Setiap kali mendengar namanya, atau melihatnya melintas di timeline twitter, facebook, instagram, atau social network lainnya, rasanya hatiku terasa sakit. Aku merindukannya. Perasaan yang tidak akan pernah bisa kujelaskan. Karena memang semua ini memang tidak pernah cukup logis untuk diutarakan. Bagaimana bisa kamu merindukan seseorang yang bahkan sampai detik ini belum pernah kau temui? Tapi saat aku membaca teks tawa atau senyum darinya membuatku tenang sekali. Together... i wanna like this everythime. I wanna make him happy, however without me...
Ketika masaku dirumah hampir menemui batas, aku ingin sekali mendapatkan satu kesempatan bertemu. Tapi ternyata hingga kini semua itu hanya mimpi. Ya benar, ia benar-benar seperti mimpi yang takkan pernah menjadi nyata. Terlalu indah. Terlalu jauh aku bermimpi dan berharap. Setiap detik aku memikirkannya, setiap detik itu pula tercipta surat untuknya. Surat yang tak terkirim. Surat yang tak pernah sampai pada tujuannya.
Aku tak tahu harus memulai darimana? Apakah dari perasaanku padamu? Kekecewaanku? Tangisku? Rasanya semua ini menjadi semakin sia-sia saja. Aku selalu menunggu kapan pada akhirnya kita akan bertemu? Pertanyaan sederhana ini menjadi penting dan amat bermakna. Pertanyaan yang selalu dan selalu terlontar dalam pikirku. Tak banyak waktu yang kumiliki, tidakkah kau ingin bertemu? Sedetik saja? Tidakkah ada rasa penasaran dalam dirimu akan diriku? Bahkan ketika hari ini aku berusaha keras untuk mengacuhkanmu, kau tak juga menyadarinya. Atau mungkin memang selama ini aku tak pernah ada dalam ingatanmu?
Pesan ini kutulis seminggu menjelang kepergianku kembali ke Purwokerto. Setiap hari aku risau menunggu hari final itu. Detik akhir. Ya benar, aku masih menunggunya hingga detik terakhir. Rasanya memang sakit menahan rasa ingin jumpa. Tapi.... aku tak pernah bisa membuat pemikirannya berubah. Ku tau ada alasan dibalik semua ini. Entah apa... entah bagaimana....
Hai... Sudah lama, entah semenjak kapan aku ingin punya kesempatan ini. Aku rasa kamu tahu dan cukup sadar akan perasaanku padamu. Dan aku sudah tak ingin membohongi perasaanku lagi. Aku mau mencoba jujur. Hampir 4 bulan kita bersama, saling mengenal, berbagi, dan tertawa, meski itu semua hanya sebatas teks. Aku tak tahu perasaan macam apa yang kusimpan untukmu saat ini. Aku nyaman berbagi cerita denganmu. Dan bila kamu tak ada, aku merasa ada yang hilang. Rasanya sakit dan buruk sekali saat mengetahui kamu terluka. Aku selalu ingin tahu bagaimana kabarmu hari ini. Apa ini yang dinamakan suka? Sayang? Atau cinta? Memang aneh. Padahal aku belum pernah melihat wajahmu, mendengar tawamu, dan menyentuh hangat ragamu. Kamu selalu bungkam. Kamu tak pernah mengungkapkan bagaimana perasaanmu sendiri. Sedikit saja. Tapi aku juga tak ingin memaksamu berbicara. Mungkin kamu memiliki alasan dibalik bungkammu. Atau mungkin memang lebih baik seperti ini. Aku rasa kalimat-kalimat ini sudah mewakili semua. Mungkin seharusnya aku katakan semua ini secara langsung. Tapi memang lebih mudah seperti ini. Terimakasih untuk semuanya ya. Terimakasih sudah membiarkan aku bicara jujur:) dan kamu bisa menganggap kalau kamu tak tahu semua ini. Ya anggap saja begitu. Aku pun tak berharap akan ada balas dari ini. Rasanya aku cukup tau apa jawabannya. Semua ini kukatakan sebatas membuat perasaanku nyaman. Setidaknya aku masih memiliki kesempatan berbicara betapa berharganya kamu bagiku. And.... should I say I love you? :")
Surat ini seharusnya dikirim jauh sebelum saat ini tiba. Perpisahan yang disepakati. Rasanya memang sakit menyudahi sesuatu yang sebenarnya belum kamu mulai dengan baik. I should tell you what you meant to me. Bahwa aku sayang semua hal tentang dirimu. Seharusnya ada kesempatanku berkata sedikit tentang perasaanku. Ya... tapi itulah. Surat-surat-yang-tak-terkirim. Atau seharusnya... surat-surat-yang-tak-terbalas.


0 comments:
Posting Komentar