Akhir cerita yang dramatis. Bahkan aku ragu kapan telah memulainya. Luka yang seharusnya tidak pernah ada. Ya bila saja aku sedikit percaya pada kenyataan, bukan dunia dongeng. Luka itu, ia terbaring nyata dan abadi disana tanpa nama. Diantara puing harapan yang tiap detik aku rangkai dan hancur begitu saja. Ketika aku sadar akan perihnya, hujan pun datang. Bersama kiamat kecil disanubari ini. Semua menambah goresan kisah yang entah dimana akhir sebenarnya. Aku bersimpuh.... semoga hujan membawa pergi luka tanpa nama ini. Semoga jarak diantara kami mampu mengalihkan ingatanku. Atau musim menguburkan tawa dan candanya dibagian bumi yang terdalam.
Kukira semua ini berhasil. Satu bulan, sudah satu bulan kata perpisahan itu terucap darinya. Oke... entah perpisahan dalam konteks seperti apa, yang jelas kurasakan tak ada lagi ucapan selamat pagi darinya. Kembali, satu bulan, aku kira aku mampu. Tapi ternyata aku sedang membohongi diriku. Selalu seperti itu sepertinya. Ketika beberapa sosok hadir menawarkan kisah baru, aku masih saja memimpikannya.
Kisah-lama-yang-harusnya-kutinggalkan.




