kata yang selalu otakku teriakkan kepada hatiku. Karena nyatanya kita tidak pernah lebih dari teman. Tapi mengapa rasanya berat sekali baginya? Untuk sekedar mendengar nasehat otak. Untuk sekedar meredakan kecemasannya. Untuk sekedar melupakan sedikit ketakutannya.
Cukupkan tentang kamu. Sederhana, tapi mengapa rasanya tak bisa kulakukan? Sulit ku berhenti. Sulit ku membenci. Sulit ku melupakan.
Categories
Sajak-sajak
Jumat, 23 September 2016
Lensa Kotak (Konsep)
Lensa Kontak
Apakah kenyamanan perlu dilihat? Tak bisakah kita merasakannya dengan hati saja; jangan biarkan ada tatapan tajam di antara kita. Jangan pernah biarkan. Cukupkan saja dengan hati. Jangan biarkan matamu yang berbicara.
Saya hampir meloncat ketika alarm mengelus telingaku kasar. Kapan ia akan berhenti melakukan hal itu? Saya muak mendengarnya celoteh tentang sudah jam berapa ini, sampai kapan saya akan bermimpi dan menelenjangi guling kumel di kasur ini? Dan saya sumpel mulutnya lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Cermin besar yang kokoh di tembok itu seakan meledek si mata sayu. Ia berkata lantang, pria kaya mana yang mau menatap mata sayu seperti itu? Lalu mata itu membalas, "kau tunggu saja, cermin sejelek dirimu akan kuganti dengan cermin bertatahkan emas hasil jerih payah malam ini". Saya biarkan air dingin itu membasahi seluruh wajah, lalu berlanjut hingga seluruh tubuh. Tak bisa saya buang waktu lebih banyak. Itu adalah sisa-sisa harta yang saya miliki. Semenit kemudian saya bergegas berpakaian. Duduk, menyapa kotak makeup besar berwarna merah maroon itu. Saya siapkan sepasang lensa kontak berwarna cokelat tua itu. Yang semakin cokelat di tengahnya. Yang semakin tua dipinggirnya. Yang semakin perih, perih, dan perih ketika saya gunakan. Oh Tuhan, tak bisakah kau berikan saja saya mata normal? Muak aku dengan sepasang alat penyiksa ini. Atau... Oh Tuhan, tak bisakah kau berikan saja saya segepok uang? Biar saya suntik kedua mata minus ini. Saya mencoba menahan nafas dalam hingga hilang semua pedih itu. Lalu bergegas pergi.
Malam ini, saya harus tahan nafas lebih dalam. Asap rokok juga dinginnya hembusan pendingin ruangan, secara bersamaan telah menjadi racun bagi kedua mata saya. Seperti tak ada gunanya lagi sepasang kontak lensa ini. Tak ada yang bisa saya lihat. Tak ada yang bisa saya saksikan. Hanya asap yang semakin membuat ruangan itu sesak. Ah, benar-benar tak ada gunanya lagi sepasang kontak lensa ini.
Rabu, 07 September 2016
Jatuh Sejatuh Jatuhnya
Kita semua pernah dibuat jatuh karena cinta, mencinta, dan dicinta oleh seseorang yang tak pernah diduga. Rasanya bagai jutaan doa dijawab Tuhan dalam satu kata. Cinta. Kita semua pernah dibuat jatuh sejatuhnya dan rela semakin jauh jatuh karenanya. Hingga tak lagi kau lihat luka. Bagimu hanya ada dia. Kita semua pernah dibuat lepas tertawa dan tersenyum bahagia, tak memandang lagi derita. Bagimu benar-benar hanya ada dia.
Jatuh karena cintanya, adalah jatuh sejatuhnya yang tak melukaiku. Karena tak lagi kutemukan dimana kesedihan di musim lalu. Karena tak ingin lagi kubuka kisah yang telah melaluiku. Jatuh karena mencintainya, adalah jatuh sejatuhnya yang ingin terus kualami. Karena tak mampu aku menahan ribuan kupu-kupu memenuhi dada ini. Sesak karena mereka terus menahanku untuk tidak pergi.
Categories
Fiksi,
Sajak-sajak
Langganan:
Postingan (Atom)

